Sinergi dengan OPOP, Baguss Bangkitkan Ekonomi Pesantren!

EKONOMI PESANTREN: KH Fahmi Amrullah Hadzik, waktunya untuk bangkit menghidupkan ekonomi pesantren. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
EKONOMI PESANTREN: KH Fahmi Amrullah Hadzik, waktunya untuk bangkit menghidupkan ekonomi pesantren. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

SURABAYA, Barometerjatim.com – Barisan Gus dan Santri (Baguss) bertekad membangkitkan ekonomi pesantren. Langkah awal, mereka melakukan silaturahim sekaligus menggelar saresehan terkait kemandirian pesantren dan penguatan ekonomi di Hotel Pesonna Surabaya, Sabtu (10/4/2021).

Dua narasumber dihadirkan dalam saresehan, yakni Direktur Pasca Universitas Islam Malang (Unisma) Prof Dr M Mas’ud Said dan Rektor Universitas Nurul Jadid (Unuja) Probolinggo, KH Abdul Hamid Wahid.

Ketua Umum DPP Baguss, KH Fahmi Amrullah Hadzik menuturkan, saresehan digelar untuk mengenalkan peluang dan potensi-potensi ekonomi yang bisa diraih kalangan pesantren.

“Karena selama ini potensi ekonomi tidak begitu tergali. Maka kita sudah mulai waktunya untuk bangkit menghidupkan ekonomi umat, ekonomi pesantren, dengan berbagai macam produk,” katanya.

Produk tersebut, papar Kiai Fahmi, di antaranya kopi, makanan, sembako, jasa, dan sebagainya. “Ini insyaallah moga-moga ke depan kita bisa melaksanakan itu semua,” harapnya.

Apakah upaya ini disinergikan dengan program Pemprov Jatim, yakni One Pesantren One Product (OPOP)? “Ya, ini memang salah satunya karena ada kesempatan, ada peluang dari Pemprov yaitu OPOP. Jadi kita harapkan nanti itu betul-betul kita manfaatkan potensi tersebut,” paparnnya.

Sementara itu Prof Mas’ud menuturkan, pesantren punya sejarah panjang, baik itu sejarah keilmuan, kebudayaan, maupun networking.

“Dan produk-produk pesantren itu sekarang sangat banyak dan nyambung dengan kebijakan Gubernur Jatim, OPOP,” katanya.

Halal Culture-Halal Industry

SARESEHAN: Baguss gelar saresehan terkait kemandirian pesantren dan penguatan ekonomi. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
SARESEHAN: Baguss gelar saresehan terkait kemandirian pesantren dan penguatan ekonomi. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

Menurut Prof Mas’ud, selain memenuhi kebutuhan sendiri lewat produk yang dihasilkan, pesantren bisa mengambil peran halal culture maupun halal industry.

Sebab menurut penelitian, kata Prof Mas’ud, negara-negara seperti Jepang, Brazil, Korea, ternyata lebih menyukai industri makanan halal karena lebih bersih dan sehat.

“Dan biidznillah (atas izin Allah) produk-produk halal itu sekarang menjadi tren dunia. Jadi halal culture namanya,” kata Prof Mas’ud yang pernah menjabat sebagai Staf Khusus Mensos bidang Program Kerja dan SDM pada periode pertama pemerintahan Presiden Joko Widodo.

“Jadi kita menuju ke halal culture. Pesantren melalui Baguss itu dikuatkan untuk mendukung, memproduksi, dan menjadi pemain di dalam halal culture dan halal industry,” tandasnya.

Apalagi, kata Prof Mas’ud, bicara halal ya pesantren mengingat fiqih muatannya soal halal dan haram. Begitu pula bicara khoir, mubah, makruh, ya pesantren.

“Jadi industri halal harus dimulai dari hidup halal, rezeki halal, kemudian bekerja halal, bersosialisasi harus halal semua. Di situlah nanti Indonesia menjadi baldatun thoyibatun warobbun ghofur,” tuntasnya.

» Baca Berita Terkait OPOP