Sekjen JKSN: Mayoritas Warga Muslimat NU Ikuti Jari Khofifah

Khofifah, jarinya akan diikuti mayoritas warga Muslimat NU. | Foto: Barometerjatim.com/marjan ap

JAKARTA, Barometerjatim.com – Ribut-ribut foto beberapa anggota Muslimat NU yang berpose dengan salam dua jari, ada yang melambangkan “victory” serta “jempol telunjuk” salam khas Prabowo-Sandiaga, ditanggapi santai oleh Sekjen Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) KH Zahrul Azhar As’ad.

Menurut kiai muda yang akrab disapa Gus Hans itu, wajar saja kalau dari 100 ribu lebih jamaah ada yang anomali. Apalagi acara Muslimat NU di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) bukan acara politik, tapi Harlah dan Maulidurrasul.

“Ya namanya ratusan ribu orang. Wajar-wajar saja kalau ada satu dua orang yang tidak sepemikiran, tidak searah dengan mayoritas. Tapi yang mayoritas insyaallah akan mengikuti jari ketua umumnya (Khofifah Indar Parawansa),” katanya pada Barometerjatim.com di Jakarta, Senin (28/1).

Justru, menurut Gus Hans, Muslimat NU patut berterima kasih pada pihak-pihak yang telah ‘memarketingi’ kegiatan Muslimat NU pada zona yang selama ini ‘mental block’ terhadap kegiatan berbau Muslimat NU dan NU pada umumnya.

“Bisa jadi ini adalah cara Allah Swt untuk mensyiarkan kebesaran jamiyah Muslimat NU, yang berhasil mengumpulkan ratusan ribu orang tanpa cacian dan ujaran kebencian kepada semua pihak,” paparnya.

Dari pantauan Barometerjatim.com di tribun GBK, warga Muslimat NU yang berpose dengan dua jari (victory) — bukan jempol telunjuk — bisa jadi justru simbol dukungan untuk Jokowi-Ma’ruf Amin, karena mereka menyertainya dengan teriakan “dua periode” saat Khofifah maupun Jokowi berpidato.

Acara Nan Cantik

Jempol! Warga Muslimat NU acungkan jempol menyambut pidato Khofifah. | Foto: Barometerjatim.com/marjan ap

Di sisi lain, Gus Hans melihat Khofifah sukses membawa Muslimat NU pada posisi yang elegan. “Officially, acara kemarin betul-betul cantik,” tandas pengasuh Ponpes Queen Al Azhar Darul Ulum Jombang itu.

Soal pilihan politik dari pengurusnya di Pilpres 2019, lanjut Gus Hans, “Saya yakin memiliki kesamaan di dalam pola pikir yang disampaikan Ibu Ketum, tetapi tidak perlu membawa organisasi secara resmi.”

Karena itu, tandas Gus Hans, di sinilah pentingnya kehadiran JKSN yang berupaya mengagregasi kepentingan Nahdliyin (warga NU) dan Muslimat NU tanpa harus melibatkan institusi.

“Saya anggap acara Harlah tersebut sangat berhasil, karena tanpa ada ucapan yang verbal dan vulgar terhadap kaitannya dengan Capres-Cawapres,” tuntas Gus Hans.•

» Baca Berita Terkait Khofifah, Muslimat NU