Perkokoh Ekonomi, Emil: Beri Pemuda Ruang di Pemerintahan

DIALOG PEMUDA: Emil Dardak bersama pemuda usai dialog di Rumah Makan Wagu (Warung Gunung) Kediri, Minggu (10/6). | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
DIALOG PEMUDA: Emil Dardak bersama pemuda usai dialog di Rumah Makan Wagu (Warung Gunung) Kediri, Minggu (10/6). | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

KEDIRI, Barometerjatim.com – Cawagub Jatim nomor urut satu, Emil Elestianto kembali menekankan pentingnya peran pemuda dalam pembangunan ekonomi di Jatim. Karena itu, selain dituntut kreatif, pemuda harus diberi ruang, termasuk di pemerintahan.

“Pemuda memiliki segudang ide yang perlu dukungan pemerintah, dan untuk bisa memahami ide-ide ini tentunya perlu wakil pemuda dalam pemerintahan,” kata Emil dalam acara Dialog Pemuda di Rumah Makan Wagu (Warung Gunung) Kediri, Minggu (10/6).

Menurut Emil, sudah tidak jamannya menggantungkan pekerjaan dari perkantoran, mencari pekerjaan dengan menenteng lamaran dari kantor satu ke kantor lainnya. Sebab, lapangan pekerjaan saat ini lebih pada professional freelance.

• Baca: Kikis Kesenjangan, Emil: Bangun Ekonomi dari Segala Penjuru

Freelance bukannya pekerjaan serabutan, melainkan mempertajam talenta seseorang dengan dimentori oleh orang yang sudah profesional untuk mencari klien melalui millennials job center (MJC),” paparnya.

Awalnya, tambah Emil, jangan tendensi mencari uang, melainkan pengalaman dengan  mempertajam dan memperkaya kemampuan. “Dengan berbagai testimoni kepuasan klien, tentunya penghasilan akan mengalir dengan sendirinya,” ujarnya.

• Baca: Perkuat Visi Kelautan, Emil Berbecek-becek di TPI Prigi

Selain MJC, bupati (non aktif) Trenggalek ini juga memperkenalkan konsep communal branding. “Dengan memenuhi standar kualitas, masyarakat dapat membuat produk bersama yang difasilitasi pemerintah,” tutur suami Arumi Bachsin itu.

Dia lantas menceritakan satu merk dagang batik “Trenggalih” hasil perajin Trenggalek yang mampu bersaing di sejumlah mal di Jakarta, termasuk di Sarinah Plaza. Hal ini membuat batik asal Trenggalek sejajar beberapa batik terkenal lainnya,  yang sebelumnya tak pernah terpikirkan para perajin batik.

Respons Tak Asal

Sementara menanggapi pertanyaan terkait gelombang dukungan dari kalangan milenial kepadanya, Emil yang juga menjabat co-President UCLG Aspac (Asosiasi Pemerintah Daerah se-Asia Pasifik) itu menuturkan, kalangan muda memberikan respon bukan karena asal.

“Memang kita berangkat dari generasi milenial, namun tak lantas mereka otomatis memberikan dukungan. Mereka pasti melihat dulu ada embel-embel apa, apakah karena prestasi ataukah mengenai hal yang lain,” kata Emil.

• Baca: Bukan Janji! Emil Sudah Mulai Kembangkan Kawasan Selatan

Namun kawula muda, lanjut Emil, sangat kritis melihat rekam jejak atau apa yang ditawarkan calon sebelum memberikan dukungannya.

“Tadi juga ditanyakan kampanye hitam mengenai millenial job center yang salah alamat. Mereka menyebut ini sudah dimulai di Trenggalek dan hasilnya gagal, padahal millenial job center ide segar dan baru,” katanya.