Gus Sholah: Adzan Itu Penting, Sukmawati Tak Paham Puisinya

PUISI SUKMAWATI: Gus Sholah berbincang dengan Ketum PP Muslimat NU, Khofifah Indar Parawansa saat Haul ke-23 KH Abdul Wahab Turcham, Sabtu (7/4). | Foto: Barometerjatim.com/ABDILLAH HR
PUISI SUKMAWATI: Gus Sholah berbincang dengan Ketum PP Muslimat NU, Khofifah Indar Parawansa saat Haul KH Abdul Wahab Turcham, Sabtu (7/4). | Foto: Barometerjatim.com/ABDILLAH HR

SURABAYA, Barometerjatim.com – Pengasuh Ponpes Tebuireng, KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) menilai Sukmawati Soekarnoputri tidak memahami apa yang ditulis dan dibacanya lewat puisi berjudul “Ibu Indonesia”. Akibatnya, puisi tersebut menimbulkan polemik berkepanjangan, meski yang bersangkutan telah minta maaf.

“Puisi itu kan sudah lama ada di buku dan tidak dibaca. Ketika dibaca dalam sebuah acara, justru menimbulkan masalah,” kata Gus Sholah saat menghadiri Haul ke-23 KH Abdul Wahab Turcham dan Temu Alumni Yayasan Siti Khadijah Surabaya, Sabtu (7/4).

Adik kandung almaghfurlah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu memandang ada tiga hal yang menjadi persoalan dalam puisi Sukmawati. Yakni tentang syariat, adzan dan cadar.

• Baca: Gus Sholah: Saiful Memang Bukan Cicit Pendiri NU

“Mungkin kalau masalah cadar enggak begitu masalah, karena (perempuan) di Indonesia tidak seluruhnya menggunakan cadar. Tapi kalau adzan, itu yang menjadi masalah,” katanya.

Bagi umat Islam, tandas Gus Sholah, adzan sangatlah penting. Dia mencontohkan ketika bayi lahir diadzani, lalu saat kematian, bahkan suara adzan sangat ditunggu muslim untuk berdoa. Sebab, waktu yang paling mustajab adalah selesainya adzan.

“Mungkin ada orang yang adzan memang kebetulan suaranya enggak bagus, tapi sangat berbeda dengan isi adzan. Itu luar biasa sekali,” tegasnya.

• Baca: Andai Anak Sendiri Maju, Gus Sholah Tetap Dukung Khofifah

Agar persoalan ini tidak berlarut-larut, Gus Sholah menyarankan sebaiknya Sukmawati duduk bareng dengan seluruh elemen umat Islam untuk menjelaskan apa sebenarnya pesan yang ingin disampaikannya dalam puisi tersebut.

“Kalau persoalan laporan polisi, itu terserah masing-masing pihak. Apakah mau membatalkan atau meneruskan laporannya ,” pungkasnya.