Banjir Jombang, Warga Nekat Lawan Arus Bersihkan Sampah!

SAMPAH KAYU: Dua orang warga membersihkan sampah kayu di Bendungan Rolak 70, Sabtu (6/2/2021). | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
SAMPAH KAYU: Dua orang warga membersihkan sampah kayu di Bendungan Rolak 70, Sabtu (6/2/2021). | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

JOMBANG, Barometerjatim.com – Tanpa pengamanan memadai, dua orang warga Desa Gudo, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang, berjibaku melawan arus deras sungai untuk membersihkan sampah kayu dari gunung di Bendungan Rolak 70, Sabtu (6/2/2021).

Perlahan, keduanya memilah serta menyingkirkan ranting-ranting kayu maupun balok besar. Sudah 10 hari ini keduanya membersihkan sangrah (sampah) di Bendungan Rolak 70.

“Saat itu kiriman kayu dari gunung mulai tiba. Pada hari kelima, Bendungan Rolak 70 jebol. Sampah-sampah kayu hanyut terbawa aliran air,” terang Arif yang bertugas mengatrol kayu secara manual.

“Kebanyakan kayu kiriman yang dari atas besar-besar, paling besar mencapai empat meter. Ketambahan kayu-kayu yang di pinggir-pinggir, campur sengon, waru, ringin, dan barongan,” tambahnya.

Seperti diberitakan, dalam tiga hari terakhir banjir melanda sejumlah desa di Kecamatan Bandar Kedungmulyo. Tanggul Sungai Afvour Besuk dan Brawijaya Jebol pada Kamis (4/2/2021) dini hari.

Selain menggenangi perkampungan di wilayah Kecamatan Bandar Kedungmulyo, juga menggenangi Jalan Nasional Jombang– Kertosono tepatnya di Dusun Manisrenggo, Desa Gondangmanis.

“Penyebab banjir adalah jebolnya Bendungan Rolak 70, yaitu sistem Kali Konto untuk pengendalian sedimen Gunung Kelud,” terang Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas, Mohammad Rizal.

Direktur Utama Jasa Tirta I, Raymond Valiant Ruritan menambahkan, problem terbesar di aliran Sungai Konto adalah sampah kayu. “Volume yang tertangkap di beberapa bendungan ya sekitar 2.000-3.000 meter kubik,” tandas Raymond.

Sampah kayu tersebut beragam. Mulai ranting, bambu dan sebagainya sehingga menghalangi aliran air. “Air otomatis naik, akibat dari air naik adalah meluap. Dan kalau dia meluap ya tanggul akan kalah,” jelasnya.

Mengatasi permasalahan tersebut, Jasa Tirta I telah mengoperasikan dua unit alat berat untuk mengangkat sampah walaupun kondisi saat ini tidak mendukung.

“Tapi ya alat kami sudah bekerja. Ada dua. Saat ini di Kabupaten Jombang ditambah dengan beberapa alat lain dari Pemprov Jatim dan Balai Besar. Ya moga-moga bisa ngangkat sampah dan mencegah timbulnya luapan yang baru,” ujar Raymond.

Menurutnya, banjir di Jombang tahun ini memang bukan yang terparah dibandingkan pada 2004 dan 2007. Hanya saja, banjir tahun ini memiliki risiko lebih besar karena air meluap masuk Kabupaten Jombang.

» Baca Berita Terkait Bencana Alam