Teringat ‘Dibesarkan’ PMII, Air Mata Mensos Khofifah Terurai

KEHOFIFAH BERSAMA SAHABAT PMII: Mensos Khofifah Indar Parawansa menyanyikan mars PMII saat Pelatihan Kader Lanjut (PKL) se-Jatim di Bangkalan, Minggu (24/12). | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
KEHOFIFAH BERSAMA SAHABAT-SAHABATI PMII: Mensos Khofifah Indar Parawansa menyanyikan mars PMII saat Pelatihan Kader Lanjut (PKL) se-Jatim di Bangkalan, Minggu (24/12) sore. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

BANGKALAN, Barometerjatim.com – Menteri Sosial yang juga Ketua Umum PP Muslimat NU, Khofifah Indar Parawansa tak kuasa membendung air matanya saat menyanyikan mars Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

“Setiap saya bersama-sama PMII dan menyanyikan mars, sudah pasti saya meneteskan air mata,” katanya saat menjadi keynote speaker Pelatihan Kader Lanjut (PKL) se-Jawa Timur yang digelar PC PMII Bangkalan, Minggu (24/12).

“Jas (PMII) inilah yang membesarkan saya. Membangun fighting spirit saya. Dulu saya ketua PMII Surabaya sekaligus merangkap ketua IPPNU, tapi spirit saya dibangun oleh PMII,” tandasnya yang disambut aplaus peserta pelatihan.

• Baca: Lucu! Undang Khofifah, Izin Gedung Acara PMII Putri Dicabut

Karena itu, ketika almaghfurlah KH Hasyim Muzadi menjadi ketua umum PBNU, Khofifah meminta agar PMII dilibatkan di setiap pleno PBNU. “Hanya PMII, bukan Banom. Supaya mengerti bahwa akar PMII itu dari Nahdlatul Ulama,” katanya.

Dalam terminologi “sahabat”, Khofifah mengibaratkan PMII adalah Sayyidina Ali bin Abi Thalib: Progresif, tampil di depan, pemberani dan intelek.

“Sikap pemberani dan fight spirit dibutuhkan NU dan bangsa ini, maka bangunan pelatihan-pelatihan di PMII harus membangun fighting spirit,” paparnya. “Tanpa spirit orang tidak punya harapan dan upaya berjuang menjadi lemas.”

Bagi Khofifah, biarkan PMII independen tetapi akar NU jangan sampai tercerabut. Karena tu PMII jangan pernah memberi ruang untuk kelompok Syiah, Wahabi maupun Salafi.

• Baca: Eks Ketua PMII Surabaya Kecam Langkah Rektor UINSA

“Di sini harus menjadi bangunan moderasi umat Islam yang menjadi payung dari referensi seluruh dunia. Maka jangan pernah melihat kita cuma PKL di Bangkalan, oh tidak!” tegasnya.

Sebab, lanjutnya, NU dibutuhkan bukan sebatas untuk memagari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), tapi melindungi umat Islam dunia, terutama kelompok Sunni.

“85 persen umat Islam di dunia itu Sunni. Tapi apa yang terjadi hari ini, lihatlah saudara kita di Yaman kocar-kacir. Lihat pula saudara Sunni kita di Syria, Irak, Somalia dan beberapa negara lainnya,” katanya.

Payung Islam Dunia

NU AKAR PMII: Mensos Khofifah Indar Parawansa. Akar PMII adalah NU, jangan pernah memberi ruang untuk Syiah, Wahabi maupun Salafi. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
NU AKAR PMII: Mensos Khofifah Indar Parawansa. Akar PMII adalah NU, jangan pernah memberi ruang untuk Syiah, Wahabi maupun Salafi. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

Situasi itu membuat Islam di Indonesia menjadi referensi dan payung Islam di dunia. “Sunni dunia referensinya adalah Islam di Indonesia, dan Islam di Indonesia orang akan melihat NU,” tambahnya.

Bukan lagi meributkan bernegara, berbangsa, bermerah putih karena bagi NU hal-hal mendasar tentang nasionalisme sudah selesai. “Sekarang yang perlu kita lakukan adalah mengisi bagaimana menjadi payung bagi seluruh keberagaman warga bangsa,” paparnya.

Namun upaya ini harus diikuti kualitas kader PMII. “Sehingga ketika berkontestasi dengan kader lain, kita memang unggul. Keunggulan kompetitif dan komparatif harus ada pada diri kita,” ujarnya.

• Baca: Ribuan Lilin dari PMII untuk Cahaya Rohingya

Jati diri ini, kata Khofifah, perlu dibangun dan dikuatkan karena kader PMII dihadapkan pada dua pilihan: Menyemai nilai-nilai moderasi maupun toleransi, atau menyemai sesuatu yang bersifat provokatif, mengadu domba dan memecah bela bangsa.

“Maka pilihan kita adalah menyemai nilai-nilai moderasi, toleransi yang akan menjadi pagar bagi NKRI dan itulah NU sekaligus inilah pentingnya kita beroganisasi,” tuntasnya.