Jumat, 02 Desember 2022
Barometer Jatim
Cloud Hosting Indonesia

Kiai Mutawakkil Bikin Jawa Timur Tak Adem Lagi

Berita Terkait

JANGAN TENDENSIUS: Nyai Hj Masruroh Wahid (kiri) dan KH Hasan Mutawakkil Alallah, NU harusnya menjadi pengayom bagi kadernya yang maju di Pilgub Jatim 2018. Bukan membuat pernyataan tendensius. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
JANGAN TENDENSIUS: Nyai Hj Masruroh Wahid (kiri) dan KH Hasan Mutawakkil Alallah, NU harusnya menjadi pengayom bagi kadernya yang maju di Pilgub Jatim 2018. Bukan membuat pernyataan tendensius. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
- Advertisement -

SURABAYA, Barometerjatim.com – Ironis, memang! Tagline ‘Jatim Adem’ yang selama ini diusung Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan pendukungnya di Pilgub Jatim 2018, justru dicederai sendiri dengan ‘menyerang’ kandidat lain bahkan membuka ruang perpecahan di kalangan kiai serta warga Nahdlatul Ulama (NU).

Pemicunya, statement Ketua Tanfidziyah PWNU Jatim, KH Hasan Mutawakkil Alallah yang dikenal getol mendukung Gus Ipul dinilai mendiskreditkan kandidat lain, Khofifah Indar Parawansa dan para kiai khos serta pengasuh Ponpes besar yang mendukungnya.

Kiai Mutawakkil menyebut Saifullah maju di Pilgub Jatim karena mendapat perintah dari kiai, sebaliknya Khofifah malah mencari dukungan kiai. “Itu bedanya. Ibu Khofifah minta dukungan kiai, sedangkan Gus Ipul didukung para kiai,” katanya di sela Konferwil Ikatan Sarjana Nahdatul Ulama (ISNU) Jatim, Sabtu (4/11).

• Baca: Ketum PBNU: PWNU Wajib Netral di Pilgub Jatim

Karuan saja pernyataan Kiai Mutawakkil ini disesalkan banyak pihak, mengingat posisinya sebagai ketua tanfidziyah PWNU Jatim yang harusnya mengayomi, menjadi ‘orang tua’ bagi semua kader NU yang akan berkontestasi di Pilgub Jatim. Bukan sebaliknya: Melontarkan pernyataan tendensius.

“Sebetulnya saya sudah merasa respek saat pihak NU (baik PBNU maupun PWNU) menyatakan netral, karena secara jamiyah memang begitu seharusnya. Tapi pernyataan itu kini menjadi bias,” sesal Ketua PW Muslimat NU Jatim, Nyai Hj Masruroh Wahid.

Dalih bahwa Kiai Mutawakkil bicara Pilgub Jatim bukan atas nama ketua PWNU Jatim melainkan pribadi, hal itu tak bisa dibenarkan Masruroh. “Jabatan itu melekat, nggak bisa hari ini atas nama pribadi lalu besok ketua,” sergahnya.

• Baca: Tak Lupa Akar NU, Mensos Hadiri Istighotsah Kubro

Ya, Kiai Mutawakkil memang tak bisa berkelit,  memisahkan antara pribadi dan jabatannya di jamiyah NU kala bicara Pilgub Jatim. Saat menghadiri pelantikan PC GP Ansor Surabaya, kemarin, dia juga diundang sebagai ketua PWNU Jatim namun di situ kembali ‘mengkampanyekan’ Saifullah-Anas.

“Haus Timbul Dibakar Panas, Kaki Pegel Yuk Berjemur. Gus Ipul dan Azwar Anas dwi tunggal andal untuk Jawa Timur,” ucapnya sambil berpantun.

Kelabuhi Diri Sendiri

Dua pemicu ini, bagi Gus Ali Azhar asal Banyuwangi, mengaskan kalau kiai di struktural PWNU Jatim sudah berpolitik praktis dan hal itu tidak etis, karena NU secara jamiyah sudah menyatakan kembali ke khittah.

“Kalau kemudian yang di struktur ikut-ikutan berpolitik praktis, itu menyalahi kodrat NU. Jabatan itu melekat. Kalau beliau mencoba memisahkannya ya siapa yang percaya. Artinya berkelit-kelit saja, mengelabuhi diri sendiri. Padahal semua orang tahu itu,” katanya.

