Kasus Gizi Buruk di Kota Pahlawan Jadi Sorotan Unicef

SOROTI GIZI BURUK DI SURABAYA: Kepala Perwakilan Unicef untuk Pulau Jawa, Arie Rukmantara menyoroti kasus gizi buruk di Surabaya. | Foto: Barometerjatim.com/NANTHA LINTANG
SOROTI GIZI BURUK DI SURABAYA: Kepala Perwakilan Unicef untuk Pulau Jawa, Arie Rukmantara menyoroti kasus gizi buruk di Surabaya. | Foto: Barometerjatim.com/NANTHA LINTANG

SURABAYA, Barometerjatim.com – Kasus gizi buruk di Surabaya masih ramai diperbincangkan publik. Bahkan menjadi sorotan Unicef (United Nations Children’s Fund), lembaga PBB yang concern pada perkembangan dan kesejahteraan anak dunia.

Lewat Kepala Perwakilan Unicef untuk Pulau Jawa, Arie Rukmantara meminta agar Pemkot Surabaya segera mengambil sikap terkait ketahanan pangan ASB (10 tahun), penderita gizi buruk warga Kedung Baruk, Surabaya.

“Untuk penanganan kesehatannya, saya pantau di pemberitaan sudah ditangani dengan baik. Tinggal bagaimana soal ketahanan pangan dia sehari-hari selanjutnya,” kata Arie, Rabu (1/8).

• Baca: Gizi Buruk ‘Hantui’ Kota yang Dipimpin Risma

“Ini terkait kondisi sosial-ekonomi yang harus dipecahkan oleh pemerintah. Bukan hanya Surabaya saja, melainkan seluruh Indonesia.”

Arie menuturkan, menurut Unicef timbulnya gizi buruk pada balita ada dua penyebab, langsung dan tidak langsung. Penyebab langsung terkait makanan balita dan penyakit infeksi, yang mungkin diderita.

• Baca: Bupati Lamongan Terusik Data Angka Gizi Buruk Kronis

Sedangkan penyebab tidak langsung, terkait ketahanan pangan di lingkungan keluarga, pola pengasuhan anak, serta pelayanan kesehatan dan kesehatan lingkungan.

Kedua penyebab tersebut, tambah Arie, dipengaruhi beberapa hal. Pertama, pengetahuan tentang asupan makanan dengan prinsip gizi berimbang.

“Pengetahuan orang tua, guru, dan keluarga besar sangat penting untuk mengawal pola makan yang sehat dan seimbang,” katanya.

• Baca: Kasihan! Disebut Puti Alami Gizi Buruk, Keluarga Ini Kena “Bully”

Kedua, tingkat kesehatan sejak di kandungan, sejak bayi dan selama masa tumbuh berkembang. “Imunisasi sangat membantu anak menghindari terkena penyakit yang mengganggu pertumbuhannya,” ucapnya.

Ketiga, tambah Arie, aspek sosial budaya dan cara merawat anak. Karena itu porsi makan anak harus menjadi yang pertama dan tidak selamanya yang instan itu baik. “Pola konsumsi makan dan rumah tangga dipengaruhi oleh budaya masyarakat,” tambahnya.

Soal Asupan Gizi

GIZI BURUK MARASMUS: ASN, bocah 10 tahun warga Surabaya ini menderita gizi buruk tipe marasmus. | Foto: IST

Terkait informasi ASN tidak bisa divonis menderita gizi buruk karena masih doyan makan, menurut Arie hal itu bukanlah faktor yang bisa menghindarkan terjadinya gizi buruk pada anak-anak.

“Bukan soal kuantitas makannya, tetapi bagaimana asupan gizi di setiap makanan yang dikonsumsi,” jelasnya.

Arie juga menegaskan, Unicef siap bersama-sama pemerintah Indonesia menjaga kesejahteraan anak-anak. “Kami sudah hadir sejak era awal kemerdekaan hingga saat ini,” tegasnya.

• Baca: Stunting di Lamongan, Dinkes Jatim Tepis Data TNP2K

Seperti diberitakan, ASN diduga menderita gizi buruk sejak dua tahun lalu namun baru ramai menjadi sorotan publik setelah viral di media sosial. Saat ini dia dirawat intensif di RSUD dr Soewandhie, Surabaya.

Sejumlah pihak menyayangkan kasus gizi buruk terjadi di Kota Pahlawan, mengingat kota yang dipimpin Wali Kota Tri Rismaharani (Risma) tersebut, selain berkekuatan APBD Rp 9,118 triliun juga menyandang predikat Kota Layak Anak.