Gus Sholah-Ketua PWNU Jatim Tunjukkan Politik Sejati NU

POLITIK SEJATI NU: Gus Sholah (kiri) dan Kiai Marzuki Mustamar menunjukkan politik sejati NU di arena pelantikan pengurus ISNU Jatim, Minggu (12/8). | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
POLITIK SEJATI NU: Gus Sholah (kiri) dan Kiai Marzuki Mustamar menunjukkan politik sejati NU di arena pelantikan pengurus ISNU Jatim, Minggu (12/8). | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

SIDOARJO, Barometerjatim.com – Pelantikan pengurus PW Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jatim masa khidmat 2018-2023 di Sidoarjo, Minggu (12/8), tak hanya dihadiri tokoh-tokoh penting — mulai kiai, pimpinan parpol hingga akademisi — tapi juga diwarnai pemandangan istimewa.

Apa itu? Dua tokoh penting di internal NU yang sempat beda pilihan di Pilgub Jatim 2018, KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) yang mendukung Khofifah Indar Parawansa dan Ketua PWNU Jatim, KH Marzuki Mustamar di pihak Saifullah Yusuf (Gus Ipul) bertemu.

Luar biasa! Jamaknya keluarga NU, keduanya saling memberi hormat, menunjukkan ikatan kuat ukhuwah Nahdliyah yang tak mungkin pudar hanya karena perbedaan politik di panggung Pilkada.

• Baca: Ketua PWNU Jatim: Tak Masalah Sedikit Nyimpang dari Khitthah

18 Juli lalu, pasca memenangi Pilgub Jatim, Khofifah yang ditemani KH M Roziqi (ketua tim pemenangan Khofifah-Emil Dardak) dan Nyai Hj Masruroh Wahid (ketua PW Muslimat NU Jatim), sebenarnya sudah sowan ke PWNU Jatim.

Kehadirannya diterima sejumlah elite struktural, di antara KH Hasan Mutawakkil Alallah (ketua PWNU Jatim saat itu) dan KH Agus Ali Masyhuri alias Gus Ali (Wakil Rais Syuriyah).

Namun pertemuan di arena pelantikan pengurus ISNU Jatim kali terasa lebih istimewa, seiring posisi Kiai Marzuki yang kini menjabat ketua PWNU Jatim setelah terpilih lewat Konferwil di Lirboyo, Kediri, 28-29 Juli 2018.

• Baca: Ketua PWNU Jatim: Bu Khofifah Pemimpin Berpengalaman

Terlebih di Konferwil lalu, ‘kubu’ Khofifah lebih mendorong KH Abdul Hakim Mahfudz alias Gus Kikin (Gus Kikin), sedangkan struktural PWNU disebut-sebut lebih menghendaki Kiai Marzuki untuk meneruskan kepemimpinan Kiai Mutawakkil.

Tak terakomodirnya Gus Kikin sebagai ketua tanfidziyah sempat dinilai sejumlah pihak akan memicu ketegangan baru, antara PWNU dan Pemprov mendatang di bawah kepemimpinan Khofifah.

Tapi semua penilaian itu terhapus di arena pelantikan pengurus ISNU Jatim. Khofifah yang berdiri di atas mimbar untuk memberi pengarahan, bahkan sempat menghentikan pidatonya untuk menyambut kedatangan Kiai Marzuki.

“Malulah orang-orang yang mengaku NU, tapi masih belum menganggap selesai dari sesuatu yang sudah selesai.”

Melihat Gus Sholah lebih dulu hadir, Kiai Marzuki lantas menghampiri pengasuh Ponpes Tebuireng, Jombang tersebut. Layaknya santri kepada kiainya, Kiai Marzuki mencium tangan Gus Sholah dengan kedua tangannya sampai beberapa kali. Keduanya kemudian saling berpelukan.

Setelahnya, Kiai Marzuki menyapa Khofifah. Keduanya pun saling memberi penghormatan, saling sedikit membungkuk dan mengatupkan kedua tangan masing-masing tanda memberi hormat dan salam. Benar-benar moment istimewa!

Saatnya Membangun Jatim

SALING KORMAT: Gus Hans menyaksikan Khofifah Indar Parawansa dan KH Marzuki Mustamar, saling memberi hormat di arena pelantikan pengurus ISNU Jatim, Minggu (12/8). | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
SALING HORMAT: Gus Hans menyaksikan Khofifah dan KH Marzuki Mustamar saling memberi hormat di arena pelantikan pengurus ISNU Jatim, Minggu (12/8). | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

Bagi Jubir Khofifah-Emil Dardak, KH Zahrul Azhar As’ad, moment istimewa ini menunjukkan bukti kebesaran sikap politik NU yang sebenarnya.

“Maknanya, orang-orang di sekitarnya, di second lines harus menjaga sikap serupa. Jangan menghidup-hidupkan lagi sesuatu yang sebenarnya para pemimpinnya sudah tidak memikirkan lagi,” paparnya.

Kiai muda yang akrab disapa Gus Hans tersebut menilai, baik Gus Sholah maupun Khofifah melihat perbedaan pilihan di Pilgub Jatim 2018 sudah selesai.

• Baca: Gus Hans: Selamat! Bu Khofifah Apresiasi Hasil Konferwil PWNU

“Mungkin bagi Kiai Marzuki juga sudah selesai, tetapi apakah betul orang-orang second lines-nya juga menjaga sikap yang sama? Seharusnya iya, karena sudah dicontohkan para pemimpinnya,” katanya.

“Saya melihat ini moment istimewa ya. Ini simbol, bagi Bu Khofifah siapapun pimpinan PWNU akan dihormatinya. Beliau respek dengan siapapun karena itu pilihan dari jamiyah, pilihan dari para PC.”

Tinggal bagaimana simbol yang yang sudah berjalan, bisa berlanjut dengan saling bekerjasama sesuai porsi masing-masing.

“Kalau bisa diteruskan dengan baik, bisa jadi akan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat Nahdliyin,” kata pengasuh Ponpes Queen Al Azhar Darul Ulum, Rejoso, Peterongan, Jombang itu.

• Baca: Khofifah Garis Bawahi Tekad ISNU Ingin Berwatak Gus Dur

Apa pula makna Kiai Marzuki mencium tangan Gus Sholah? “Itu tadi yang saya katakan, ini adalah politik NU yang sebenarnya, politik sejati NU. Selesai ya selesai,” sergahnya.

“Maka, malulah orang-orang yang mengaku NU, tapi masih belum menganggap selesai dari sesuatu yang sudah selesai. Karena bagi para pemimpinnya, bagi kita, sudah selesai. Mari maju ke depan dengan niat untuk kebaikan bersama,” jelasnya.

Gus Hans menambahkan, Khofifah juga sangat respek dengan ISNU dan menganggapnya sebagai mitra strategis Pemprov mendatang dalam merencanakan, membuat program, untuk masyarakat NU dan Jatim pada umumnya.