Gus Sholah: Kita Butuh Rais Aam yang Alim dan Berintegritas

BUTUH RAIS AAM YANG ALIM: Gus Sholah, warga NU butuh rais aam yang alim, kepemimpinnya yang kuat dan berintergritas. | Foto: Barometerjatim.com/DOK
BUTUH RAIS AAM YANG ALIM: Gus Sholah, NU butuh rais aam yang alim, kepemimpinnya yang kuat dan berintergritas. | Foto: Barometerjatim.com/DOK

SIDOARJO, Barometerjatim.com – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sedang mempersiapkan rapat gabungan syuriyah dan tanfidziyah, untuk membahas status KH Ma’ruf Amin sebagai rais aam setelah mencalonkan sebagai Cawapres.

Jika akhirnya Kiai Ma’ruf mundur, siapa yang akan menggantikan posisinya sebagai rais aam PBNU?

Ketika ditanyakan ke KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) usai menghadiri pelantikan pengurus Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jatim di Sidoarjo, Minggu (12/8) sore, pengasuh Ponpes Tebuireng Jombang itu enggan menyebut nama.

• Baca: PPKN Imbau Kiai Ma’ruf Lepas Jabatan Rais Aam PBNU

“Itu terserah PBNU, saya ndak tahu, tapi tentunya banyak lah,” katanya. “Tapi bahwa warga NU memilih rais aam kan ndak ada yang aneh dengan itu kan,” tambahnya.

Gus Sholah hanya mau menyebut soal kriteria. “Kita butuh rais aam yang alim, kepemimpinnya yang kuat, intergritasnya juga bisa kita hormati lah,” tandasnya.

Saat ditanya, mungkinkah NU akan terseret ke politik praktis di Pilpres 2019 seperti yang terjadi di Pilkada lalu, Gus Sholah menegaskan, “Kalau dia (Kiai Ma’ruf) mundur kan selesai. Kalau rais aamnya mundur, maka tidak membawa NU secara organisasi,” katanya.

• Baca: Ketua PWNU Jatim: Tak Masalah Sedikit Nyimpang dari Khitthah

Sebelumnya desakan agar Kiai Ma’ruf mundur disuarakan sejumlah kalangan NU. Di antaranya Ketua Dewan Panasihat PB Pergerakan Penganut Khitthah Nahdliyyah (PB PPKN), Choirul Anam.

“PB PPKN mengimbau al mukarram Kiai Ma’ruf selaku tokoh ulama paling paham dan mengerti qunun asası, segera menyelesaikan atau menyerahkan jabatan rais aam kepada wakil rais aam,” kata mantan ketua GP Ansor Jatim yang akrab disapa Cak Anam itu.

Apalagi merujuk Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) NU hasil keputusan Muktamar ke-33 di Jombang, soal rangkap jabatan diatur dalam Bab XVI.

Dalam pasal 51 ayat 4 disebutkan: Rais ‘Aam, Wakil Rais ‘Aam, Ketua Umum, dan Wakil Ketua Umum Pengurus Besar; Rais dan Ketua Pengurus Wilayah, Rais dan Ketua Pengurus Cabang tidak diperkenankan mencalonkan diri atau dicalonkan dalam pemilihan jabatan politik.

• Baca: Gus Sholah-Ketua PWNU Jatim Tunjukkan Politik Sejati NU

Namun Ketua PWNU Jatim, KH Marzuki Mustamar menegaskan Kiai Ma’ruf akan mundur jika sudah ditetapkan KPU RI sebagai Cawapres.

“Harus! Tapi ya setelah ditetapkan KPU. Kalau belum ditetapkan ya enggak mundur. Mengapa? Kan bisa jadi gugur, misalnya karena kesehatannya. Bisa jadi nulis ijazahnya ada yang keliru, dan macam-macam. Pokoknya enggak akan memperalat NU,” paparnya.

Karena itu, tandas Kiai Marzuki, di saat belum mundur lantaran memang belum ditetapkan KPU sebagai Cawapres, maka jangan ada tuduhan kalau Kiai Ma’ruf Amin berpolitik praktis, atau bahkan melanggar khitthah NU.