Gus yang masih keluarga Ponpes tertua di Kabupaten Sidoarjo itu menambahkan, “Tapi kalau sudah berpolitik praktis, ya begitulah jadinya. Sebab, berkelit kesana-kemari dalam berpolitik itu menjadi biasa untuk memenangkan calon yang didukung. Jadi kalau sampai ada orang yang menilai ndak bagus kepada beliau, juga menjadi sah-sah saja.”

• Baca: 10 Menteri Berprestasi: Mensos Nomor 2 di Atas Menkeu

Lantaran jabatan itu melekat, lanjut Gus Ali, statement yang mendiskriditkan kandidat tertentu tak patut dilakukan. “Harusnya beliau membikin adem suasana. Kalau begini kan malah bikin Jatim menjadi panas, karena kiai-kiai yang dimaksud itu kiai siapa? Apa benar-benar tulus dan ikhlas itu kiai yang mendukung Gus Ipul,” ujarnya.

Justru, tambah Gus Ali, “Para kiai yang mendukung Bu Khofifah itu yang tulus dan ikhlas, karena Bu Khofifah terkenal enggak punya duit dan enggak pakai duit dalam mencari dukungan. Bu Khofifah itu dicari partai, bukan bingung mencari partai.”

Gus Ali lantas mencontohkan kiai-kiai yang berada di belakang Khofifah. KH Hisyam Syafaat (Ponpes Darussalam, Blokagung, Banyuwangi), KH Salahuddin Wahid (Ponpes Tebuireng, Jombang), KH Afifuddin Muhajir (Ponpes Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo, KH Muzakki Syah (Ponpes Al Qodiri, Jember) maupun KH Asep Saifuddin Chalim (Ponpes Amanatul Ummah, Mojokerto).

“Mereka ini para kiai alim yang tak sekadar mendukung, memberi restu, tapi ikhlas membelanjakan hartanya untuk perjuangan Bu Khofifah di Pilgub Jatim 2018 karena banyak hal yang harus dibenahi di Jawa Timur,” tegas Gus Ali.

Menyakiti Sesama Kiai

KRITISI PERNYATAAN 'TENDENSIUS': (Dari kiri) Abdul Muiz Aziz, Gus Ali Azhar, KH Mukhlis Muksin. Ramai-ramai sesalkan pernyataan tendensius Ketua Tanfidziyah PWNU Jatim, KH Mutawakkil Alallah. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
KRITISI PERNYATAAN ‘TENDENSIUS’: (Dari kiri) Gus Abdul Muiz Aziz, Gus Ali Azhar dan KH Mukhlis Muksin. Ramai-ramai menyesalkan pernyataan tendensius Ketua Tanfidziyah PWNU Jatim, KH Mutawakkil Alallah. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

Hal sama ditegaskan Pengasuh Ponpes Al Anwar, Bangkalan, KH Mukhlis Muksin. Menurutnya, ada tiga hal yang bisa dipetik dari pernyataan Kiai Mutawakkil.

Pertama, melenceng dari netralitas sebagai pengurus jamiyah NU. Kedua, tingkat kedewasaan dalam melihat dinamika politik masih rendah. Ketiga, memicu perpecahan di antara warga NU karena menimbulkan keresahan.

“Harusnya sadar kalau pernyataan itu malah menyakiti sesama kiai. Kiai Mutawakkil harus minta maaf dan mencabut pernyataannya, itu sangat menyakiti kiai karena malah membuat perpecahan di antara warga NU. Dengan begitu, yang memulai perpecahan di NU justru Kiai Mutwakkil sendiri,” tandasnya.

• Baca: Gus Sholah: Saiful Tidak Baik, Khofifah Terbaik

Sejumlah kiai muda juga ikut mengkritisi ‘zig-zag’ politik Kiai Mutawakkil. “Itu maksudnya gimana kok pakai istilah direstui dan minta restu kiai. Ini kan hanya persoalan struktur dan tidak struktur, gitu aja kan?” kata pengasuh Ponpes Aziziyah Denanyar, Jombang, Gus Abdul Muiz Aziz.

“Bu Khofifah mencari restu gimana? Itu bahasa yang salah. Bu Khofifah itu malah direstui dengan tulus, enggak pakai syarat macam-macam. Harusnya dia (Kiai Mutawakkil) bisa mengayomi keduanya. Katanya Jatim adem, kok malah dibuat panas,” ujarnya seolah menyidir tagline Gus Ipul.

- Advertisement -
- Advertisement -

Berita Terkait

- Advertisement -

trendnews
Berita Trending Saat Ini

- Advertisement -

BERITA TERKINI

- Advertisement -