Teliti Ideologi Kitab Kuning, Peneliti Muda NU Raih Doktor

TELITI IDEOLOGI KITAB KUNING: Iksan K Sahri, ujian promosi doktoral di Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta, Senin (16/7). | Foto: Ist
TELITI IDEOLOGI KITAB KUNING: Iksan K Sahri, ujian promosi doktoral di Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta, Senin (16/7). | Foto: Ist

JAKARTA, Barometerjatim.com – Meneliti ada apa di balik kitab kuning yang digunakan di pesantren, seorang peneliti muda Nahdlatul Ulama (NU) dari Jawa Timur, Iksan K Sahri menerima gelar doktor di Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta.

Iksan berhasil mempertahankan disertasi berjudul “Dinamika Islam Tradisional: Respons Pesantren Salafiyah terhadap Agenda Pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia” di hadapan para guru besar dari berbagai bidang dalam rumpun ilmu-ilmu sosial lewat ujian promosi doktoral yang berlangsung, Senin (16/7).

Salah satu bahasan Iksan yang menarik dalam disertasinya, yakni pada bagaimana ideologi yang terkandung dalam kitab kuning dan dianut serta diajarkan di pesantren tradisional. Iksan mencoba melihatnya dari kacamata antropologi pendidikan.

• Baca: Doktor di Usia 22, Emil Success Story di Dunia Pendidikan

Menurutnya, terdapat kandungan ideologi Islam tradisional yang terkandung dalam kitab-kitab kuning yang diajarkan di pesantren tradisional. “Kandungan itu terjabarkan dalam mata rantai kurikulum yang dikembangkan oleh pihak pesantren,” katanya.

Dalam konteks pesantren tradisional, Iksan menyatakan bahwa implementasi ideologi Islam tradisional termanifestasikan dalam teologi Asy’riyah Maturudiyah, menganut mazhab fikih tradisional, menerima ajaran tasawuf, dan memiliki cara pandang kesejarahan Islam dari sisi Sunni yang mengakui empat kekhalifahan awal dalam Islam.

• Baca: Keponakan Mensos Raih Gelar Doktor Pengembangan SDM

Walau sama-sama berupaya mempertahankan kitab kuning di institusi pendidikannya, pesantren menurutnya memiliki respons yang berbeda terkait upaya intervensi negara terhadap tata kelola pendidikannya.

Dia menegaskan bahwa respons pesantren tersebut lebih dipengaruhi oleh kebutuhan masyarakatnya yang cenderung berkembang, dibanding pengaruh intervensi negara secara langsung.

DOKTOR KITAB KUNING: Iksan K Sahri usai menerima gelar doktor di Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta, Senin (16/7). | Foto: Ist
DOKTOR KITAB KUNING: Iksan K Sahri usai menerima gelar doktor di Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta, Senin (16/7). | Foto: Ist

Iksan juga menemukan, bahwa terdapat perbedaan antara pembelajaran di pesantren salaf 30 tahun yang lalu dengan pesantren salaf sekarang.

“Jika dahulu semua pembelajaran berjalan  secara konvensional, maka sekarang pesantren lebih transformatif dengan cara pengadaan kelas matrikulasi, akselerasi, dan pengembangan metode pembelajaran yang berbasis konten dibanding berbasis judul kitab,” paparnya.

• Baca: Kuliah Nyaris DO, Menpora Raih Gelar Doktor Honoris Causa

Apa yang dilakukan Iksan ini meneruskan penelitian pesantren lagendaris lainnya, yaitu Zamakhsyari Dhofier yang meneliti Tradisi Pesantren, Bruinessen yang meniliti kitab kuning dan tarekat, Mastuhu yang meneliti kepemimpinan di pesantren, dan peneliti-peneliti pesantren lain baik dari luar dan dalam negeri.

Sedikit yang membedakan Iksan dengan mereka adalah kenyataan bahwa Iksan orang pesantren, sehingga penelitiannya lebih tepat disebut sebagai penelitian pesantren dari sisi insider (orang dalam).