Benarkah Gus Dur Wali Allah? Ini Kesaksian Khofifah

UNGKAP KEWALIAN GUS DUR: Khofifah Indar Parawansa memberikan ceramah agama dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw dan haul Syekh Abdul Qodir al Jaelani, para masyayaikh dan Gus Dur di Bangil, Pasuruan, Minggu (31/12) malam. | Foto: Barometerjatim.com/RADITYA DP
UNGKAP TANDA KEWALIAN GUS DUR: Khofifah Indar Parawansa memberikan testimoni soal tanda-tanda kewalian Gus Dur dalam acara haul di Bangil, Pasuruan, Minggu (31/12) malam. | Foto: Barometerjatim.com/RADITYA DP

PASURUAN, Barometerjatim.com – Ya! Benarkah Gus Dur wali Allah? Sebagian besar masyarakat, terutama warga Nahdlatul Ulama (NU), menganggapnya demikian. Apalagi, setiap hari, peziarah dari berbagai daerah mendatangi makamnya di kompleks pemakaman keluarga Ponpes Tebuireng, Jombang.

Dalam catatan Pengasuh Ponpes Tebuireng yang juga adik kandung Gus Dur, KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) tak kurang dari 1,5 juta setahun makam Presiden ke-4 RI tersebut didatangi peziarah dari seluruh penjuru Indonesia dengan beragam latar belakang agama dan budaya.

Terkait kewalian Gus Dur, Menteri Sosial yang juga Ketua Umum PP Muslimat NU, Khofifah Indar Parawansa berbagi informasi untuk memberikan penguatan. Salah satu pengalaman yang dirasakan ketika dia diminta mendaftarkan Gus Dur sebagai calon presiden, pasca sidang MPR menolak laporan pertanggungjawaban Presiden ke-3 RI, BJ Habibie.

• Baca: Jalan Kaki 1 Km, Khofifah Hadiri Sewindu Haul Gus Dur

“Laporan pertanggungjawaban Presiden BJ Habibie ditolak MPR pukul 12 malam, setengah jam kemudian saya ditelepon Gus Dur agar didaftarkan sebagai calon presiden,” kenang Khofifah yang saat itu menjabat Sekretaris Fraksi PKB di MPR.

Testimoni Khofifah tersebut disampaikannya saat Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw yang dirangkai dengan Haul Syekh Abdul Qodir al Jaelani Ra, para masyayaikh, dan Haul ke-8 Gus Dur yang digelar Idaroh Syu’biyah Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu’tabarah An Nahdliyyah (Jatman) Bangil pimpinan KH Zainul Musta’in di Bangil, Pasuruan, Minggu (31/12) malam.

Hadir dalam kesempatan tersebut Katib Aam Syuriah PBNU yang juga Jubir Gus Dur saat menjadi Presiden ke-4 RI, KH Yahya Cholil Staquf, serta Habib Abubakar bin Hasan Assegaf dari Pasuruan.

• Baca: Demi Selamatkan Gus Dur, Khofifah Sibuk Bagikan Sedekah

Khofifah menambahkan, dirinya harus berpikir dan bertindak cepat karena hanya punya waktu 6,5 jam sebelum pendaftaran ditutup pukul 07.00 WIB. “Selain waktunya dinihari, persyaratan pencalonan presiden kan macam-macam,” katanya.

Apalagi di antara persyaratan itu ada yang harus ditandatangani sejumlah pimpinan lembaga. Misalnya Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) atau dulu dikenal dengan nama Surat Keterangan Kelakuan Baik (SKKB) yang harus ditandatangani Polres Jakarta Selatan.

Lalu surat keterangan tidak sedang dipidana yang harus ditandatangani ketua PN Jakarta Selatan, serta surat keterangan bahwa Gus Dur tidak punya utang yang harus ditandatangan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN).

• Baca: Setelah Tujuh Tahun, Wasiat Gus Dur ke Khofifah Terpenuhi

“Jam setengah satu ketika Gus Dur dawuh itu saya masih di ruang sidang. Kemudian saya telepon Mbak Yenny (putri Gus Dur) agar membantu menyiapkan surat-surat tersebut. Kata Mbak Yenny: Gimana caranya, ini sudah dinihari,” ucapnya.

Tak menemukan jalan lewat Yenny, Khofifah lantas menelepon Fajrul Falaakh, kakak kandung Ketua Umum PPP, Romahurmuziy. “Saya berharap menemukan solusi karena beliau pakar hukum. Tapi Mas Fajrul bilang: Bagaimana caranya, dinihari kantor-kantor enggak ada yang bisa diketuk pintunya.”

Waktu terus berjalan. Khofifah lantas punya ide membuat surat yang diketik sendiri untuk ditandatangani Gus Dur. Pukul 04.00 WIB, ketiga surat tersebut ditandatangani Gus Dur. Satu jam kemudian seluruh berkas ditandatangani Ketua Fraksi PKB di MPR, KH Yusuf Muhammad (Gus Yus) untuk selanjutnya dibawa Khofifah ke tempat pendaftaran calon presiden.

