Relawan Jogo Kali: Industri di Sepanjang DAS Brantas Mokong!

Relawan Jogo Kali apresiasi program Khofifah-Emil. | Foto: Barometerjatim.com/abdillah hr
Relawan Jogo Kali apresiasi program Khofifah-Emil. | Foto: Barometerjatim.com/abdillah hr

SURABAYA, Barometerjatim.com – Relawan Jogo Kali dari Malang, Blitar, Pasuruan, Tulungagung, Kediri, Jombang, Nganjuk, Mojokerto, Gresik dan Surabaya, mengapresiasi program Adopsi Sungai Brantas Stop Buang Sampah Popok di Sungai yang dicanangkan Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa.

Dalam 99 Hari Kerja Khofifah-Emil, memang disebutkan akan membebaskan 99 jembatan dari sampah popok, menyediakan 99 kontainer sampah khusus popok, serta menginisasi adanya MoU bersama pelaku usaha di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas.

“Selama ini industrinya mokong (bandel), maka perlu dikerjasamakan,” kata Prigi Arisandi dari Ecoton (Ecological Observation and Wetlands Conservation), sebuah lembaga kajian ekologi dan konservasi lahan basah saat membacakan deklarasi Relawan Jogo Kali di Jambangan, Surabaya, Minggu (17/2/2019).

Relawan Jogo Kali percaya Khofifah bisa menyelesaikan persoalan industri yang mokong, serta melindungi aset Jatim, merawat Sungai Brantas, melestarikan fungsi ekologi untuk menunjang Sustainable Development Goals (SDGs) di Jatim.

“Kami juga mendorong sinergitas Pemprov, pemerintah pusat, kabupaten dan kota, sehingga pihak-pihak yang berkepentingan di Brantas untuk memulihkan fungsi ekologi Brantas dalam mewujudkan DAS Brantas yang kita kelola secara gotong royong serta membawa manfaat berkeadilan sosial,” paparnya.

Beban Polusi Pestisida

Khofifah menyusuri Sungai Kali Brantas untuk membersihkan sampah popok. | Foto: Barometerjatim.com/abdillah hr
Khofifah susuri Sungai Brantas untuk bersihkan sampah popok. | Foto: Barometerjatim.com/abdillah hr

Menurut Prigi, Sungai Brantas adalah sumber peradaban Jatim. Penyokong 20 persen stok pangan nasional, sumber utama PDAM Kota Surabaya, Sidoarjo, Gresik dan Mojokerto.

“Sayangnya Brantas harus menanggung beban polusi pestisida, limbah cair industri dan limbah cair domestik, terutama sampah popok,” katanya.

Kualitas air yang memburuk dan dampak lingkungan sudah terdeteksi. Hal itu dibuktikan dengan 85 persen ikan di Brantas di dalam lambungnya ditemukan mikroplastik.

Selain itu, 20 persen ikan yg ada di Kali Mas, ikan bader, mengalami interseks atau dalam satu badan ditemukan dua jenis kelamin karena gangguan hormon.

“Di 2018, terjadi ikan mati massal terutama setiap musim kemaru dimana pabrik gula mulai buka giling. Karena itu, dibutuhkan komitmen dari Pemprov Jatim agar mengarusutamakan problem Sungai Brantas,” katanya.•

» Baca Berita Terkait Khofifah, Pemprov Jatim