Polda: Jangan Mudah Pakai Istilah “Penyerangan” Ulama

TEPIS PENYERANGAN ULAMA: Frans Barung Mangera, tak ada penyerangan orang gila terhadap ulama di Jatim. | Foto: Ist
TEPIS PENYERANGAN ULAMA: Frans Barung Mangera, tak ada penyerangan orang gila terhadap ulama di Jatim. | Foto: Ist

SURABAYA, Barometerjatim.com – Dugaan penyerangan berujung teror terhadap ulama di Jatim yang dilakukan ‘orang gila’ makin berhembus liar. Terlebih setelah upaya penyerangan terhadap dua pengasuh Ponpes Al Falah, Ploso, Kediri, KH Zainuddin Jazuli dan KH Nurul Huda Jazuli.

Namun Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Frans Barung Mangera memastikan tak ada penyerangan, sekaligus meminta masyarakat agar tidak mudah menggunakan istilah penyerangan.

“Secara tegas saya menyampaikan tidak ada itu penyerangan,” katanya usai mengikuti rapat pimpinan TNI di Makodam V Brawijaya di Surabaya, Selasa (20/2).

• Baca: ‘Teror’ Ulama di Jawa Timur, DPR: Itu Bukan by Design

Sebab terminologi penyerangan, lanjut Barung, yakni jika ada satu atau lebih orang datang ke suatu tempat dan tiba-tiba melakukan pemukulan dan pengerusakan bersama-sama. “Yang terjadi tidak seperti itu,” tandasnya.

Sementara rapat yang dihadiri Kapolda Jatim, Irjen Pol Machfud Arifin dan Pangdam V Brawijaya, Mayor Jenderal TNI Arif Rahman tersebut membahas rencana razia terhadap orang gila untuk menekan kecurigaan teror terhadap ulama.

Razia akan digelar secara gabungan antara aparat dari Polda Jatim, TNI dan Dinas Sosial (Dinsos) setempat untuk menekan isu teror atau penyerangan tempat ibadah, pemuka agama maupun pesantren.

• Baca: Kiai Pengasuh Ponpes di Lamongan Diserang ‘Orang Gila’

“Dalam Rapim TNI, Kapolda menyampaikan perlunya Dandim (Komandan Distrik Militer) bekerjasama dengan Kapolres bersama Dinas Sosial untuk melakukan razia orang gila dan itu diamini,” ujar Barung.

Seperti diberitakan, dalam sebulan terakhir terjadi insiden meresahkan di sejumlah daerah di Jatim. Mulai pengerusakan masjid di Tuban, penyerangan terhadap pengasuh Ponpes Karangasem Paciran, Lamongan, KH Hakam Mubarok, serta dugaan penyerangan kiai di Ponpes Al Falah, Ploso, Kediri.

Gila Sejak Kecil

Sementara terkait insiden di Lamongan, pelaku diketahui bernama Nandang Triyana (23), warga Desa Lemahabang Kulon, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon. Sudah empat tahun dia meninggalkan keluarganya, pernah sekolah di SMP NU Sindanglaut hingga kelas 2 dan tidak bekerja.

“Orang tua yang bersangkutan sendiri mengakui, bahwa anak ini mengalami gangguan jiwa sejak kecil. Tetapi kepolisian tidak memakai yang namanya pengakuan dari orang tuanya,” jelas Barung.

• Baca: Geger Grahadi Dimolotov, Eh.. Ternyata Ulah Orang Gila

Barung menambahkan, pihaknya masih mengumpulkan semua bukti-bukti kebenaran informasi tersebut. Polda Jatim juga telah berkoordinasi dengan Polres Cirebon dan akan mendatangkan keluarga pelaku ke Surabaya.

Polisi juga masih menunggu pihak RS Bhayangkara Polda Jatim yang masih melakukan proses scientific identification terhadap pelaku, guna membuktikan informasi yang disampaikan orang tuanya. “Kita akan buktikan dalam waktu dekat. Besok kita sudah mengeluarkan pernyataan,” janji Barung.