“Jadi, dulu, pendaftaran Gus Dur sebagai calon presiden bukan dilakukan dengan berombong-rombong sambil membaca Shalawat Badar, tapi yang mendaftarkan cuma saya dan Pak Arifin Junaidi (sekarang Ketua PP LP Ma’arif NU).

• Baca: Keputusan Gelar Pahlawan Gus Dur di Tangan Jokowi

Pukul 07.00 WIB pendaftaran ditutup, pukul 10.00 WIB sidang pleno pemilihan presiden dibukan Ketua MPR, Amien Rais. Khofifah semakin deg-degan khawatir berkas tak memenuhi syarat. Sampailah Sekjen MPR mengumumkan bahwa seluruh berkas administrasi calon presiden atas nama Gus Dur dinyatakan lengkap dan memenuhi syarat. Lega!

“Mungkin saya orang paling deg-degan saat itu. Seluruh orang di PKB dan masyarakat tidak tahu, bahwa kelengkapan seluruh persyaratan pencalonan Gus Dur sesunguhnya ditandatangani sendiri oleh Gus Dur,” ungkap Khofifah yang akan maju sebagai calon gubernur di Pilgub Jatim 2018.

Nah, kalau kita mau menghitung, tambah Khofifah, “Salah satu tanda kewalian Gus Dur ya di situ. Bagaimana tanda tangan pimpinan lembaga ditandatangani sendiri dan itu dianggap memenuhi syarat. Sampailah proses pemilihan dan alhamdulilah Gus Dur menang.”

‘Senam Jantung’

GUS DUR WALI ALLAH?: KH Yahya Cholil Staquf, haul Gus Dur diperingati di banyak tempat. Kira-kira ya karena Gus Dur memang wali Allah. | Foto: Barometerjatim.com/RADITYA DP
TANDA LEWAT PERINGATAN HAUL: KH Yahya Cholil Staquf, haul Gus Dur diperingati di banyak tempat. Kira-kira ya karena Gus Dur memang wali Allah. | Foto: Barometerjatim.com/RADITYA DP

Begitu pula saat Khofifah mendaftarkan Megawati Soekarnoputri sebagai calon wakil presiden atas permintaan Gus Dur. Saat Khofifah meminta kelengkapan adminstrasi ke PDIP tidak ada yang bisa memberikan, karena dari awal PDIP memang hanya mencalonkan ketua umumnya sebagai Capres, bukan Cawapres.

Jalan pintas diambil. Khofifah melakukan cara seperti ketika mendaftarkan Gus Dur. Mengetik sendiri berkas dan mendaftarkan pencalonan Megawati tanpa ditemani seorang pun, baik dari PDIP maupun PKB. Sampai di tempat pendaftaran, petugas sempat menanyakan kelengkapan administrasi karena berkas yang dibawa hanya satu lembar.

“Saya bilang, lho kemarin kan sudah nyalon presiden, persyaratannya persis seperti yang kemarin,” kata Khofifah yang disambut aplaus dan ger-geran jamaah yang hadir.

• Baca: Amanat Gus Dur: Bantulah Khofifah, Dia Srikandinya NU

Spot jantung Khofifah terhenti, saat Sekjen MPR mengumumkan bahwa kelengkapan administratif usulan PKB MPR RI terhadap pencalonan Megawati dinyatakan lengkap dan memenuhi syarat.

Dari dua pengalaman tersebut, menurut Khofifah, menjadi penguat keyakinan bahwa Gus Dur memang mimba’dil auliya (wali Allah). “Hal-hal seperti ini akan menjadi bagian penting ketika kita berada di dalam sebuah jamiyah NU,” tandasnya.

Apalagi ada kesamaan antara Gus Dur dengan para wali Allah, di antaranya Syekh Abdul Qodir Al Jaelani: Sama-sama dermawan. “Dalam banyak riwayat manakib yang kita baca, Syekh Abdul Qodir hobinya mengumpulkan anak muda dan dikasih pekerjaan. Begitu pula dengan Gus Dur yang bersuka cita dalam berbagi,” katanya.

• Baca: Rizal Ramli: Alumni Tebuireng, Pilih Khofifah Loyalis Gus Dur!

Selain Khofifah, tanda-tanda kewalian Gus Dur juga diungkap Katib Aam Syuriah PBNU, KH Yahya Cholil Staquf. Salah satunya bisa dilihat dari haul Gus Dur yang diperingati di banyak tempat. Padahal, katanya, haul kiai biasanya hanya digelar di Ponpesnya sendiri dan sekali dalam setahun.

“Kalau ada ulama dihauli dimana-mana, setiap orang bikin haul, itu bisanya wali. Contohnya Syekh Abdul Qodir Al Jaelani, dihauli dimana-mana. Bahkan setahun enggak cuma sekali, waktunya pun bisa dipilih sendiri,” katanya.

Hal sama juga terjadi pada Syekh Yasin bin Isa al Fadani atau Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki Al Hasani. “Nah ini Gus Dur kok sama, dihauli dimana-mana. Di Tebuireng, Jakarta, Bangil, Rembang, Jepara dan lain-lain. Itu kira-kira ya karena Gus Dur memang wali Allah,” tandasnya.