Penyegaran! Saatnya Intelektual Kampus Pimpin PWNU Jatim

LAYAK PIMPIN PWNU JATIM: Dr Muhibbin Zuhri (kiri) dan Prof Akh Muzakki, sosok intelektual kampus yang dinilai layak memimpin PWNU Jatim. | Foto: IST
LAYAK PIMPIN PWNU JATIM: Dr Muhibbin Zuhri (kiri) dan Prof Akh Muzakki, sosok intelektual kampus yang dinilai layak memimpin PWNU Jatim. | Foto: IST

SURABAYA, Barometerjatim.com – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim butuh penyegaran. Sejumlah nama, terutama dari kalangan muda, didorong untuk maju dalam bursa pemilihan ketua lewat Konferwil di Ponpes Hidayatul Mubtadiin Lirboyo, Kediri, 28-29 Juli.

Terlebih ketua tanfidziyah saat ini, KH Hasan Mutawakkil Alallah sudah menegaskan tidak punya ambisi. Sebab, menurutnya, di NU yang penting bisa berkhidmat kepada para ulama, kiai, aulia sebagai owner NU. Soal dimana saja posisinya, tidak masalah!

Menurut Anwar Sadad, kader NU yang masih keluarga besar Ponpes Sidogiri, Pasuruan, sudah saatnya kalangan intelektual kampus dimunculkan. Bukan karena kinerja Kiai Mutawakkil tidak bagus, tapi kepemimpinan di PWNU Jatim memang butuh penyegaran.

• Baca: Kiai Mutawakkil: Saya Tidak Punya Ambisi, Naudzubillah!

“Saya melihat Kiai Mutawakkil, sebagai incumbent lha ya, secara ketokohan sudah teruji. Teman-teman di bawah, warga NU, masih memiliki perspektif yang positif kepada beliau,” katanya.

Tapi, tandas Sadad, “Ada baiknya kader-kader muda, terutama yang mewakili kelompok intelektual kampus dan mewakili tradisi keilmuan pesantren, harus benar-benar dimunculkan.”

Saat ditanya siap figur kalangan intelektual yang perlu dimunculkan, Sadad menyebut nama Sekretaris PWNU Jatim, Prof Akh Muzakki dan Ketua PCNU Surabaya, Dr Muhibbin Zuhri. “Saya kira keduanya bisa mewakili tradisi keilmuan yang berasal dari kampus,” tandasnya.

• Baca: Eks Bendahara PBNU: Gus Kikin Layak Ketua PWNU Jatim

Tak hanya kalangan kampus, Sadad juga berharap pesantren bisa menemukan tokoh-tokoh muda dan tidak harus gus alias putra kiai.

“Tokoh-tokoh yang lahir dari pesantren, yang memang kental dengan nuansa ala pesantren. Saya kira kita harus menemukan Gus Ishom-Gus Ishom baru. Kan langka itu, mungkin sekian lama belum menemukan,” katanya.

• Baca: Khofifah: Persatuan NU Penting untuk Membangun Jatim

Figur Gus Ishom, menurut Sadad, adalah sosok yang berangkat dari tradisi pesantren, tapi memiliki wawasan keilmuan yang luas. Bisa berdialog, berinteraksi dengan masyarakat umum, baik akdemisi dan lain sebagainya.

“Meski kita cari,” tandas kader NU yang juga anggota DPRD Jatim dari Fraksi Partai Gerindra tersebut.

Godaan Politik

Sebenarnya, tambah Sadad, NU memiliki karakteristik pengaderan yang khas. Tonggak estafet kepemimpinan berjalan secara alami dari generasi senior ke kader yang lebih muda. “Contohnya Gus Dur muda ketika Muktamar di Situbondo,” katanya.

• Baca: Pilgub Selesai! PWNU Dukung Penuh Khofifah Pimpin Jatim

Tapi figur muda harus memberikan pembuktian, sebuah prestasi, untuk membangun ketokohanya. “Bukan sebatas ketokohan di level kabupaten, tapi memberikan respons, pernyataan, reaksi terhadap problematika, terutama sosial keagamaan di Indonesia agar namanya terdongkrak.

“Tapi saya lihat, figur-figur muda NU, mungkin karena godaan politik, larinya lebih ke politik. Sementara yang konsen betul pada pemikiran NU, tradisi pesantren, kitab kuning, hampir-hampir susah kita mendapatkannya,” katanya.