Ika Ansor Jatim Tolak Ketua PWNU Lebih dari Dua Periode

TOLAK KIAI MUTAWAKKIL MAJU LAGI: Ketua Ika Ansor Jatim, Muslih Hasyim menolak ketua PWNU Jatim lebih dari dua periode. | Foto: IST
TOLAK KIAI MUTAWAKKIL MAJU LAGI: Ketua Ika Ansor Jatim, Muslih Hasyim menolak ketua PWNU Jatim lebih dari dua periode. | Foto: IST

SURABAYA, Barometerjatim.com – Konferensi Wilayah (Konferwil) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim tinggal lima hari lagi. Tapi siapa calon ketua tanfidziyah, hingga kini masih samar.

Pun demikian dengan incumbent KH Hasan Mutawakkil Alallah, belum memberi pernyataan gamblang akan maju lagi atau memberi kesempatan kader potensial NU lainnya.

Justru sikap tegas disampaikan Ikatan Alumni (Ika) Ansor Jatim. Organisasi yang baru berdiri pada 22 Juni 2018 itu, menolak Kiai Mutawakkil memimpin PWNU Jatim lebih dari dua periode.

• Baca: Pengamat: Dipimpin Orang Itu-itu Saja, Tak Baik buat PWNU

Menurut Ketua Ika Ansor Jatim, Muslih Hasyim, sudah cukup kepengurusan Kiai Mutawakkil selama dua periode dan perlu dilakukan regenerasi agar kaderisasi di tubuh PW NU Jatim tidak stagnan.

“PWNU Jatim perlu melakukan kaderisasi dan penyegaran, jangan sampai ada pengurus PWNU yang melebihi dua periode, tidak baik bagi masa depan NU di Jatim,” ujar Muslih, Minggu (22/7).

Apalagi, lanjutnya, saat ini banyak kader NU, baik alumni Ansor, PMII maupun IPNU, yang usianya di atas 45 tahun dan memiliki kapasitas mumpuni tapi tidak terakomodir di struktur PWNU.

• Baca: Penyegaran! Saatnya Intelektual Kampus Pimpin PWNU Jatim

“Melalui Konferwil di Lirboyo, kami berharap ada regenerasi agar terjadi penyegaran sehingga tidak mandek,” kata pria yang juga wakil sekretaris Ika PMII Jatim itu.

Saat dipertegas, apakah ada batasan periodesasi di kepemimpinan PWNU, Muslih menyatakan tidak ada. “Tapi secara moral, mestinya memperhatikan kaderisasi di tubuh NU,” ucapnya.

• Baca: Eks Bendahara PBNU: Gus Kikin Layak Ketua PWNU Jatim

Mantan sekretaris DPD KNPI Jatim itu juga berharap, dalam menyusun kepengurusan PWNU Jatim nanti, harus memperhatikan kader yang berproses melalui kaderisasi yang jelas.

“Yang pernah menjadi pengurus IPNU, PMII atau GP Ansor, jangan kader yang ujug-ujug hanya karna faktor kedekatan dengan ketua PWNU,” tegasnya.