Di Nganjuk, Emil Berkeringat Bersama Petani Bawang

IKUT BERKERINGAT: Cawagub Jatim, Emil Dardak berkeringat bersama petani bawah di Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, Selasa (6/3). | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
IKUT BERKERINGAT: Cawagub Jatim, Emil Dardak berkeringat bersama petani bawah di Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, Selasa (6/3). | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

NGANJUK, Barometerjatim.com – Emil Elestianto Dardak memang pribadi yang kaya program dan inovatif. Di setiap daerah yang dikunjunginya, Cawagub Jatim pendamping Khofifah Indar Parwaansa itu selalu datang dengan solusi dari setiap permasalahan yang dihadapi elemen masyarakat setempat.

Saat berkunjung ke Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, Selasa (6/3), Emil tak hanya ikut berkeringat membantu beban pekerja, tapi juga mengenalkan program Information Super Corridor (ISC) untuk mengatasi problem yang dirasakan petani bawang merah.

“Lewat program ini teman-teman petani dan pedagang bisa tahu, ketika ditanya harganya berapa. Di Surabaya saja mereka tidak bisa menyebut, pokoknya saya diberi harga sekian,” katanya setelah berdiskusi dengan petani.

• Baca: Simbol Pengasih, Nasdem Hadiahi Emil Akik Kecubung

Makanya, tandas Emil, di sembilan program pokok andalan Khofifah-Emil (Nawa Bhakti Satya) ada Jatim Agro (Bhakti 6). “Karena agro tidak hanya sekadar mencari untung rugi dari sektor pertanian, melainkan esensinya melindungi kedaulatan pangan termasuk kedaulatan bawang merah,” paparnya.

Emil datang ke Sukomoro untuk navigasi program dengan menelusuri akar permasalahan terkait anjloknya harga bawang merah di hulu. Di tempat ini, bupati Trenggalek non aktif itu mendapatkan sejumlah fakta yang memberi andil lemahnya posisi tawar petani ketika berhadapan dengan pasar.

“Seperti yang kita lihat di sini, ini disebut dengan labuhan kedua. Di labuhan dua ini memang sangat tidak disarankan untuk menanam bawang merah, karena hasilnya tidak akan optimal karena beberapa faktor,” ujarnya sambil memperlihatkan lokasi lahan di Sukomoro.

• Baca: Blusukan ke Pasar Praban, Emil Kenalkan Program “Gemilang”

Hanya saja, posisi petani bawang merah disebut Emil juga dilematis. Misalnya sudah terlanjur punya stok bibit sayang kalau tidak ditanam. Padahal untuk nutup biaya obat sampai pupuk belum tentu terkejar.

Sebatas untuk pemupukan urea saja tidak memadai, sedangkan pupuk lainnya yang memadai tidak bersubsidi. Inilah sebut Emil salah satu permasalahan lain yang menjadikan suatu kendala.

Kendala lain di hulu, ternyata bawang merah yang berasal dari Bima malah lebih bagus kualitasnya dibandingkan dengan yang dari Nganjuk. “Padahal bibitnya berasal dari Nganjuk, ini ironis,” ucapnya.

• Baca: Kritik Emil-Arumi Hadir di CFD, Demokrat: PDIP Takut Kalah!

Petani di Nganjuk pun semakin dibuat bingung karena mendapat info kalau harga bawang merah tetap, naik mereka tetap sengsara. Di sinilah perlunya program ISC, yang bisa benar-benar dapat input harga retail bawang merah sampai ke ujung.

“ISC adalah membangun jejaring informasi dua arah, dari pelaku usaha lokal dan mitra dalam serta luar daerah,” tandasnya, sambil ikut berkeringat membantu petani yang mengangkat bawang.

Usai blusukan, para petani berharap bila Cawagub termuda dan berprestasi ini terpilih, diharapkan bisa membantu petani bawang merah. “Saya salut dengan Pak Emil, muda dan bakat memimpin,” ujar Riyanto, salah seorang petani.