Ada Desain ‘Politik Merah’ PDIP di Balik Kata “Bangsat” Arteria

WASPADAI SEKULARISASI INDONESIA: Tokoh NU Jatim, Choirul Anam curigai ada desain 'politik merah' PDIP di balik kata "Bangsat" Arteria Dahlan. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
WASPADAI SEKULARISASI: Cak Anam curigai ada desain ‘politik merah’ PDIP di balik kata “Bangsat” Arteria Dahlan. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

SURABAYA, Barometerjatim.com – Protes keras atas manuver politik lewat kata “bangsat” yang dilontarkan politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Arteria Dahlan terhadap Kementerian Agama (Agama) terus mengalir dari berbagai daerah.

Setelah Dewan Pengurus Wilayah Perkumpulan Guru Madrasah Indonesia (PGMI) Jabar dan Penyuluh Agama Islam se-Lampung, Ketua PP ISNU Choirul Sholeh Rasyid, kini giliran tokoh Nahdlatul Ulama (NU) Jatim, Choirul Anam angkat bicara.

Menurut pria yang akrab disapa Cak Anam itu, apa yang dilakukan Arteria bukan sebatas kritik tapi bentuk kesengajaan. “Saya kira Arteria memang sengaja. Itu juga bukan slip of the tongue (keseleo lidah). Itu disengaja,” tandasnya kepada wartawan, Senin (2/4).

• Baca: Cak Anam: PKB-Ipul Cuma Manfaatkan Kiai di Pilgub Jatim

Namun orang dekat Gus Dur itu minta masyarakat — terutama umat Islam — jangan hanya terfokus pada manuver politik Arteria, karena dia mencurigai ada desain besar ‘politik merah’ yang disiapkan PDIP terhadap pelemahan umat Islam di Tanah Air.

“Saya tak habis pikir, kenapa sikap politik PDIP akhir-akhir ini selalu melukai umat Islam. Saya katakan umat Islam karena yang tersakiti bukan kelompok atau organisasi, tapi yang mengaku muslim saya kira tersakiti,” tandas mantan ketua GP Ansor Jatim tersebut.

Apalagi, tambahnya, hal itu terjadi secara berurutan. Sebelum kata “bangsat” muncul, umat Islam dilukai Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dalam kasus Surat Al Maidah Ayat 51, kemudian pidato Ketua Umum PDIP, Megawati Sukarnoputri pada HUT ke-44 PDIP yang sampai dihukumi haram lewat forum bahtsul masail kubro di Ponpes Ploso, Kediri, awal Maret 2017.

“Saya tak habis pikir, kenapa sikap politik PDIP akhir-akhir ini selalu melukai umat Islam.”

Karena itu, Cak Anam mengajak umat dan para pemimpin organisasi Islam, agar mewaspadai desain ‘politik merah’ tersebut. “Ini bukan persoalan kecil, ada runtutannya. Jangan-jangan setelah ini ada lagi yang lebih besar dan umat Islam akan semakin terlukai,” paparnya.

Meski tak lagi aktif di dunia ‘persilatan politik’, Cak Anam mengaku paham cara-cara seperti itu, karena dia mantan ketua DPW Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Jatim selama dua periode serta ketua umum DPP Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU).

“Bisa saja nanti ada gerakan lagi yang lebih besar untuk mendegradasi Kemenag. Nanti ujung-ujungnya minta Kemenag dibubarkan, mungkin begitu. Itu menurut analisa saya,” katanya.

Lebih dari mendegradasi Kemenag, desain politik PDIP yang dibaca Cak Anam adalah sekularisasi Indonesia. Apalagi sekarang banyak yang mengatakan jangan ada agama apapun yang mengklaim terhadap Pancasila.

• Baca: Khofifah Berjalan di Atas 9 Pedoman Politik Warga NU

“Pancasila tidak boleh dikatakan islami dan seterusnya, ini kan sekuler. Mengingkari para pendiri bangsa. Jadi targetnya sekularisasi, kemudian kapitalisme dan seterusnya. Ini sangat bahaya!” tegasnya.

Kalau pemimpin organisasi keagamaan sekarang masih diam, menurut Cak Anam, hal itu bisa dimaklumi lantaran mereka tak ingin membuat situasi gaduh di Tahun Politik (Pilkada serentak 2018 dan Pemilu 2019).

“Tapi saya sebagai orang Islam, ingin memberikan informasi kalau persoalan politik seperti ini juga terjadi di zaman Belanda dan memang by design,” kata menantu cucu pendiri Taswirul Afkar, KH Ahmad Dahlan Kebondalem Surabaya itu.

‘Jantung’ Umat Islam

Persoalan politik yang mencoba melemahkan umat Islam di zaman Belanda yang dimaksud Cak Anam terjadi pada tahun 1930-40-an, ketika Indonesia masih diperintah oleh pemerintahan Hindia Belanda.

Kala itu, penghinaan terhadap Nabi Muhammad Saw, terutama Al Qur’an, dilakukan secara berulang-ulang. Salah satunya lewat tulisan Siti Sumendari di Majalah Bangun edisi 15, Oktober 1937.

Dalam tulisannya, Siti menyebutkan bahwa Nabi Muhammad Saw seorang pencemburu dan aturan perkawinan di Islam dibuat hanya untuk memenuhi nafsu. “Itu jahat sekali! Semua umat Islam tersinggung dan itu diketahui skenario dari pemerintah,” kata Cak Anam.

Bapak umat Islam Indonesia, Hadratussyeikh KH Hasyim Asy’ari lantas menyerukan kepada seluruh pemimpin organisasi Islam, untuk menanggalkan pertentangan yang bersifat khilafiyah furuiyah. Umat Islam tengah menghadapi tantangan yang menyentuh jantung dan harus dihadapi bersama-sama.

• Baca: Inilah Syair “Hubbul Wathon” yang Asli Karya Mbah Wahab

Kemudian dibentuklah MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia) yang dipimpin KH A Wahid Hasyim (ayahanda Gus Dur). Badan federasi ini selanjutnya membentuk Komisi Pemberantasan Penghinaan Islam (KPPI) yang anggotanya terdiri dari para tokoh Islam dari berbagai organisasi.

Ada Kiai Zainal Arifin (NU), Syahbudin Latif (PSII), Mr Kasman Singodimejo (Muhammadiyah), Wiwoho (PII) dan Moh Natsir (Persis). Mereka bersatu padu menghadapi penghina Islam hingga tuntas, karena seluruh umat Islam benar-benar merasa tersakiti.

Flashback ini untuk mengingatkan, ciri umat Islam kalau sudah diserang jantungnya, semua berkumpul untuk mempertahankan. Dan saat ini kita sedang menghadapi ancaman dari desain politik untuk melemahkan umat Islam,” tuntas Cak Anam.