‘Teror’ Ulama di Tahun Politik, Khofifah: Rawan Dipolitisasi!

RAWAN DIPOLITISASI: Cagub Khofifah Indar Parawansa, isu teror terhadap ulama meluas lantaran sangat rawan dipolitisasi.  | Foto: Barometerjatim.com/MARIJAN AP
RAWAN DIPOLITISASI: Cagub Khofifah Indar Parawansa, isu teror terhadap ulama meluas lantaran sangat rawan dipolitisasi. | Foto: Barometerjatim.com/MARIJAN AP

JAKARTA, Barometerjatim.com – Cagub Jatim nomor urut 1, Khofifah Indar Parawansa angkat bicara soal ‘teror ulama’ dan pengerusakan tempat ibadah yang mulai gencar menyasar Jawa Timur. Setidaknya, dalam satu bulan ini ada tiga kasus — di Tuban, Lamongan, Kediri — yang cukup meresahkan masyarakat.

Menurut Khofifah, isu ini meluas lantaran sangat rawan dipolitisasi. Terlebih di 2018 dan 2019 adalah tahun politik yang secara berurutan berlangsung Pilkada serentak (termasuk Pilgub Jatim), Pemilu Legislatif (Pileg) dan Pemilu Presiden (Pilpres).

“Polisi harus mengusut tuntas insiden penyerangan ini. Pelaku dan dalangnya harus ditangkap agar isunya tidak berkembang ke SARA,” ungkap Khofifah di Jakarta, Selasa (20/2).

• Baca: Polda: Jangan Mudah Pakai Istilah “Penyerangan” Ulama

Dengan ditangkapnya pelaku penganiayaan dan perusakan tempat ibadah, tandas Khofifah, maka akan diketahui pula modus utama aksi tersebut. Apakah kriminal murni ataukah ada unsur dan tujuan lain.

“Saya khawatir jika insiden ini tidak diusut tuntas, maka akan menimbulkan sikap saling curiga dan merusak keharmonisan antarwarga masyarakat. Ini berbahaya karena rawan terjadi konflik horizontal,” imbuhnya.

Khofifah juga berharap masyarakat Jatim mampu menahan diri, tidak terpancing dan terprovokasi aksi anarkis yang ingin memecah belah persatuan dan kesatuan di Jatim.

• Baca: Kiai Pengasuh Ponpes di Lamongan Diserang ‘Orang Gila’

Jika perpecahan terjadi di Jatim, maka akan sangat mahal sekali biayanya, karena  akan merusak seluruh sendi tatanan kehidupan masyarakat yang sejak dulu terkenal guyub dan rukun.

“Tapi saya yakin orang Jatim lebih dewasa dalam memandang sebuah persoalan dan lebih mengedepankan prinsip klarifikasi atau tabbayun,” tandasnya.