Gerindra Jatim Dorong Prabowo Kembali Bertarung di Pilpres

DORONG PRABOWO MAJU DI PILPRES 2019: Ribuan kader Partai Gerindra se-Jatim melakukan deklarasi dukungan, meminta Prabowo Subianto maju di Pilpres 2019. | Foto: Ist
DORONG PRABOWO MAJU DI PILPRES 2019: Ribuan kader Partai Gerindra se-Jatim melakukan deklarasi dukungan, meminta Prabowo Subianto maju di Pilpres 2019. | Foto: Ist

SIDOARJO, Barometerjatim.com – Gagal di Pilpres 2014 membuat kader Partai Gerindra se-Jawa Timur kian terlecut untuk mengantarkan ketua umumnya, Prabowo Subianto ke kursi presiden lewat pertarungan di Pilpres 2019. Deklarasi dukungan dikumandangkan ribuan kader di Hotel Utami Sidoarjo, Senin (12/3).

Dorongan agar Prabowo kembali maju di Pilpres, karena hampir 10 tahun pemerintahan yang saat ini berjalan usai Pilpres 2014, nasib rakyat dan kondisi bangsa tidak semakin baik. Sedihnya lagi, Indonesia yang seharusnya menjadi negara berdaulat, justru dikendalikan bangsa lain.

“Nurani kebangsaan kita tergelitik, menyaksikan kenyataan begitu banyak rakyat yang tak beruntung nasibnya,” ucap Ketua DPC Partai Gerindra Kabupaten Bondowoso, Supriyanto saat membacakan salah satu poin deklarasi.

• Baca: Nobar 3 Parpol: Keganasan PKI Fakta, Jangan Dibolak-balik

Mereka, lanjut Supriyanto, “Terpinggirkan dari kehidupan, terusir dari kampung halaman, tercerai-berai dari keluarganya, dijauhkan dari tempatnya mencari nafkah, dipaksa bersaing dengan bangsa lain di negerinya sendiri tanpa perlindungan apapun dari pemimpin-pemimpinnya.”

Situasi ini membuat rakyat, tandas Supriyanto, merindukan pemimpin yang bisa memandu jalannya kebangsaan keindonesiaan. “Sesuai dengan harapan dan keinginan para pendiri bangsa dan negara, yang tidak bisa didikte dan bergantung oleh dan kepada bangsa lain.”

• Baca: Target 3 Besar, Romi Rangkul Para Penghancur PPP

Kader Gerindra berkeyakinan, setiap upaya pembelokan arah dan tujuan yang tidak sesuai dengan cita-cita Proklamasi Kemerdekaan RI adalah pengkhianatan kepada bangsa dan negara.

Karena itu, kader Gerindra se-Jatim meminta kesediaan Prabowo untuk memimpin bangsa Indonesia dengan menjadi Presiden RI periode 2019-2024. “Kami siap memberikan dukungan dan berjuang dengan segenap jiwa dan raga kami, dengan loyalitas dan kepatuhan sepenuhnya, sami’na wa atho’na,” tegasnya.

Mesin Lebih Siap

Sementara itu Sekretaris DPD Partai Gerindra Jatim, Anwar Sadad mengatakan, dukungan kepada mantan Danjen Kopassus tersebut merupakan aspirasi masyarakat. Berangkat dari para kader dan pengurus ketika turun ke bawah, mereka menangkap ada harapan besar agar Prabowo maju di Pilpres 2019.

“Tadi itu DPD mewadahi keinginan dan harapan masyarakat. Dari sehari-hari kita melakukan turba (turun ke bawah) baik ketika reses maupun event lainnya, selalu kita tangkap mereka menginginkan agar Pak Prabowo menjadi presiden,” paparnya.

• Baca: OTT Nyono Tak Pengaruhi Soliditas Golkar di Jatim

Anggota Komisi C DPRD Jatim itu menambahkan, aspirasi dukungan kepada Prabowo disampaikan seluruh ketua DPC Gerindra se-Jatim melalui sepuluh surat yang dikirim ke DPD Gerindra Jatim.

Sadad yang masih keluarga Ponpes Sidogiri, Pasuruan itu juga optimis bisa mengantarkan Prabowo ke kursi presiden. Terlebih mesin partai — khususnya di Jatim —  siap bergerak sampai tingkat desa dan Tempat Pemungutan Suara (TPS).

“Kita di 2014 mesin partai belum sekuat sekarang, karena itu suara Pak Prabowo kalah tips di Jatim. Tapi sekarang mesin sudah siap, maka kemenangan akan diraih. Kita akan berjuang dengan penuh dedikasi samikna watokna. Allahu akbar!” katanya penuh semangat.

• Baca: Hanura Jatim Pecah, Kelana Abaikan Manuver Soedjatmiko

Merujuk hasil Pilpres 2014 di Jatim, pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla menang di 24 kabupaten/kota dengan perolehan suara 11.669.313 (53,17 persen), sedangkan pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa menang di 14 kabupaten/kota dengan jumlah suara 10.277.088 (46,83 persen).

Dari hasil tersebut, Prabowo-Hatta menguasai seluruh wilayah Madura dan sebagian besar Tapal Kuda serta Pantura atau yang selama ini dikenal sebagai basis warga Nahdlatul Ulama (NU). Sementara Jokowi-Jusuf Kalla menguasai kawasan Mataraman dan daerah kota besar seperti Surabaya dan sekitarnya serta Malang Raya.