Pedagang Pasar Turi: Bu Risma, Tolong Pikirkan Kami!

TAK DIMINATI PENGUNJUNG: Pasar Turi Baru, hingga kini kondisinya masih sepi pengunjung. Akibatnya banyak pedagang penyewa stan enggan menempati. | Foto: IST
TAK DIMINATI PENGUNJUNG: Konflik tak berujung membuat Pasar Turi Baru hingga kini kondisinya sepi pengunjung. Pedagang pun mulai banyak yang meninggalkan stan. | Foto: IST

Kemelut Pasar Turi tak berujung. Pengembang dan Pemkot tak lelah bergelut di meja hukum. Bertahun-tahun nasib pedagang tetap terkatung-katung.

DJANIADI Hadi Sadikin hanyalah pedagang. Dia tak fasih bicara hukum. Begitu pula pedagang lainnya, pembeli stan di Pasar Turi Baru. Mereka hanya merasa menjadi korban dari kemelut bertahun-tahun Pasar Turi, terkait administrasi revitalisasi pasar yang tak kunjung usai.

Pedagang hanya bisa meminta para pihak yang bersengketa secara hukum, baik pengembang dan Pemkot Surabaya atau pihak lain, agar lebih mengedepankan semangat untuk menghidupkan pasar legendaris tersbut.

“Kalau betul sayang sama rakyat, tolong buktikan pikirkan kami. Jangan menang-menangan urusan hukum. Tolong Pemkot turun tangan, kasihani kami,” pinta Djaniadi, pedagang Pasar Turi Lama yang menempati stan Pasar Turi Baru, Rabu (22/8).

• Baca: Gizi Buruk ‘Hantui’ Kota yang Dipimpin Risma

Djaniadi menuturkan, hingga kini para pedagang belum juga mendapatkan sertifikat. “Juga infonya izin operasional dari Pemkot Surabaya belum keluar,” kata pria yang akrab disapa Kho Ping itu.

Dia mengaku sangat resah, lantaran nasibnya dan pedagang lain seolah dibiarkan menggantung. Keresahan semakin menjadi-jadi, setelah melihat pengunjung dan pembeli pasca pembangunan gedung baru tak seramai sebelumnya.

Salah satu penyebab, nilai Djaniadi, pasar baru belum difungsikan maksimal lantaran sebagian pedagang masih menempati TPS (Tempat Penampungan Sementara).

• Baca: Dipenjara, Investor Pasar Turi Dinilai Korban Kriminalisasi

“Bayangkan saja ini ada yang mengisi stan di dalam, tapi ada juga yang tetap bertahan di TPS. Padahal gedungnya sudah selesai dibangun,” ujarnya.

Semestinya, lanjut Djaniadi, TPS tersebut harus dibongkar karena stan permanen di gedung Pasar Turi Baru sudah tersedia. Tidak dibongkarnya TPS, menurutnya, menunjukkan tidak adanya komitmen dan keberpihakan Pemkot untuk menjadikan Pasar Turi sebagai pusat aktivitas perekonomian.

• Baca: Cak Anam: Layanan Publik Pemkot Surabaya Jelek Sekali!

“Ini kan sudah selesai serah terima. Kami juga sudah lunasi semua administrasinya. Yang kami minta agar kami diperhatikan, pasar ini kembali ramai dan perekonomian hidup,” ungkapnya.

Tapi bagi pedagang yang masih bertahan di TPS, mereka juga punya alasan sendiri mengapa enggan pindah ke stan di Pasar Turi Baru. Ini pula yang membuat kemelut Pasar Turi berlarut-larut hingga kini.

Sebagian Pilih Bertahan

MEMILIH BERTAHAN: TPS pedagang Pasar Turi Lama. Ratusan pedagang masih memilih bertahan di tempat ini akibat kemelut berlarut. | Foto: IST
MEMILIH BERTAHAN: TPS pedagang Pasar Turi Lama. Ratusan pedagang masih memilih bertahan di tempat ini akibat kemelut yang berlarut. | Foto: IST

Sebagai pedagang, ucap Djaniadi, dia menegaskan tidak mau ikut campur konflik antara Pemkot Surabaya dan pengembang Pasar Turi maupun pihak lain yang terlibat.

Pedagang hanya menginginkan perhatian dari pemerintah dan pengelola pasar,  agar pedagang bisa berjualan dengan tenang, nyaman dan dagangan diminati banyak pengunjung.

“Masalah itu (konflik) bukan urusan kami, itu urusan beliau-beliau itulah. Silakan selesaikan secepatnya agar kami tidak terombang-ambing begini,” katanya.

• Baca: Kejati Jatim Kesulitan Sita Aset Kolam Renang Brantas

Hal senada disampaikan pedagang lainnya, Mas’ud. Dia merasa pengunjung relatif sepi sejak Pasar Turi Baru dibuka tiga tahun lalu. Bahkan pengunjung di stan lebih sepi dibanding pengunjung di TPS. Dia pun tidak mengerti harus berbuat apa agar pengunjung kembali ramai.

“Sebenarnya banyak yang sudah punya stan tapi tak mau jualan. Makanya banyak tutup ini, kosong. Malah ada yang jualan di luar, tidak mau ke sini,” keluhnya.

Menurut Mas’ud, hingga kini masih ada 200-an pedagang yang memilih bertahan di TPS. “Kami ingin seperti dulu, walaupun bersaing tapi tetap bersatu. Sedih rasanya, ikut diseret-seret kepentingan segelintir orang,” tandasnya.

• Baca: Paripurna Ganti Nama Jalan, Dua Politisi Nasdem Walk Out

Dia juga sangat menyayangkan sikap Pemkot Surabaya, yang berlarut-larut menyerahkan administrasi Pasar Turi kepada perusahaan pengembang sebagaimana penjanjian awal.

“Tapi terlepas dari itu, kepada Ibu Risma (Tri Rismaharini, wali kota Surabaya) tolonglah kami! Hidupkan kembali Pasar Turi ini, ditata dan ditertibkan, karena kami menghidupi keluarga dari sini,” pintanya.