Bergaya Rambut Klasik, Emil ‘Bedah Ekonomi’ di Raker Apindo

MAHIR BICARA EKONOMI: Dengan penampilan gaya potongan rambut klasik, Cawagub Emil Dardak tampil memukau di acara Raker dan Konsultasi Apindo, Kamis (15/3). | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
MAHIR BICARA EKONOMI: Dengan penampilan gaya rambut klasik, Cawagub Emil Dardak tampil memukau di acara Raker dan Konsultasi Apindo Jatim, Kamis (15/3). | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

SURABAYA, Barometerjatim.com – Ada yang berbeda dari penampilan Emil Elestianto Dardak. Cawagub Jatim nomor urut satu itu tampil dengan model rambut baru, saat memberi pemaparan di Rapat Kerja dan Konsultasi Provinsi Tahun 2018 Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jatim di Novotel Samator, Surabaya. Kamis (15/3).

Tampil dengan gaya rambut klasik rolling back pompadour Emil terlihat jauh lebih muda, eksekutif dan fresh. Selaras dengan ide-ide segar terkait pembangunan ekonomi yang disampaikan di hadapan ratusan pengurus Apindo se-Jatim.

Dalam pemaparannya, doktor ekonomi termuda se-Asia Pasifik itu menawarkan pembangunan sektor ekonomi berkeunggulan berbasis daya saing wilayah, kebijakan dan kelembagaan. Apalagi Emil dipilih mendampingi Cagub Khofifah Indar Parawansa di antaranya untuk melengapi kepemimpinan dari perspektif kebijakan ekonomi, terutama percepatan infrastruktur dan pengembangan wilayah.

• Baca: Navigasi Sistem Transportasi, Emil Blusukan di KA Komuter

“Jatim adalah driver ekonomi Indonesia yang luar biasa dengan sumbangan GDP (Gross Domestic Product) untuk Indonesia kurang lebih 15 persen. Tahun lalu telah menyentuh kurang lebih Rp 2 ribu triliun. Jatim menyumbang seperenam dari 34 provinsi di Indonesia,” paparnya.

Dari sisi industri, tambah Emil, makin siginifikan lagi. Jatim menyumbang kurang lebih seperempat dari industri nasional. “Itu artinya kita memiliki satu harapan bahwa Jatim bisa menjadi lokomotif perekonomian Indonesia ke depan,” imbuhnya.

Karena itu, karakter serta komitmen dari pemegang amanah di pemerintahan menjadi hal yang sangat penting. “Dan itulah sebenarnya yang menentukan kualitas dari kepemimpinan untuk menjalankan provinsi ini,” katanya.

Bagi doktor muda bidang Ekonomi tersebut, Jatim patut menjadi lokomotif ekonomi nasional mengingat Indonesia menghadapi tantangan tidak sederhana, termasuk persaingan antarnegara. “Karenanya, membangun postur ekonomi Jatim menjadi penting untuk menjawab tantangan tersebut,” ujarnya.

Koridor Maritim

DAYA SAING INDUSTRI: Industri di Jatim perlu dipacu untuk membangun industri turunan kedua atau ketiga agar daya saing semakin kuat. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
DAYA SAING INDUSTRI: Industri di Jatim perlu dipacu untuk membangun industri turunan kedua atau ketiga agar daya saing semakin kuat. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

Tak hanya persaingan antarnegara, tantangan lain misalnya beberapa isu dalam dunia ketenagakerjaan terkait digitalisasi dan otomatisasi. Menghadapi itu semua, kata Emil, Jatim membutuhkan lompatan luar biasa agar mampu beradaptasi dalam perubahan.

”Infrastruktur menjadi prasyarat penting untuk meningkatkan daya saing. Namun saat ini kita melihat bahwa infrastruktur masih terfokus pada Gerbangkertasusila (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo dan Lamongan),” katanya.

Dia mencontohkan untuk memajukan wilayah Madura salah satu solusinya dibuat Jembatan Suramadu. Namun untuk berkembang lebih pesat lagi hal itu dinilai belum cukup, pesisir utara Madura perlu didorong sebagai gerbang koridor maritim yang ada di utara Pulau Jawa.

• Baca: Emil: Kertosono Titik Episentrum Strategis Baru di Jatim

Menurut Emil, dibutuhkan konektivitas selatan ke utara yang benar-benar kuat sebagai penghubung Suramadu dan Pelabuhan Tanjung Bulu Pandan, Bangkalan. “Maka aksebilitas menjadi kunci dalam meningkatkan ekonomi Jatim,” kata suami artis Arumi Bachsin itu.

Sementara terkait industri, Emil melihat problem di Jatim adalah bahan baku. Solusinya, industri di Jatim perlu dipacu untuk membangun industri turunan kedua atau ketiga agar daya saing semakin kuat. Mengingat kompetitor industri primer adalah industri di luar Pulau Jawa.

”Inilah tugas pemerintah untuk menciptakan peluang industri turunan kedua atau ketiga. Kalau getah pinus bisa menjadi gondorukem atau terpentin, maka bisa diolah lagi hingga menjadi tiner, tinta dan cat. Produk-produk ini harus masuk ke Jatim, industri kita harus lari ke arah derivatif ketiga atau keempat,” pungkasnya.