Senin, 04 Juli 2022
Barometer Jatim
Cloud Hosting Indonesia

Ngeludruk! Ceritakan Asal Muasal Kota Surabaya, Eri Cahyadi Perankan Raden Wijaya

Berita Terkait

NGELUDRUK: Eri Cahyadi (kiri) perankan Raden Wijaya saat ngeludruk peringatan HJKS ke-729. | Foto: Barometerjatim.com/IST
NGELUDRUK: Eri Cahyadi (kiri) perankan Raden Wijaya saat ngeludruk peringatan HJKS ke-729. | Foto: Barometerjatim.com/IST
- Advertisement -

SURABAYA, Barometerjatim.com – Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi ngeludruk di peringatan Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ke-729 lewat pertunjukan di salah satu stasiun televisi lokal Jatim, Senin (30/5/2022).

Eri yang memainkan peran sebagai raja pertama Kerajaan Majapahit, Raden Wijaya manggung bersama jajaran Forkopimda Surabaya dan grup seniman ludruk Luntas.

Dalam pertunjukan tersebut, Eri bersama jajaran Forkopimda Surabaya dan Luntas menceritakan asal muasal terbentuknya Kota Surabaya pada zaman Kerajaan Majapahit.

Pertunjukan itu dimulai dari penampilan seni tari remo, setelah itu parikan sebagai penanda dibukanya pertunjukan ludruk bertema “Hoedjoeng Galoeh” Asal Muasal Nama Surabaya.

Di awal pertunjukkan, pentolan Luntas, Robets Bayoned membuka dengan gaya bahasa khas Suroboyoan. Penonton seisi studio pun tertawa terhibur, termasuk Eri dan jajaran Forkopimda Surabaya.

Tak lama kemudian, Eri tampil sebagai raja yang memimpin pasukan Majapahit untuk melawan pasukan sekaligus mengusir tentara Tartar dari Kekaisaran Mongol.

Bagaimana rasanya ngeludruk, Eri? “Mendebarkan, nagihin, dadi engko lek main maneh wis tatak atine (pengalaman pertama mendebarkan, bikin nagih, nanti kalau manggung lagi bakal lebih mantap hatinya),” katanya.

Eri bahkan berencana akan kembali ngeludruk bersama jajaran Forkopimda Surabaya, untuk melestarikan kesenian sekaligus meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Kota Pahlawan.

“Setelah pandemi Covid-19 ini, salah satu cara kita menggerakkan perekonomian adalah dengan kesenian secara masif di Surabaya,” sebut Eri.

Dia juga mendukung Luntas untuk melestarikan kesenian khas Surabaya. Menurutnya, ludrukan ala Luntas berbeda karena membawakannya dengan cara kekinian, sehingga cara ini dapat menarik minat anak muda Surabaya menikmati kesenian tradisional.

» Baca berita terkait HUT Surabaya. Baca juga tulisan terukur lainnya Moch Andriansyah.

- Advertisement -
- Advertisement -

Berita Terkait

- Advertisement -

trendnews
Berita Trending Saat Ini

- Advertisement -

BERITA TERKINI

- Advertisement -