Sadad: Gerindra Tidak Bekerja untuk PDIP di Pilgub Jatim

GERINDRA-PDIP: Anwar Sadad (kiri) dan Sri Untari, Gerindra bekerja untuk pemenangan Gus Ipul-Puti di Pilgub Jatim, bukan untuk pemenangan PDIP. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
GERINDRA-PDIP: Anwar Sadad (kiri) dan Sri Untari, Gerindra bekerja untuk pemenangan Gus Ipul-Puti di Pilgub Jatim, bukan untuk pemenangan PDIP. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

Gerindra minta PDIP tak perlu menyentil Parpol lain pengusung Gus Ipul-Puti. Bergeraklah di area dan posisi sesuai dengan peta dukungan yang dimiliki. Jangan offside!

KETEGANGAN Parpol pengusung Cagub-Cawagub Jatim nomor urut dua, Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno berlanjut. Merasa tak nyaman dengan ‘sentilan’ Sekretaris DPP PDIP Jatim, Sri Untari, kubu Gerindra balik menyentil Parpol berlogo kepala banteng moncong putih tersebut.

“Gerindra tidak bertanggung jawab kepada PDIP. Gerindra bekerja untuk pemenangan Gus Ipul-Puti, tidak untuk pemenangan PDIP,” kata Sekretaris DPP Partai Gerindra Jatim, Anwar Sadad.

• Baca: Elektabilitas Gus Ipul-Puti Jeblok, PDIP Sentil Gerindra-PKB

“Jadi PDIP jangan over, jangan offside, enggak boleh kemudian menjadi hakim yang men-judge partai-partai,” tambahnya.

Berikut wawancara Barometerjatim.com dengan politikus yang juga anggota DPRD Jatim serta masih keluarga besar Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan tersebut, Senin (30/4).

Menyusul elektabilitas Gus Ipul-Puti yang disalip Khofifah-Emil, PDIP ‘menyentil’ Parpol koalisi termasuk Gerindra yang dinilai masih bekerja setengah hati. Apa komentar anda?
Begini. Antara Parpol ini kan sebenarnya sudah bekerja pada punya peta masing-masing. Kita kan punya peta Pileg (Pemilu Legislatif) yang lalu (Pileg 2014) maupun peta Pilpres. Jadi kita menjaga betul, supaya masing-masing Parpol bergerak pada peta basis dukungan yang sudah dimilikinya.

Sebab, kalau kemudian terjadi cross, bisa jadi malah kontraproduktif. Misalnya kalau Gerindra masuk peta basis PDIP atau PKB ya belum tentu efektif. Begitu juga PDIP, tidak perlu masuk basis wilayah PKB, bisa-bisa kontraproduktif.

Kondisi itu yang anda lihat selama ini?
Saya kira itu bisa jadi salah satu faktor. Toh kita semua sudah punya peta, dimana sih peta para pendukung Gerindra. Di Surabaya, misalnya, kan termasuk gede itu. Kemudian di Madura, di Pileg lalu (2014) kita dapat dua kursi untuk (DPRD) provinsi. Pak Prabowo juga menang kan di sana.

Artinya, kita ini sudah punya peta dan masing-masing partai sudah sepakat untuk saling menjaga. Jadi kalau saya memberikan penilaian, mari kita bergerak pada area kita, pada posisi masing-masing. Kalau center back ya enggak usah jadi penyerang-lah, he.. he..

Maksudnya?
PDIP enggak perlu bermain seperti Ruud Gullit begitu, memainkan total football. Kalau semua (peran diambil) ya itu tadi malah bisa jadi kontraproduktif.

Jadi PDIP tidak harus memainkan total football?
Iya, he.. he.. Bergeraklah pada area dan posisi sesuai dengan peta yang dimiliki.

Bukankah sentilan PDIP yang merasa bekerja sendiri mengesankan di internal Parpol pengusung Gus Ipul-Puti tidak solid?
Enggak tahu-lah, he.. he..

Hasil survei Surabaya Survey Center (SSC) menyebut peta dukungan Gerindra ke Gus Ipul-Puti 45,3 persen dan ke Khofifah-Emil 41,4. Bagaimana anda melihat persentase ini?
Lumayan-lah..

