Renville: Tak Ada Kontrak Emil Masuk Demokrat Jika Menang

TAK ADA KONTRAK POLITIK: Renville Antonio, tak ada kontrak politik Emil Dardak harus masuk Demokrat jika bersama Khofifah menang di Pilgub Jatim 2018. | Foto: Barometerjatim.com/HAMIM ANWAR
TAK ADA KONTRAK POLITIK: Renville Antonio, tak ada kontrak politik Emil Dardak harus masuk Demokrat jika bersama Khofifah menang di Pilgub Jatim 2018. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

SURABAYA, Barometerjatim.com – Di antara enam Parpol pengusung pasangan Cagub-Cawagub Jatim, Khofifah Indar Parawansa-Emil Elestianto Dardak, Partai Demokrat terlihat paling getol dalam menggalang pemenangan di Pilgub Jatim 2018.

Terbaru, dua tokoh sentral Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dalam seminggu ini turun ke Jatim untuk menyolidkan kader partai agar habis-habisan memenangkan Khofifah-Emil, di samping untuk kepentingan di Pemilu 2019.

Spekulasi politik pun berkembang. Totalitas itu dilakukan Demokrat — selain memiliki kursi terbanyak (13) di antara enam Parpol pengusung — karena Emil disebut-sebut telah menjadi kader Demokrat sebelum diusung di Pilgub Jatim 2018.

• Baca: Kalkulasi Politik Pakde Karwo: Khofifah-Emil Menang Telak!

Terlebih, November tahun lalu, pengamat politik asal Universitas Airlangga (Unair) Suko Widodo yang selama ini dikenal dekat dengan Ketua DPD Partai Demokrat Jatim, Soekarwo menyebut Demokrat tidak mungkin mengusung calon di luar kader. “Kalaupun orang lain (non kader) pasti diberi jaket Demokrat,” katanya kala itu.

Statement Suko ini beriringan dengan komentar salah seorang petinggi DPP Partai Demokrat saat berkunjung ke Surabaya, beberapa waktu lalu. “Demokrat tak akan mengusung kader lain untuk Pilgub Jatim 2018,” katanya dalam perbincangan dengan Barometerjatim.com. Namun saat dipertegas apakah itu artinya Emil sudah ber-KTA Demokrat, dia hanya tersenyum penuh makna.

Benakah Emil sudah berbaju Demokrat? Sekretaris DPD Partai Demokrat Jatim, Renville Antonio menepis hal tersebut. “Sampai hari ini belum. Beliau memang dari dulu sangat dekat dengan kami, tapi kami tidak memaksa,” katanya saat ditemui di kantor DPD Partai Demokrat Jatim, Jalan Kertajaya Surabaya, Senin (9/4).

• Baca: Anggaran Rp 163 Miliar, Bawaslu Jatim ‘Miskin’ Sosialisasi

Renville mencontohkan ketika Demokrat mengusung Soekarwo di Pilgub Jatim 2008 yang kemudian menang dan dilantik pada 2009. “Beliau bukan kader Demokrat dan saat Pakde (sapaan Soekarwo) terpilih (sebagai gubernur) pun belum masuk Demokrat. Beliau baru menetapkan pilihannya ke Demokrat setelah 2011,” paparnya.

Demokrat, tandas Renville, ingin semuanya berjalan natural termasuk jika Khofifah-Emil memenangi Pilgub Jatim 2018. “Biar mengalir saja, nanti kita serahkan kepada Mas Emil atau bahkan Ibu Khofifah,” katanya.

“Kalau partai kami dirasa cocok untuk berjuang bersama, ya silakan bergabung. Tapi kalau tidak, minimal kami telah memperjuangkan orang yang tidak salah dan memang dicari masyarakat untuk memimpin provinsi ini.”

• Baca: Penertiban APK, Renville: Hanya Bawaslu di Jatim yang Aneh

Ataukah sudah ada kontrak sebelum Demokrat mengusung Emil? “Tak ada!” sergah politikus yang juga anggota DPRD Jatim itu. “Satu hal yang jelas, kami punya keinginan di Pilgub 2018 ini yang menang harus calon (yang diusung) dari partai kami.”

Apalagi, kata Renville, dua kali Demokrat memenangi Pilgub Jatim. Itulah yang mendorong seluruh petinggi partai dan kadernya bergerak maksimal, termasuk dua tokoh besar, SBY dan AHY, sampai seminggu turun ke Jatim.

“Tapi kalau kontrak dengan calon harus masuk ke Demokrat kalau menang, itu tidak ada. Kami mempersilakan saja, monggo, kalau Mas Emil setelah dilantik lalu memilih bergabung dengan Demokrat,” tegasnya.