Gerindra: Romi ‘Kebesaran Baju’ untuk Dampingi Prabowo

GERINDRA MENCARI BAKAL CAWAPRES: Soepriyatno (tengah), Romi kebesaran baju untuk mendampingi Prabowo Subianto di Pilpres 2019. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
GERINDRA MENCARI BAKAL CAWAPRES: Soepriyatno (tengah), Romi kebesaran baju untuk mendampingi Prabowo Subianto di Pilpres 2019. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

SURABAYA, Barometerjatim.com – Partai Gerindra sudah memberikan mandat Calon Presiden (Capres) kepada ketua umumnya, Prabowo Subianto. Kini terserah mantan Danjen Kopassus itu untuk mencari Parpol koalisi berikut kandidat Calon Wakil Presiden (Cawapres).

Dari sekian nama kandidat bakal Cawapres yang potensial mendampingi Prabowo, Ketua DPD Partai Gerindra Jawa Timur, Soepriyatno menilai hanya Romahurmuziy yang tidak pas. Bahkan ketua umum DPP PPP yang akrab disapa Romi itu disebutnya ‘kebesaran baju’ untuk mendampingi Prabowo.

“Kalau Pak Gatot (Nurmantyo) posisi Cawapres masih oke, AHY (Agus Harimurti Yudhoyono) oke, Cak Imin (Muhaimin Iskandar) oke. Tapi Kalau Romi bajunya kegedean. Klomboran, iya kan,” katanya di kantor DPD Partai Gerindra Jatim di Jalan Gayungsari, Surabaya, Rabu (25/4).

• Baca: Gerindra Jatim: Sukmawati Tak Tahu Sejarah Bangsa Sendiri

“Anis Matta juga oke, tergantung PKS-nya siapa yang akan ditunjuk. Pak Zul (Zulkifli Hasan) juga masih masuk akal karena ketua umum partai, atau Pak Sohibul Iman. Tapi semuanya kan tergantung partai masing-masing, siapa yang diputuskan maju sebagai Cawapres dan kita semua terus berkomunikasi.”

Bukankah Romi juga ketua umum partai, mengapa disebut kebesaran maju? “Ya belum waktunya lah. Wawasannya juga kurang,” sergahnya.

Saat dipertegas, apakah Gerindra ‘sakit hati’ karena belakangan Romi rajin membongkar cerita masa lalu kala bergabung dengan tim pemenangan Prabowo-Hatta Rajasa di Pilpres 2014?

Soepriyatno menampik hal tersebut. Hanya saja, manuver politik Romi yang sekarang ‘mati-matian’ membela Joko Widodo (Jokowi) dan ‘meminggirkan’ Prabowo sebagai sesuatu yang tidak patut.

• Baca: Politikus Gerindra Ini Kritik Jokowi soal Perizinan TKA

“Begini ya, dulu dia kan satu tim dengan Pak Prabowo. Kalau kalah ya sudah kalah. Enggak usah cerita, jelek-jelekin dulu dengan Pak Prabowo. Jangan sekarang ikut Pak Jokowi, lalu menjelek-jelekkan tim, itu enggak benar,” katanya.

Artinya, tambah Soepriyatno, kalau sekarang Romi ikut Jokowi dan seandainya kalah di Pilpres 2019, nanti Romi juga berpotensi melakukan hal serupa. “Nanti Pak Jokowi diubek-ubek juga sama Romi, apa bedanya? Pak Jokowi pasti enggak akan mau. Itu yang saya maksud dengan bajunya kedodoran,” jelasnya.

Kalau sekarang ikut Jokowi, tandas Soepriyatno, “Ya ikut saja! Tinggal sekarang bertempur secara program, kegiatan atau apalah, enggak usah jelek-jelekin dulu begini-begini.”

‘Nyanyian’ Obor Rakyat

Seperti diberitakan, dalam beberapa kesempatan, Romi banyak mengungkap asal muasal label komunis dan anti-Islam yang saat ini disematkan kepada Presiden Jokowi oleh lawan politiknya yang disebutnya bermula sejak masa kampanye Pilpres 2014.

Romi yang saat itu menjadi Sekjen PPP menjabat Wakil Ketua Bidang Strategi Tim Pemenangan Prabowo-Hatta Rajasa menyebut, label yang disematkan ke Jokowi tersebut memang rekayasa provokatif dari pendukung Prabowo-Hatta tapi bukan tim resmi, lalu dibakukan ke dalam satu tabloid bernama Obor Rakyat.

• Baca: Gerindra Jatim Dorong Prabowo Kembali Bertarung di Pilpres

Bahkan Romi mengaku diminta untuk mengedit edisi pertama tabloid tersebut. Namun saat membaca kontennya, Romi mengaku langsung menolak sebab berisikan fitnah. Imbasnya, kalau Prabowo kalah bakal dapat masalah, andai menang bisa jadi lewat kekuasaan bisa ditutup kasus hukumnya.