Kampanye Perdana, Khofifah Sasar Nelayan Lamongan

KHOFIFAH DI TPI BRONDONG: Cagub nomor urut 1, Khofifah Indar Parawansa bersama pekerja pemilah ikan di TPBI Brondong Lamongan, Kamis (15/1). | Foto: Barometerjatim.com/MARIJAN AP
KHOFIFAH DI TPI BRONDONG: Cagub nomor urut 1, Khofifah Indar Parawansa bersama pekerja pemilah ikan di TPBI Brondong Lamongan, Kamis (15/1). | Foto: Barometerjatim.com/MARIJAN AP

LAMONGAN, Barometerjatim.com – Lamongan menjadi kabupaten pertama yang disasar Cagub Jatim nomor urut 1, Khofifah Indar Parawansa di hari pertama kampanye, Kamis (15/1).

Titik pertama yang dituju yakni Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Brondong. Kehadiran Khofifah langsung ‘diserbu’ dan dielu-elukan nelayan serta pekerja pemilah ikan yang mayoritas perempuan.

Dalam sesi dialog dengan nelayan, Khofifah terlihat serius mendengarkan berbagai masukan, termasuk larangan penggunaan cantrang. “Kami ingin melihat, mendengar, memantau, mereka di sini yang selama ini menggunakan cantrang,” katanya.

• Baca: Di Rumah Aspirasi, Khofifah Beber “Nawa Bhakti Satya”

Menurut Khofifah, TPI Brondong merupakan tempat strategis dan siginifikan produskinya untuk suplai ikan di Jatim dan Indonesia. “Karena yang mereka ekspor itu juga siginifikan. Saya perlu tahu berapa gross ton (GT) cantrang yang ada di sini,” tambahnya.

Terkait larangan penggunaan cantrang yang tertuang dalam Peraturan Menteri (Permen) Kelautan dan Perikanan Nomor 2 Tahun 2015, masyarakat di sekitar TPI juga banyak yang mengeluh.

Salah satunya pemilik warung dan pekerja pemilah ikan yang kebanyakan perempuan,  harus berhenti karena banyak kapal cantrang yang tidak melaut.

• Baca: 9 Merpati dan Semanggi Warnai Pembukaan Rumah Aspirasi

Dari hasil dialog diketahui cantrang yang digunakan di Brondong ukuran di bawah 30 GT. Menurut Khofifah, harus ada kualifikasi khusus karena cantrang dengan ukuran 30 GT ke bawah pemiliknya adalah nelayan atau gabungan nelayan.

“Yang harus kita lihat adalah efek domino dari persepsi masyarakat termasuk di dalamnya pemilik cantrang. Di sini ternyata ada 80 cantrang, masing-masing cantrang kalau merapat, mereka akan menggunakan tenaga kerja rata-rata 50 perempuan untuk memilah ikan,” paparnya.

Di Bawah Toleransi

Jika dihitung dengan adanya 80 cantrang di TPI tersebut, setidaknya ada 4.000 orang yang terkena dampak pemberdayaan ekonomi termasuk perempuan yang dipekerjakan di dalam proses pemilihan jenis, ukuran dan macam ikan yang ada di TPI.

“Tadi saya tanya solarnya gimana, juga tengang kapasitas cantrang di sini, yang ternyata masih di bawah 30 GT. Itu kan masih di bawah toleransi untuk terus dioperasionalkan,” ujar Khofifah.

Karena itu, menurut mantan Menteri Sosial tersebut, perlu dipikirkan bagaimana membangun rasa keadilan dan kesejahteraan bagi nelayan dan mereka yang ada area lingkungan proses nelayan yang bergantung untuk menyambung hidup. Termasuk warung dan juga para pekerja perempuan pemilah ikan.

• Baca: Piawai Berpantun, Khofifah Lebih Jawa Timur Ketimbang Puti

“Kalau kualifikasinya 30 GT ke bawah masih pada batas toleransi untuk bisa melaut. Yang selama ini dipermasalahkan kalau pakai kapal yang besar-besar, mereka ada yang pakai trol yang bisa membuat biota laut ikut terjaing,” ucapnya.

Bagi Khofifah, penyisiran seperti ini penting untuk menjadi bahan navigasi program. “Jika ikut melihat dan mendengar apa yang dikeluhkan dan menjadi masalah masyarakat, maka bisa dicarikan solusi,” tandasnya.