Emil: Kertosono Titik Episentrum Strategis Baru di Jatim

RAMAH TAMAH DI KERTOSONO: Emil Dardak beramah tamah dengan sejumlah aktivis dan jurnalis di Kertosono, Selasa (6/3). Menuju episentrum strategis di Jatim. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
RAMAH TAMAH DI KERTOSONO: Emil Dardak beramah tamah dengan sejumlah aktivis dan jurnalis di Kertosono, Selasa (6/3). Menuju episentrum strategis di Jatim. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

NGANJUK, Barometerjatim.com – Cawagub Jatim nomor satu, Emil Elestianto Dardak menyebut Kecamatan Kertosono, Nganjuk sebagai kawasan yang amat strategis dalam percepatan mobilitas pembangunan di Jatim.

Kota kecamatan yang berbatasan dengan Kabupaten Kediri dan Jombang itu dinilai sebagai titik episentrum pertumbuhan baru yang luar biasa, terutama untuk Nganjuk dan kota-kota sekitarnya.

Episentrum baru yang dimaksud Emil, yakni setelah terhubungnya tol Kertosono-Surabaya serta rencana Kertosono akan tersambung sampai dengan Solo dan Kediri.

”Tentunya hal ini akan membuat Kertosono menjadi sangat strategis,” ujar Emil saat beramah tamah dengan sejumlah aktivis dan jurnalis di Kertosono, Selasa (6/3).

• Baca: Di Nganjuk, Emil Berkeringat Bersama Petani Bawang

Emil menilai posisi Kertosono sangat penting, misalnya, dalam jangka pendek terkait instalasi gas industri yang saat ini terhenti di Ploso, Jombang bisa disambung ke Kertosono. Ini tentunya akan menarik pertumbuhan industri di Kertosono dan sekitarnya.

”Untuk itu tata ruangnya harus kita pilah. Dari situ nanti exit tol mana yang berpotensi menjadi pengembangan kawasan perdagangan, jasa dan industri berikutnya,” paparnya.

Cawagub pendamping Khofifah Indar Parawansa itu menambahkan, Kertosono juga bisa menjadi titik pertemuan yang strategis dan efektif, misalnya bagi orang Surabaya yang ingin bertemu dengan orang Trenggalek atau kawasan sekitarnya.

• Baca: Ini Dia Program Pendidikan Andalan Khofifah-Emil: “Tis-Tas”

”Sama-sama jaraknya satu jam, satu jam setengah tol ketemu. Istilahnya pertemuan industri ataupun pertemuan bisnis lainnya itu ada di Kertosono dan inilah yang ingin kita coba bangun,” tegasnya, sembari menambahkan sejak pengoperasian tol Kertosono–Surabaya, jarak tempuh dua kota ini hanya berkisar satu jam perjalanan saja.

Saat ini, tambah Emil, tantangannya masih sering terjadi kemacetan di daerah Mengkreng. Persimpangan jalan di Mengkreng menjadi titik pertemuan mulai kereta api dan kendaraan lain dari tiga titik, yakni Kediri, Jombang dan Nganjuk. Ini masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu segera dituntaskan.

“Di Peterongan (Jombang) sudah dibangun flyover. Pekerjaan rumah berikutnya adalah persimpangan Mengkreng ini. Mungkin dengan itu arus padat di Mengkreng bisa terurai,” pungkasnya.