Gerindra Percaya PPPP, Sindir Lembaga Survei ‘Tamu Istana’

Arief Poyuono apresiasi PPPP, sindir lembaga survei yang memenangkan Jokowi-Ma'ruf. | Foto: Ist
Arief Poyuono apresiasi PPPP, sindir lembaga survei yang memenangkan Jokowi-Ma’ruf. | Foto: Ist

JAKARTA, Barometerjatim.com – Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra, Arief Poyuono mengapresiasi berbagai lembaga survei yang memenangkan Prabowo-Sandiaga, termasuk lembaga survei asal Amerika, Precision Public Policy Polling (PPPP).

“Ini saya kira lembaga survei yang benar-benar independen, bukan lembaga survei bayaran yang pada diundang ke Istana negara tahun lalu sama Kangmas Joko Widodo,” ujarnya saat dimintai tanggapan terkait hasil survei PPPP itu, Selasa (9/4/2019).

Justru Arief merasa aneh, jika lembaga-lembaga survei yang mengklaim dirinya independen dan diundang Jokowi ke Istana, lalu hasil surveinya memenangkan Paslon 01, Jokowi-Ma’ruf Amin.

Politikus yang juga ketua umum Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu itu mencontohkan Lembaga Survei Indonesia (LSI). Menurutnya, hasil survei lembaga tersebut sangat aneh karena tidak simetris dengan fakta yang terjadi di masyarakat.

“Kita bisa lihat tingginya angka pengangguran, menurunnya tingkat kesejahteraan masyarakat, pemerintahan yang korup, hingga partai pengusung Jokowi dimana ketua umum dan elitenya banyak dicokok KPK. Belum lagi membanjirnya TKA, masa iya, Jokowi bisa terus tinggi tingkat elektabilitasnya,” paparnya.

Seperti diberitakan, PPPP ikut meramaikan hasil survai Pilpres 2019. Survei yang melibatkan 3.032 responden itu menyebut, 58 persen responden menyatakan bahwa kondisi Indonesia memburuk di bawah pemerintahan Jokowi.

Salah satu variabel, Indonesia dianggap dalam ancaman utang yang makin meningkat, naik 69 persen menjadi Rp 4.416 triliun pada 2014-2018.

Dalam survei ini juga disebutkan, 54 persen responden menginginkan presiden baru, sedangkan yang masih menginginkan Jokowi kembali menjadi presiden 37 persen, dan 9 persen sisanya tidak menjawab.

Ingin Presiden Baru

Dari 54 persen responden tersebut, menganggap Jokowi tidak menjalankan pemerintahan dengan benar yang menghasilkan clean government, justru sebaliknya banyak terjadi praktik korupsi yang berkaitan dengan proyek-proyek infrastruktur.

Ketika ditanyakan siapa kandidat yang akan dipilih jika Pilpres 2019 digelar saat survei dilaksanakan, 38 persen responden memiilih Jokowi, Prabowo dipilih 40 persen, dan sisanya belum memutuskan.

Survei dilakukan PPPP terhadap warga negara Indonesia yang memiliki hak pilih dalam Pemilu 2019 dan juga untuk distribusi media umum.

Wawancara lengkap dilakukan 22 Maret-4 April 2019 dengan jumlah responden 3.032 dari 800.091 TPS di 499 kabupaten dan kota di 34 provinsi. Margin of error kurang lebih 1,78 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.•

» Baca Berita Terkait Pilpres 2019, Gerindra