Harun: Gus Hans Orang Madura, Saatnya Pimpin Surabaya!

SAATNYA MADURA: Harun Al Rasyid, saatnya Gus Hans yang orang Madura pimpin Surabaya. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
SAATNYA MADURA: Harun Al Rasyid, saatnya Gus Hans yang orang Madura pimpin Surabaya. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

SURABAYA, Barometerjatim.com – Dukungan untuk Zahrul Azhar Asumta alias Gus Hans di Pilwali Surabaya 2020 terus mengalir. Kali ini dari komunitas Madura di Surabaya.

Komunitas yang diketuai Harun Al Rasyid ini, di dalamnya termasuk Forum Komunikasi Cendekiawan Madura, Yayasan Rampak Naong, hingga Perkumpulan Madura Tempo Doeloe.

“Sudah sepantasnya, warga Madura mendukung Gus Hans yang Madura. Saya akan menggerakkan seluruh tokoh Madura untuk mengawal kemenangan Gus Hans,” kata Harun pada wartawan di Surabaya, Jumat (8/11/2019).

“Orang tua Gus Hans berasal dari Madura yang membangun pendidikan pesantren di Jombang, sehingga kita ada solidaritas. Hubungan keluarga dengan Madura juga tetap jalan sampai hari ini. Jadi Gus Hans ini Madura, sampai hari ini,” tegasnya.

Setelah pernyataan terbuka ini, Harun akan mengajak Gus Hans silaturahim ke tokoh-tokoh Madura. “Saya kalau sudah mendukung kan total, harus menang, siapapun lawannya. Saatnya orang Madura pimpin Surabaya,” katanya.

Ya, meski kelahiran Jombang dan kini tinggal di Gayungan, Surabaya, Gus Hans memang tak bisa dilepaskan dari Madura karena kakek buyutnya yakni ulama besar KH Tamim Irsyad, pendiri Ponpes Darul Ulum Jombang kelahiran Desa Jaddih, Kecamatan Socah, Bangkalan.

Merunut silsilah dan terkonfirmasi pihak keluarga, Gus Hans adalah putra KH Muhammad As’ad Umar, ketua terlama Majelis Pimpinan Ponpes Darul Ulum, mulai 1985 hingga 2010. Kiai As’ad adalah putra KH Umar Tamim, anak keempat dari Kiai Tamim.

Sedangkan tiga anak lainnya Kiai Tamim, yakni KH Muh Fadhil, Nyai Fatimah, dan KH Muhammad Romly Tamim. Maka Gus Hans yang juga wakil ketua DPD Partai Golkar Jatim adalah cicit dari Kiai Tamim Irsyad.

Terkait cerita bisa sampai di Jombang, Kiai Tamim yang alumus Ponpes Bangkalan asuhan Syaikhona Kholil, setelah purna studi kemudian merantau ke Pulau Jawa hingga ke suatu desa bernama Pajaran, Jombang.

Tapi kemudian pindah ke poros tempat rawan yang menjadi ganjalan masyarakat saat itu, yakni Desa Rejoso, Kecamatan Peterongan untuk berdakwah dan mendirikan Ponpes Darul Ulum yang hingga kini memiliki sekitar 20 ribu santri.

Gus Hans Visioner

Nah, Harun menambahkan, layaknya saudara sesama orang Madura yang sedang punya hajat, maka harus didukung. Apalagi Gus Hans disebutnya memiliki kejelasan visi. Kemudian dia juga kober dan sanggup, baik dari sisi kesiapan maupun logistik.

“Gus Hans ini sosok visioner, dan dia punya semacam kejelasan konsep untuk bagaimana sisi-sisi Surabaya yang masih belum disentuh selama kepemimpinan sebelum-sebelumnya,” katanya.

Menurut Harun, saat ini Surabaya jika dilihat dari sisi keindahan dan pertumbuhan memang tak ada yang membantah. Tapi mungkin pemerataanya yang belum, masih banyak titik-titik yang harus disentuh.

“Titik-titik di pinggiran Surabaya ini kan masih sangat butuh sentuhan. Nah, Gus Hans punya konsep itu,” ucapnya.

» Baca Berita Terkait Pilwali Surabaya, Gus Hans