Taat Asas, PWNU Jatim Gelar Konferwil Tepat Waktu

PEMBUKAAN KONFERWIL: Pembukaan Konferwil PWNU Jatim di Lirboyo Kediri, Sabtu (28/7) malam, dihadiri Ketum PBNU, para masyayikh hingga ketua partai politik. | Foto: Barometerjatim.com/RETNA MAHYA
PEMBUKAAN KONFERWIL: Pembukaan Konferwil PWNU Jatim di Lirboyo, Kediri, Sabtu (28/7) malam, dihadiri Ketum PBNU hingga ketua partai politik. | Foto: Barometerjatim.com/RETNA MAHYA

KEDIRI, Barometerjatim.com – Ketua PWNU Jatim, KH Hasan Mutawakkil Alallah tipe pemimpin yang taat asas. Meski sejumlah pihak memintanya agar mengajukan permohonan penundaan ke PBNU, dia bergeming. Memilih tetap menggelar Konferwil tepat waktu.

“Kenapa saya minta Konferwil tepat waktu? Karena kita harus taat asas,” katanya saat pembukaan Konferwil PWNU Jatim di Ponpes Lirboyo, Kediri, yang dibuka Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj, Sabtu (28/7) malam.

“Kita harus istiqomah, displin dalam berorganisasi, agar roda organisasi berjalan dinamis dan tertib, serta bisa menjadi uswah (contoh) bagi cabang-cabang,” tandasnya.

• Baca: Pembukaan Konferwil, Kiai Mutawakkil Pamit Tak Maju Lagi

Pengasuh Ponpes Zainul Hasan Genggong, Probolinggo, itu lantas menuturkan tak terasa kalau sudah 10 tahun dirinya berkhidmat di PWNU Jatim. Pada periode pertama (2008-2013) dia melanjutkan kepemimpinan Ali Maschan Moesa yang maju di Pilgub Jatim 2008.

Saat itu, Kiai Mutawakkil merasa sangat berat ketika diberi diperintah para masyayikh dan ulama, para mustasyar dan syuriyah, terutama Kiai Abdullah Faqih (Langitan, Tuban) dan Kiai Anwar Manshur (Lirboyo, Kediri).

“Karena pada saat itu juga, saya sedang belajar untuk menjalankan amanah dari mbah saya, ayah saya, untuk mengasuh pesantren Zainul Hasan, ngeladeni putra-putri umat di sana,” ucapnya.

• Baca: Kiai Mutawakkil: Saya Tidak Punya Ambisi, Naudzubillah!

Tapi karena perintah guru dari masyayikh yang dilihatnya sangat murni dan tulus keluar dari hati sanubari, maka dia tidak kuasa menolak. Kepemimpinan Kiai Mutawakkil pun berlanjut hingga periode kedua (2013-2018).

Sesuai SK PBNU, masa khidmat kepengurusan PWNU Jatim periode 2013-2018 berakhir pada 30 Juli 2018. Hal itu didasarkan pada hasil Konferwil sebelumnya di Ponpes Progresif Bumi Sholawat, Sidoarjo, 2 Juni 2013.

Alhamdulillah semua pengurus siap dan rais syuriyah menyetujui. Akhirnya melalu istikharah dan istisyarah dan hasil rapat gabungan, serta arahan dan ridha rais syuriyah, Konferwil ditetapkan di Ponpes sepuh di nusantara ini, Ponpes Lirboyo,” jelasnya.