Selasa, 29 November 2022
Barometer Jatim
Cloud Hosting Indonesia

Selain Muslimat NU, Mataraman Ruang Vote Getter Khofifah

Berita Terkait

TATAP CAWAGUB DARI MATARAMAN: KH Asep Saifuddin Chalim (kanan) dan pengasuh Ponpes, Nasyrul Ulum Pamekasan, KH Abdul Hamid Manan. Pertimbangkan Cawagub pendamping Khofifah dari Mataraman. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
TATAP CAWAGUB DARI MATARAMAN: KH Asep Saifuddin Chalim (kanan) dan pengasuh Ponpes, Nasyrul Ulum Pamekasan, KH Abdul Hamid Manan. Pertimbangkan Cawagub pendamping Khofifah dari Mataraman. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
- Advertisement -

SURABAYA, Barometerjatim.com – Sampai hari ini, pemilih di Jawa Timur masih dilatarbelakangi politik aliran dan — merujuk hasil survei The Initiative Institute yang dirilis 20 Juli 2017 — Nahdlatul Ulama (NU) masih tertinggi, yakni 63,10 persen.

Disusul Nasionalis Soekarno (24,60 persen), Muhammadiyah (6,80 persen), Nasionalis Soeharto (5,10 persen) dan Masyumi (0,40 persen). Menilik data ini, ternyata pasca Orde Baru tumbang, kelompok ‘perindu Soeharto’ lumayan tinggi, membayangi persentase Muhammadiyah.

Politik aliran berbasis NU memang tertinggi, namun jika Cagub dari kader NU yang maju di Pilgub Jatim 2018 lebih dari satu, maka vote getter (pendulang suara) dari kelompok nasionalis bisa menjadi penentu kemenangan.

• Baca: Cawagub Pendamping Khofifah, PPP Pertimbangkan Ipong

Terlebih, kelompok nasionalis yang terkonsentrasi di wilayah Mataraman menguasai sekitar 40 persen proporsi pemilih Jatim berdasarkan karakteristik wilayah. Selebihnya wilayah Arek (27 persen), Tapal Kuda (24 persen) dan Madura (9 persen).

Situasi inilah yang membuat peneliti dari Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Faza Dora Nailufar menilai paslon yang diusung PKB-PDIP, Saifullah Yusuf dan Azwar Anas belum merepresentasikan kelompok nasionalis.

“Mas Anas saya kira tidak bisa (disebut representasi nasionalis), dia melekat dengan religius, dengan hijau dan NU-nya,” kata perempuan yang juga kepala Laboratorium Ilmu Politik Universitas Brawijaya itu.

• Baca: Direktur LSR: Gus Ipul Stagnan, Anas ‘Dibalut’ Pencitraan

Bahkan pengamat politik dari Universitas Airlangga (Unair), Hari Fitrianto menyebut Saifullah-Azwar Anas adalah pasangan ‘santri-santri’. “Sehingga politik representatif dari kalangan nasionalis tidak ada dalam pasangan ini,” katanya.

Hal serupa disampikan kiai pengasuh pondok pesantren (Ponpes) pendukung Khofifah Indar Parawansa. “Barangkali lebih menguntungkan kami, sebab tak ada vote getter dari daerah Mataraman bagi mereka (Saifullah-Anas),” kata Pengasuh Ponpes Amanatul Ummah Pacet, Mojokerto, KH Asep Saifuddin Chalim.

Karena itu, lanjut Kiai Asep, “Kita biasa-biasa saja dengan dimunculkannya Azwar Anas sebagai wakilnya (Saifullah). Tidak ada kegelisahan dan sebagainya. Biasa-biasa saja.”

• Baca: Anas Bukan Representasi Nasionalis, Khofifah Diuntungkan

Lantaran Saifullah-Anas dianggap tak mewakili kelompok nasionalis dan Mataraman, maka kubu Khofifah kemungkinan akan mencari bakal Cawagub dari wilayah tersebut untuk memperkuat basis suara di Muslimat NU, Banom perempuan NU yang dipimpin Khofifah.

“Bisa saja dengan pertimbangan menjadi vote getter dari daerah Mataraman. Tapi (bakal Cawagub yang dipilih) tetap harus memenuhi kriteria kredebilitas, kapabilitas dan seterusnya,” tandasnya.

Namun soal nama bakal Cawagub pendamping Khofifah, Kiai Asep menegaskan hingga kini masih ‘digodok’ tim kiai (Tim 9) yang diketuai Pengasuh Ponpes Tebuireng Jombang, KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah).

- Advertisement -
- Advertisement -

Berita Terkait

- Advertisement -

trendnews
Berita Trending Saat Ini

- Advertisement -

BERITA TERKINI

- Advertisement -