Nasib Pedagang Pasar Turi Kini, Dari Sopir hingga Pengangguran

BERTAHUN-TAHUN SEPI: Stan di Pasar Turi Baru Baru, bertahun-tahun sepi pengunjung dan pembeli akibat konflik berkepanjangan. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
BERTAHUN-TAHUN SEPI: Stan di Pasar Turi Baru Baru, bertahun-tahun sepi pengunjung dan pembeli akibat konflik berkepanjangan. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

SURABAYA, Barometerjatim.com – Silang sengkarut penyelesaian konflik Pasar Turi Baru Surabaya menyisakan cerita pilu di antara ribuan pedagang. Banyak yang bangkrut, meninggalkan stan, banting setir mencari usaha atau pekerjaan lain, hingga tak sedikit yang menganggur.

Seperti cerita pedagang satu ini. Namanya Akbar Maghrobi, perawakannya kurus, kulitnya terlihat kian legam semenjak banting setir menjadi sopir.

“Biasanya saya dan ibu yang menjaga stan. Tapi karena semakin sepi, saya jadi sopir dan ibu yang jaga sendiri,” tutur salah satu pedagang bidang konveksi yang akrab dipanggil Robi tersebut, Selasa (4/9).

• Baca: Pedagang Minta Risma Bijak Selesaikan Kemelut Pasar Turi

Robi menuturkan, semula dirinya memiliki stan di dalam gedung Pasar Turi Baru. Namun terpaksa ditinggalkan karena pengunjung begitu sepi. Dia lantas memilih berjualan di Tempat Penampungan Sementara (TPS) dengan harapan dagangannya lebih laris.

“Ternyata sama saja. Di TPS juga sepi. Hampir tiap hari tidak ada pembeli baru. Mereka yang beli tinggal pelanggan lama saja,” ungkap warga Pucang Sewu itu.

Pria 28 tahun tersebut akhirnya memutuskan mencari pekerjaan lain. Sempat bekerja di distributor air mineral kemasan demi menutupi kebutuhan keluarganya. Namun tidak berlangsung lama, kemudian memilih menjadi sopir di salah satu perusahaan di Pasuruan.

• Baca: Pedagang Pasar Turi: Bu Risma, Tolong Pikirkan Kami!

“Berat memang (jadi sopir). Harus kuat melek. Saya juga harus pergi-pulang Surabaya-Pasuruan tiap hari. Tapi ya bagaimana lagi, hidup harus berlanjut,” tutur pria yang sedang menabung untuk biaya pernikahan itu.

Robi mengaku banyak pedagang lain yang juga mengalami nasib serupa. Meski memiliki stan di dalam gedung, di antara mereka tetap berjualan di TPS karena pengunjung sedikit lebih ramai.

Robi berharap bisa kembali jualan di Pasar Turi Baru dan tak mau tahu soal kisruh pasar yang sudah berlangsung bertahun-tahun tersebut. “Yang penting (pengunjung) ramai lagi,” tegasnya.

Bergantung Penguasa

Beda dengan Robi, Yudia, 47 tahun, kini hanya bisa menjalani nasibnya sebagai ibu rumah tangga. Dia tak bisa lagi berharap pada penghasilannya berdagang di stan Pasar Turi. Sementara untuk membuka usaha di tempat lain tidak mudah lantaran tak punya cukup modal.

“Mau lamar kerjaan juga bingung kerja apa? Akhirnya ya begini, nganggur, paling ngurus rumah,” tuturnya.

Ibu dua anak yang selama ini menjadi tumpuan ekonomi keluarga itu tak menyangka, Pasar Turi yang dulu sangat ramai dan menjadi pusat grosir terbesar di kawasan Indonesia Timur ternyata berubah drastis.

• Baca: Dua Hari, Dua Kali Henry Diadili dalam Perkara Pasar Turi

Megahnya gedung baru yang dibangun pasca kebakaran pada 2007, ternyata tak cukup memulihkan gairah jual-beli antara pedagang dan pengunjung. “Sehari laku satu sudah syukur. Saya gak bisa ngarep dari situ lagi,” keluhnya.

Yudia adalah salah satu pedagang grosir dan eceran yang awalnya punya harapan besar terhadap Pasar Turi Baru. Tak terbayang sedikit pun Pasar Turi bakal kelam dan mati suri seperti sekarang.

Dalam benaknya kala itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dan semua pihak benar-benar ingin menghidupkan kembali Pasar Turi, sehingga tak ada alasan untuk pesimis.

• Baca: Kemelut Pasur Turi, Bos PT GBP Dituntut 4 Tahun Penjara

Namun apalah arti jadi wong cilik, katanya, nasibnya banyak bergantung pada perhatian penguasa. Begitu hilang perhatian, maka pupus pula harapan mereka akan hidup yang lebih berdaya.

“Kepada siapa lagi saya mengeluh. Sekarang gak ada yang perhatikan nasib kami. Sekarang aja lagi butuh uang buat bayar SPP anak tapi belum ada uang,” tuturnya lirih.

Revitalisasi Terhambat

REVITALISASI PASAR TERHAMBAT: izin operasional pasar belum dikeluarkan dan revitalisasi pasar terhambat akibat konflik tak berujung. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
REVITALISASI PASAR TERHAMBAT: Izin operasional pasar belum dikeluarkan dan revitalisasi pasar terhambat akibat konflik tak berujung. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

Konflik pengelolaan Pasar Turi hingga kini belum menemui titik terang. Konflik yang melibatkan sejumlah pihak, terutama antara Pemkot Surabaya dengan pengembang, membuat di antaranya izin operasional pasar belum dikeluarkan dan revitalisasi pasar terhambat.

Tak kunjung dibongkarnya TPS hingga saat ini — meski gedung Pasar Turi Baru sudah selesai dibangun sejak 2014 — menjadi salah satu bukti revitalisasi mandek.

• Baca: Cak Anam: Layanan Publik Pemkot Surabaya Jelek Sekali!

Kini pedagang seperti terbelah dan telantar di dua tempat. Ada yang berjualan di dalam gedung Pasar Turi Baru, ada pula yang tetap bertahan di TPS tanpa hadirnya pihak yang mengkoordinir dan mewadahi kepentingan mereka.

Tapi baik pedagang di dalam gedung baru maupun yang di TPS menghadapi persoalan yang sama: Sepi pembeli.