Setelah Tujuh Tahun, Wasiat Gus Dur ke Khofifah Terpenuhi

PEJUANG KEMANUSIAAN: Istri Gus Dur, Nyai Hj Sinta Nuriyah Wahid di makam sang suami dengan batu nisan “pejuang kemanusiaan”. | Foto: Ist

SURABAYA, Barometerjatim.com – 2,5 tahun sejak haul ke-5 di Ciganjur, Jakarta Selatan, 27 Desember 2014, wasiat KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang disampaikan Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa ke keluarga almarhum akhirnya terpenuhi di penghujung Ramadhan lalu.

Lima tahun sebelumnya, 31 Desember 2009, sebenarnya Khofifah sudah mengungkapkan wasiat tersebut ke wartawan usai pemakaman ‘bapak ideologinya’ di Kompleks Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Namun kepada keluarga Gus Dur baru dilakukan saat haul ke-5.

Wasiat yang dimaksud, Gus Dur meminta agar di batu nisannya ditulisi kalimat dalam bahasa Inggris: The Humanist Died Here. Bahkan pesan itu disampaikan Gus Dur ke Khofifah sampai tiga kali.

• Baca: Lewat Lukisan, Cara Gusdurian Madura Dukung Khofifah

Meski dengan kalimat agak berbeda, keluarga Gus Dur memenuhi wasiat tersebut dengan menuliskan: Here Rest a Humanist. Selain ditulis dalam Bahasa Indonesia juga Bahasa Arab, Inggris serta huruf kanji.

“Gus Dur dikenal sebagai Bapak Pluralisme, tetapi pluralisme itu dibangun atas nama humanisme. Atas nama kemanusiaan-lah Gus Dur menghargai keberagaman ini. Jadi humanisme itu di atasnya pluralisme,” kata Khofifah di sela open house lebaran di kediamannya, Jemursari, Surabaya, Senin (26/6) lalu.

Menurut Khofifah, ini sekaligus pelajaran tidak hanya untuk Gusdurian tapi juga warga bangsa, kalau kita menolong atau melindungi orang tidak perlu pakai ‘dalam rangka’. “Karena rasa kemanusiaan-lah kemudian kita menolong orang, kita menyayangi siapapun,” tandasnya.

• Baca: Inovasi ‘Pembebasan Gepeng’ Diganjar Penghargaan Top 99

Sebelumnya, pemasangan nisan “pejuang kemanusiaan” dilakukan pengurus Ponpes Tebuireng atas permintaan keluarga Gus Dur. “Keluarga Gus Dur datang ke Tebuireng. Namun untuk peresmian direncanakan sekitar Syawal,” terang Lukman, pengurus Ponpes Tebuireng.

Menurutnya, pemasangan batu nisan itu sekaligus akan memudahkan para peziarah untuk mengetahui posisi makam Gus Dur. “Selama ini masih banyak peziarah yang bertanya-tanya, sehingga dengan batu nisan itu peziarah juga langsung tahu makam Gus Dur,” ujarnya.

Batu nisan tersebut, tambah Lukman, dibuat dengan ukuran lebih rendah dari batu nisan kakek Gus Dur, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari. “Sebagai penanda saja dan tidak masalah karena tidak terlalu tinggi, tidak melebihi nisan Mbah Hasyim,” ucapnya.