Hari Santri, Khofifah Napak Tilas di Kampung Lawas Maspati

BLANGKON SUROBOYOAN: Warga menyambut hangat kehadiran Khofifah Indar Parawansa di Kampung Lawas Maspati, Surabaya saat peringatan Hari Santri Nasional, Senin (22/10). | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
IKET SUROBOYO: Warga menyambut hangat kehadiran Khofifah di Kampung Lawas Maspati, Surabaya saat peringatan Hari Santri Nasional, Senin (22/10). | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

SURABAYA, Barometerjatim.com – Bukan menggelar istighotsah atau pengajian akbar. Tapi Khofifah Indar Parawansa memilih memperingati Hari Santri Nasional (HSN) tahun ini dengan napak tilas di Kampung Lawas Maspati, Surabaya, Senin (22/10).

Kehadiran gubernur Jatim terpilih tersebut disambut antusias warga dan Ketua RW VI Kampung Maspati, Sabar Suwastono. Salah satu bentuk penyambutan, seorang warga mengenakan iket ke kepala Khofifah serta sarung untuk selendang khas Suroboyoan.

Selanjutnya, Khofifah diajak melihat suasana kampung yang di kanan-kiri jalan terlihat permukiman dengan model bangunan lama dan masih terjaga keasliannya. Salah satunya Omah Tua (The House of History 1907) yang dilengkapi cafe dan perpustakaan.

• Baca: Undang Jokowi, PWNU Jatim Tepis Istighotsah Kubro Politis

Menariknya lagi, tak sebatas melestarikan budaya, pemberdayaan UKM untuk warga di kampung ini juga berjalan dengan baik. Salah satunya pemanfaatan rumah kosong untuk lahan mini kebun cincau, serta menyulap barang bekas bernilai ekonomis.

Napak tilas Khofifah berakhir di Mushala Arrahman. Di tempat ini puluhan ibu-ibu, sebagian besar warga Muslimat NU, sudah menunggu untuk mendengarkan taushiyah Khofifah pada peringatan HSN di Kampung Lawas.

Terkait alasannya memilih napak tilas di Kampung Lawas, Khofifah menuturkan kalau kampung ini berkaitan erat dengan Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang melatarbelakangi pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.

• Baca: Tim Prabowo: Hari Santri Jangan Gerus Spirit Resolusi Jihad

“22 Oktober itu kan sentralnya di Surabaya. Titik yang memberikan penguatan dan sejarah besar bagi Indonesia, terutama Kampung Maspati yang sekarang disebut Kampung Lawas ini punya peran besar,” katanya.

Selain itu, Khofifah juga menyambut positif keinginan ketua RW untuk mewujudkan Kampung Lawas berlabel Kampung Santri. Ini bukti kalau HSN memang memberikan ruh dari proses Resolusi Jihad yang dikumandangkan Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari.

“Jadi betapa Resolusi Jihad itu menseyogiyakan seluruh santri berjihad untuk mempertahankan kemerdakaan RI, dan titik-titiknya cukup banyak yang sentralnya ada di Kampung Lawas ini,” tandasnya.

Pelestarian Sejarah

KAMPUNG LAWAS: Khofifah Indar Parawansa melihat suasana Kampung Lawas Maspati Surabaya, Senin (22/10). | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
KAMPUNG LAWAS: Khofifah Indar Parawansa melihat suasana Kampung Lawas Maspati Surabaya, Senin (22/10). | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

Khofifah menambahkan, terlepas dari keinginan ketua RW untuk mewujudkannya menjadi Kampung Santri, dia berharap Kampung Lawas bisa menjadi model pelastarian sejarah perjalanan bangsa.

“Itu bisa disaksikan, bisa dilihat tak hanya oleh bangsa Indonesia, tapi dari luar negeri pun bisa tahu jejak-jejak sejarah Indonesia,” ucap perempuan yang juga ketua umum PP Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) itu.

Terlebih, pelajaran sejarah seringkali tak cukup dilakukan secara interaktif dengan metodologi yang memungkinkan anak-anak mengenal sejarah dengan baik.

• Baca: Positif! Istighotsah Kubro PWNU Jatim Ditunda 28 Oktober

“Kalau anak-anak waktu pelajaran sejarah lalu diajak ke kampung sini, maka mereka mengenal bagaimana peristiwa turunnya kembali tentaran sekutu, Jenderal Mallaby berproses di sini, dan bagaimana para santri mempetahankan NKRI,” paparnya.

Dengan mengajak anak-anak berkeliling di Kampung Lawas sekitar 1 atau 1,5 jam, lanjut Khofifah, hal itu relatif mengenalkan mereka tentang sejarah mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan RI dan lahirnya Resolusi Jihad 22 Oktober.

“Kampung ini harus dijaga. Jangan terpengaruh hal-hal negatif seperti narkoba dan lain-lainnya. Anak-anak muda juga harus meramaikan masjid atau mushala,” pinta Khofifah.