Rupiah Masih Terkapar, Jokowi Enggan Mengulang Komentar

KUNJUNGAN KE SURABAYA: Presiden Jokowi usai penyerahan 5.000 sertifikat tanah di JX International, Surabaya, Kamis (6/9). | Foto: Barometerjatim.com/NANTHA LINTANG
KUNJUNGAN KE SURABAYA: Presiden Jokowi usai penyerahan 5.000 sertifikat tanah di JX International, Surabaya, Kamis (6/9). | Foto: Barometerjatim.com/NANTHA LINTANG

SURABAYA, Barometerjatim.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus melemah, bahkan nyaris menyentuh Rp 15.000 per dolar AS. Ditanya soal rupiah yang masih ‘terkapar’, Presiden Joko Widodo (Jokowi) enggan mengulang-ulang komentar.

“Itu sudah saya sampaikan ya, semua sudah saya sampaikan. Gak usah diulang-ulang,” elak Jokowi singkat usai menghadiri penyerahan 5.000 sertifikat tanah di JX International, Jalan A Yani, Surabaya, Kamis (6/9).

Sehari sebelumnya, dalam kunjungan di Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jokowi menegaskan pelemahan nilai tukar terhadap dolar AS bukan hanya terjadi terhadap rupiah saja, tetapi juga mata uang negara lain.

• Baca: Suciwati Nilai Prabowo-Jokowi Sama Kelamnya soal HAM

Menurut Jokowi, pelemahan rupiah saat ini lebih disebabkan sentimen eksternal, seperti kenaikan suku bunga The Fed, perang dagang antara China dan AS, hingga krisis yang melanda Turki serta Argentina.

“Ini faktor eksternal yang bertubi-tubi. Saya kira yang paling penting kita harus waspada, kita harus hati-hati,” ujar Jokowi.

Sementara data Bloomberg Kamis pagi menyebut, rupiah dibuka di level Rp 14.875 per dolar AS atau menguat dibanding penutupan perdagangan kemarin yang sempat menyentuh Rp 14.938 per dolar AS. Namun usai pembukaan, rupiah kembali melemah tipis ke level Rp 14.890 per dolar AS.

• Baca: Demokrat Tak Gesit! Wajar Andai Pakde Karwo Pilih Jokowi

President ASEAN International Advocacy, Shanti Ramchand Shamdasani memprediksi, nilai tukar rupiah baru akan stabil di kisaran Rp 14.700 per dolar AS akhir tahun ini.

Hal itu didorong oleh konsumsi dalam negeri yang meningkat saat dimulainya kampanye Pilpres 2019, libur Natal dan Tahun Baru.

Dengan adanya peningkatan konsumsi, kata Shanti, maka jumlah uang yang beredar di masyarakat dan sektor riil akan semakin banyak. Sehingga akan membuat nilai tukar rupiah lebih stabil.

• Baca: Soekarwo Ikut Pilihan Khofifah: Dukung Jokowi Dua Periode

“Di akhir tahun akan stabil Rp 14.700, paling tinggi Rp 15.000. Alasannya akan ada spending, ada suntikan dana yang bantu ekonomi riil,” kata Shanti.

“Kampanye sudah mulai, itu jalan semua, spanduk, steker, kaos. Paling tidak, kita bisa berharap di situ uang berputar. Kan yang kita inginkan ini adanya perputaran uang,” tambahnya.