Prostitusi Artis di Surabaya Tak Terkait Penutupan Gang Dolly

Whisnu, tak ada hubungan kasus Vanessa-Avriellya dengan penutupan Dolly. | Foto: Barometerjatim.com/natha lintang
Whisnu, tak ada hubungan kasus Vanessa-Avriellya dengan penutupan Dolly. | Foto: Barometerjatim.com/natha lintang

SURABAYA, Barometerjatim.com – Prostitusi online yang melibatkan dua artis ibu kota, Vanessa Angel dan Avriellya Shaqqila, bukanlah kasus pertama di Surabaya.

Sebelumnya, medio 2015, Polrestabes Surabaya menangkap pedangdut yang juga model majalah dewasa, Anggita Sari. Penangkapan Anggita bermula saat polisi menggerebek empat PSK lain yang dikenal dengan nama beken Cila, Cantik, Centil, dan Paras.

Dua tahun berselang, Mei 2018 lalu, Subdit V Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Jatim mengamankan Yunita alias Keyko. ‘Ratu muncikari’ ini disebut-sebut memiliki banyak stok artis untuk dijual ke lelaki hidung belang.

Di sisi lain, sejumlah pihak mengaitkan maraknya prostitusi artis di Surabaya dengan penutupan Gang Dolly, lokalisasi yang konon terbesar se-Asia Tenggara pada Rabu, 18 Juni 2014.

Namun Wakil Wali Kota Surabaya, Whisnu Sakti Buana membantah kalau Surabaya yang kini menjadi ‘surga’ prostitusi artis ibu kota terkait dengan penutupan lokalisasi legendaris tersebut.

“Sebenarnya kalau bicara (prostitusi) online, masiyo artis yo gak ono hubungane dengan Dolly (Biar artis sekalipun tidak ada hubungannya dengan Dolly),” katanya dengan logat Suroboyoan di rumah dinasnya, Senin (7/1).

Politikus PDIP itu menegaskan, prostitusi online dengan model transaksi langsung di lokasi seperti Dolly, Jarak dan sejenisnya jelas beda. “Pangsa pasarnya Dolly itu siapa? Yang sekarang, kemarin tertangkap prostitusi online itu harganya berapa?” kata Whisnu.

Dia mencontohkan Vanessa dan Avriellya yang tarifnya fantastis. Vanessa dibandrol Rp 80 juta oleh muncikarinya, sedangkan Avriellya Rp 25 juta. Sebaliknya di Dolly, sebelum ditutup, tarif PSK untuk sekali main berkisar antara Rp 100-500 ribu.

Yo gak ono hubungane (Ya tidak ada kaitannya antara penutupan Dolly dengan prostitusi artis via online yang makin marak di Surabaya),” tegasnya lagi.

Apresiasi Kinerja Polisi

Soal mengapa kini Surabaya menjadi jujukan artis ibu kota untuk menjajakan diri, Whisnu meminta jangan dilihat Surabaya-nya. Sebab, di luar Surabaya yang tak ada penutupan Dolly juga bisa terjadi prostitusi online.

“Nah, justru kita melihatnya, apakah kalau tempatnya Surabaya itu berarti karena penutupan Dolly? Apa yang di luar Surabaya itu tidak terjadi?” tanyanya.

Selebihnya, Whisnu melihat dari sisi positif terkait pengungkapan kasus Vanessa dan Avriellya. “Berarti kinerja kepolisian di wilayah Surabaya lebih baik dari yang lain, karena bisa mengungkap itu lebih banyak,” katanya.

“Coba ditanya artisnya, opo mesti bookingane teko Surabaya tok? Kan yo nggak (Apa selalu artis itu dapat bookingan dari Surabaya, kan tidak),” tandasnya. •

» Baca Berita Terkait Polda Jatim, Prostitusi