Rangkul Risma dan Gus Ipul, Bukti Khofifah Tak Baperan!

Tak baperan! Khofifah usai menerima silaturahim Gus Ipul. | Foto: Barometerjatim.com/roy hasibuan
Tak baperan! Khofifah usai menerima silaturahim Gus Ipul. | Foto: Barometerjatim.com/roy hasibuan

SURABAYA, Barometerjatim.com – Hari ini, Rabu (13/2/2019), Khofifah Indar Parawansa dilantik menjadi gubernur 2019-2024. Sebelum dilantik, Khofifah telah memulai hubungan yang baik dengan menunjukkan kedewasaanya dalam politik, terutama kepada mereka yang berseberangan saat kontestasi.

“Saya pikir apa yang diikhtiarkan Bu Khofifah itu layak diapresiasi dan menunjukkan kedewasaan berpolitik beliau,” ungkap Pengamat Politik Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Surochim Abdussalam, Selasa (12/1).

Seperti diketahui, Minggu (10/2/2019), perempuan yang juga ketua umum PP Muslimat NU itu bertemu dengan Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini (Risma) di sebuah rumah makan.

Dilanjut melakukan pertemuan dengan anggota DPRD Jatim, dan ditutup dengan menerima kunjungan Saifullah Yusuf (Gus Ipul), mantan rivalnya di Pilgub Jatim 2018.

Pertemuan di kediaman Khofifah di kawasan Jemursari Surabaya berlangsung sangat akrab dan hangat. Gus Ipul bahkan dijamu dengan durian asal Wonosalam, Kabupaten Jombang.

“(Pertemuan dengan Gus Ipul) menurunkan tensi dan akan ada multieffect untuk Bu Khofifah. Bagaimanapun di belakang gus Ipul ada kiai sepuh Jatim dan struktural NU yang kuat. Bu Khofifah cerdas memainkan peran menjelang pelantikan,” terangnya.

Sedangkan pertemuan dengan Risma dilakukan di salah satu rumah makan di Surabaya. Pertemuan ini juga berlangsung gayeng, seakan Khofifah telah melupakan kata “keminter” yang dilontarkan Risma yang di Pilgub Jatim mendukung pasangan Gus Ipul-Puti Guntur Soekarno.

Surochim menambahkan, politik tingkat tinggi untuk panggung depan, sudah seharusnya seperti itu karena untuk kebaikan ke depan. “Itu juga memperlihatkan kalau Bu Khofifah tidak baperan (terbawa perasaanan), masih rasional dan objektif,” tambah Surochim.

“Bagi saya itu langkah maju. Biasanya ibu-ibu itu lama kalau konflik terbuka. Dengan silaturahim ini saya pikir strategis, karena Jatim ibu kota dan titik nolnya ada di Surabaya,” katanya.

“Malah enggak lucu kalau tidak akur. Akan rugi kedua belah pihak, apalagi publik juga tahu kedua pemimpin ini potensial jadi pemimpin masa depan. Kebesaran hati ini akan mendapat respek dari masyarakat.”

Bagi Surochim, sukses kepemimpinan modern saat ini akan sangat bergantung pada kemampuan membangun jejaring dan kolaborasi. Apalagi Jatim, masyarakatnya respek pada hal yang harmonis dan tidak suka konfliktual.

Modal 99 Hari Kerja

Peneliti Senior Surabaya Survey Center (SSC) itu melanjutkan, hal tersebut menjadi bekal kepemimpinan bagus di Jatim. Semakin banyak membuka komunikasi yang macet dengan pihak yang berseberangan akan jadi nilai plus bagi Khofifah.

“Ilmu merangkul ini juga yang dipraktikkan Pakde Karwo (Soekarwo) dan bisa membuat Jatim adem kondusif serta stabil. Saya pikir modal ini penting bagi siapapun yang menjadi gubernur Jatim,” katanya.

Dengan merangkul, tandas Surochim, lawan menjadi respek dan berkawan hingga bisa saling menguatkan. “Itu bagus untuk modal awal menjelang 99 hari kepemimpinan Khofifah-Emil,” pungkasnya.•

» Baca Berita Terkait Khofifah, Gus Ipul, Risma