Kelor! ‘Daun Peribahasa’ yang Diekspor Jatim ke Korea Selatan

Khofifah saat meninjau komoditas pertanian siap ekspor. Inset: Daun kelor | Foto: Barometerjatim.com/roy hs
Khofifah saat meninjau komoditas pertanian siap ekspor. Inset: Daun kelor | Foto: Barometerjatim.com/roy hs

SURABAYA, Barometerjatim.com – Peribahasa ini cukup populer: Dunia tak selebar daun kelor, yang bisa dimaknai dunia tidaklah sempit! Sebuah nasihat agar tidak cepat putus asa dalam menghadapi suatu keadaan atau kegagalan, karena masih banyak pilihan lain.

Dalam konteks sayuran, daun kelor cukup digemari, terutama bagi warga perdesaan, yang biasa mengkonsumsinya untuk sayur bening. Sebagian masyarakat juga percaya, daun kelor bisa bermanfaat untuk mengusir penyakit dan ruh jahat.

Tapi tidak semua tahu, kalau daun kalor menjadi komoditas ekspor dan untuk kali pertama dikirim ke Korea Selatan (Korsel). Pelapasan dilakukan Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa bersama Balai Besar Karantina Pertanian di Terminal Peti Kemas Surabaya, Kamis (21/3/2019).

“Ada yang menarik menurut saya, daun kelor. Daun kelor ini ternyata pangsa pasarnya di Korea Selatan,” kata Khofifah usai Pelepasan Ekspor Komoditas Pertanian yang dibinglai lewat kegiatan #AgroGemilang2019 (Ayo Galakkan Ekspor Generasi Milenial Bangsa) tersebut.

Daun kelor yang dilepas Khofifah sebanyak 12 ton senilai Rp 13 miliar, yang dikemas dalam kardus dan diangkut menggunakan empat kontainer. “Ini hanya seremonial, karena sebenarnya per hari bisa 200 kontainer,” terang Kepala Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya, Musyaffa Fauzi.

Selain daun kelor, Pemprov Jatim juga mengekspor sejumlah komoditas tumbuhan lainnya dengan total diekspor mencapai 416 ton. Yakni 60,231 M3 plywood ke Singapura, 19,1 ton kopi ke Belgia, 22,5 ton gagang cengkeh ke kanada, serta 81 ton margarin ke Ghana.

Ekspor juga dilakukan pada komoditas hewan dan produk hewan, yakni 25,5 ton susu ke Malaysia, 140 ton premix ke Spanyol, 19 ton sterilized kenaf core dry ke Jepang, 34 ton bulu bebek ke Taiwan, 130 ton calcium salt ke Barcelona, dan 300 kg sarang burung walet (SBW) ke Hong Kong.

Menurut Khofifah, ekspor komoditas pertanian ini merupakan wujud dari kometmen para eksportir di Jatim. “Para eksportir terima kasih atas komitmen kita, untuk terus membangun penguatan perdagangan kita,” katanya.

Pasar Masih Besar

Pemberian sertifikat untuk para eksportir Jatim. | Foto: Barometerjatim.com/roy hs
Pemberian sertifikat untuk para eksportir Jatim. | Foto: Barometerjatim.com/roy hs

Dalam kesempatan tersebut, mantan Menteri Sosial yang dikenal suka blusukan itu juga teringat dengan exercise luar biasa yang dilakukan mendiang KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur saat menjabat Presiden ke-4 RI.

“Kata Gus Dur, kalau dagang itu ya ke luar negeri. Exercise yang dilakukan waktu itu, kita tidak perlu Kementerian Perdagangan (Kemendag) dan harus digabung dengan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu). Jadi bukan hanya atase, tapi Kemendag,” katanya.

Pemetaan pasar di luar negeri menjadi penting, kata Khofifah, karena tidak akan terjangkau kalau hanya dilakukan para diplomat. Ada beberapa negara, bahkan sudah menyatukan antara Kemendag dengan Kemenlu. “Artinya kalau dagang itu ya di luar negeri,” tandasnya.

Khofifah menambahkan, peluang pasar di luar negeri masih sangat besar, terlebih kalau eksportir mau masuk ke Eropa Timur dan Afrika. “Tadi ada yang ekspor ke Ghana. Negara-negara di Afrika banyak sekali sebetulnya berharap ada strong partnership di antara eksportir Indonesia,” katanya.

Dia mencotohkan saat diundang di salah satu event di Negeria. “Rata-rata mereka mengkonsumsi mie instant, satu orang itu minimal lima bungkus. Kebutuhan itu kemudian di-support pabrik salah satu produk mie instant yang ada di Indonesia,” katanya.

Artinya, tandas Khofifah, kebutuhan penduduk di luar negeri, terutama Eropa Timur dan Afrika memang luar biasa besar dan itu menjadi peluang bagi eksportir Indonesia, termasuk Jatim.•

» Baca Berita Terkait Khofifah, Pertanian