Apakah persentase yang masih berbagi irisan dengan Khofifah-Emil itu karena Prabowo Subianto belum turun ke Jatim?
Sebenarnya enggak. Kita ini sudah bergerak, sudah jalan, kita punya kader penggerak di bawah dan sudah jalan ke semua kelurahan/desa yang menjadi basis kita. Kan partai itu sudah punya semua, dimana kantong-kantong dukungannya. Tinggal memperkuat saja.

“Gerindra bekerja untuk pemenangan Gus Ipul-Puti, tidak untuk PDIP. Jadi PDIP jangan over, jangan offside, tidak boleh menjadi hakim yang men-judge partai-partai.”

Gerindra, misalnya, kita punya sekitar 2,7 juta pemilih kemarin (di Pileg 2014). Dimana saja mereka itu? Ada semua petanya, tinggal kita push supaya bergerak semua untuk memenangkan Gus Ipul-Puti. PKB dan PDIP juga punya kantong-kantongnya dimana.

Sebab, kalau partai bergerak di luar kantong basis pemilihnya, maka akan kesulitan untuk menggunakan isu, pendekatan, serta lainnya.

Berarti enggak benar dong sentilan PDIP yang menyebut Gerindra masih ‘setengah hati’ dalam memenangkan Gus Ipul-Puti?
Ya enggak benar. Kalau Gus Ipul-Puti, katakan dari segi persentase dianggap semuanya dari hasil perolehan PDIP, apakah sebesar itu kekuatan elektoral PDIP, kan mereka harus ngukur diri sendiri juga. Seberapa kekuatannya kok seluruh lapangan mau diajangi (dimainkan) sendiri, he.. he..

Jangan bermain total football, harus benar-benar fokus di daerah sendiri. Oke, PDIP dan PKB mungkin jadi pengatur serangan sebagai midfielder, maka bergeraklah. Tapi enggak bisa menjadi penyerang sekaligus pemain bertahan dan penjaga gawang.

MAINKAN PERAN MASING-MASING: Anwar Sadad (kiri) dan Sri Untari, Gerindra sebut PDIP tak bisa jadi penyerang sekaligus pemain bertahan dan penjaga gawang. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
MAINKAN PERAN MASING-MASING: Anwar Sadad (kiri) dan Sri Untari, Gerindra sebut PDIP tak bisa jadi penyerang sekaligus pemain bertahan dan penjaga gawang. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

Di sisa waktu dua bulan menuju coblosan Pilgub Jatim 2018, apa yang akan dilakukan Gerindra agar tidak disentil PDIP lagi?
Kita sebenarnya kalau mau fair, Gerindra itu tidak bertanggung jawab kepada PDIP. Gerindra kan bekerja untuk pemenangan Gus Ipul-Puti, tidak untuk pemenangan PDIP.

Jadi PDIP jangan over, jangan offside, enggak boleh kemudian menjadi hakim yang men-judge partai-partai. Saya kira Gerindra, PKB dan PKS sudah bekerja keras untuk memenangkan Gus Ipul-Puti, bukan memenangkan PDIP.

Artinya PDIP enggak perlu nyentil..
Itu poinnya. PDIP enggak perlu menyentil partai lain, tidak boleh berperan seakan-akan sebagai ketua kelas. Enggak usah jadi ketua kelas-lah, kita ini kan bareng-bareng.

Baik. Prabowo akan ke Jatim 4-6 Mei 2018, apakah semata-mata untuk konsolidasi Pemilu 2019 atau maksimalisasi pemenangan Gus Ipul-Puti?
Otomatis nanti ada beberapa daerah yang dikunjungi, bisa terkait dengan Pilkada kabupaten/kota juga Pilgub Jatim. Selain itu ada penguatan konsolidasi di bawah.

Pasca Prabowo turun, apakah nanti ada kenaikan elektabilitas Gus Ipul-Puti?
Oh pasti. Auranya (Prabowo) kan beda, he.. he.. Tunggu saja 4-6 Mei.