Gempa Susulan, Kemensos Minta Tagana Lebih Waspada

TINJAU LOKASI: Harry Hikmat (tengah) saat meninjau proses penanganan kebencanaan gempa bumi di Posko Pengungsi Kecamatan Kalibening, Minggu (22/4). | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
TINJAU LOKASI: Harry Hikmat (tengah) saat meninjau proses penanganan kebencanaan gempa bumi di Posko Pengungsi Kecamatan Kalibening, Minggu (22/4). | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

BANJARNEGARA, Barometerjatim.com – Gempa bumi susulan yang masih terus terjadi di Kecamatan Kalibening, Kabupaten Banjarnegara, Jateng, membuat Kementerian Sosial (Kemensos) mengintruksikan Taruna Siaga Bencana (Tagana) dan Tim Dukungan Psikososial (LDP) untuk meningkatkan kewaspadaan serta mengutamakan perlindungan terhadap warga.

“Terutama perlindungan kepada kelompok rentan yakni ibu hamil, lansia, anak-anak dan penyandang disabilitas,” kata Direktur Jenderal (Dirjen) Perlindungan dan Jaminan Sosial Kemensos, Harry Hikmat saat meninjau proses penanganan kebencanaan gempa bumi di Posko Pengungsi Kecamatan Kalibening, Minggu (22/4).

Harry menambahkan, sesaat setelah terjadinya gempa susulan, pengungsi memerlukan sapaan dan penguatan. Hal ini menjadi tugas tim LDP dan Tagana Psikososial.

• Baca: Perhatian Lebih, Mensos Temui Penyandang Disabilitas di Solo

“Dari hasil kunjungan ke Desa Kasinoman, Desa Kertosari, Desa Plorengan dan Desa Sidakangen, saya melihat perhatian kepada kelompok rentan harus ditingkatkan,” tuturnya.

“Berdasarkan hasil asesmen tim LDP, ketika ada gempa susulan anak-anak panik, ketakutan, menangis dan menjerit-jerit. Para lansia terutama ibu-ibu mengalami kecemasan diluar kewajaran dan takut masuk rumah.”

Sementara pengungsi yang anggota keluarganya meninggal mengalami kesedihan yang mendalam, takut masuk rumah, sulit tidur dan tidak mau makan serta mengalami kebingungan.

• Baca: Tak Lagi Mensos, Khofifah: Hatiku di Jawa Timur

Ditemui Harry di salah satu tempat pengungsian di Desa Kasinoman, nenek Dakemi (90) mengaku masih belum berani pulang ke rumah. Selama lima hari dia memilih bertahan di tenda pengungsian bersama anak, cucu dan cicitnya.

“Sebenarnya ingin pulang ke rumah. Kalau malam di tenda (pengungsi) dingin, kadang hujan juga. Mudah-mudahan ada bantuan pemerintah untuk rumah kami yang rusak,” tutur Dakemi.

Sementara seorang ibu dengan balita, Samirah (25) tak mampu menahan air matanya saat tim dari Kemensos menyalaminya. Sambil menggendong anak semata wayangnya, Hikam (5), dia menuturkan dengan terbata-bata saat gempa dia tengah menidurkan anaknya.

• Baca: Longsor Pacitan, Mensos Serahkan Bantuan Rp 1,3 Miliar

Harry menambahkan, kesimpulan dari hasil asesmen menunjukkan pengungsi mengalami kesedihan yang mendalam dan merasakan trauma dan kecemasan akan kehidupan selanjutnya.

Karena itu, menurutnya, pengungsi memerlukan layanan psikososial secara berkelanjutan (trauma healing, counseling, spirit of life, life review therapy, spiritual teraphy, dan play therapy) dan dalam jangka panjang diperlukan penanganan pasca trauma atau Post Trauma Stres Disorder (PTSD).

“Layanan trauma healing, konseling dan psikoterapi akan terus dilakukan hingga beberapa bulan ke depan sesuai kebutuhan meskipun masa tanggap darurat selesai,” katanya.

Intervensi LDP

Seperti diketahui sejak Kamis (19/4) hingga Minggu (22/4), sebanyak 12 personel Tagana Psikososial, 8 orang Pekerja Sosial dan 30 Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), serta 2 orang TKSK dari wilayah Kabupaten Banjarnegara, Purbalingga, Pekalongan dan Banyumas telah melakukan intervensi LDP.

Kegiatan yang dilakukan meliputi pemberian motivasi, konseling, trauma healing, dan berdialog dengan kelompok rentan di beberapa titik pengungsian. Posko LDP Kemensos RI berada di SDN 2 Kasidengan, Desa Kasidengan, Kalibening.

“Kemudian secara bertahap akan dilakukan perluasan layanan psikososial di titik–titik pengungsian lain yang belum terjangkau. Hal ini intens dilakukan pada saat tanggap darurat, transisi darurat sampai masa pemulihan,” kata Harry.