Prabowo ke Ponpes Takeran, Gus Amik Tetap Dukung Jokowi

TETAP JOKOWI: Gus Amik, terima silaturahim Prabowo Subianto namun di Pilpres 2019 tetap dukung Jokowi. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
TETAP DUKUNG JOKOWI: Gus Amik, terima silaturahim Prabowo Subianto namun di Pilpres 2019 tetap dukung Jokowi-Kiai Ma’ruf. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

MAGETAN, Barometerjatim.com – Pesantren Sabilil Muttaqien (PSM) Takeran, Kabupaten Magetan, Rabu (31/10) hari ini akan dikunjungi Calon Presiden (Capres) nomor urut dua, Prabowo Subianto.

Pengasuh PSM, KH Miratul Mukminin alias Gus Amik tidak mempermasalahkan kunjungan tersebut, karena pesantren memang harus menerima silaturahim siapapun. Tidak boleh menolak!

“Enggak ada masalah, tetapi kan sikap kita jelas (mendukung Jokowi-KH Ma’ruf Amin),” katanya pada Barometerjatim.com usai menerima kunjungan Khofifah Indar Parawansa dan pengurus pusat Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN), Selasa (30/10).

• Baca: Safari Politik di Mataraman, Khofifah-JKSN Dahului Prabowo

“Tadi di dalam bus (bersama rombongan JKSN) juga kita rapatkan, saya sampaikan apa adanya. Sama, setelah ini kan kita ke (Ponpes) Temboro, saya ngantar ke Temboro. (Hari ini) Pak Prabowo juga ke Temboro,” jelasnya.

Gus Amik menambahkan, ada masanya orang pesantren ditamui siapa saja tidak boleh menolak. Tetapi ketika dalam sikap politik, maka harus lebih jelas dan tidak mempengaruhi silaturahim dengan siapapun.

Sedangkan saat ditanya alasan memutuskan bergabung JKSN, Gus Amik menuturkan, kalau dirinya merasa ada ikatan kultural dan emosional yang kuat dengan Khofifah.

• Baca: Soepriyatno: Enggak Mungkin Prabowo Membunuh NU

“Apalagi sama-sama berjuang di Pilgub dan Pilkada lalu. Sehingga ketika bersama-sama mengajak, pasti saya akan membantu mereka semua (JKSN). Saya lihat, memang JKSN ini menjadi solusi paling efektif dan tepat ketika menghadapi era seperti sekarang ini,” tegasnya.

Tidak khawatir pesantren tua ini bakal terlalu jauh masuk ranah politik, terutama di Pilpres 2019?

“Saya pikir begini, politik di pesantren ini dalam arti kebangsaan. Tidak dalam arti kekuasaan praktis ya, tetapi dalam kegiatan-kegiatan yang mem-back up untuk menjelaskan kepada masyarakat apa yang memang perlu mereka ketahui,” katanya.

• Baca: Ketum JKSN: Barisan Mana yang Mau Digiring Gus Hasib

“Jadi tidak berebut kekuasaan seperti partai. Dengan demikian jati diri pesantren tetap terjaga, karena misi pesantren juga untuk kemaslahatan umat. Politik kebangsan kita itu ya ber-fastabiqul khairat, amar ma’ruf nahi munkar.”

Tapi bagaimana memisahkan antara sebagai pengurus JKSN dan pengasuh Ponpes? “Pesantren ini kan punya alumni, kita punya kegiatan-kegiatan dakwah dan pendidikan. Kita lihat JKSN ini kan jaringan yang kita perlu bersinergi, network bersama antarpesantren,” jelasnya.

Jika sinergitas itu baik, maka harus dilanjutkan dan dikembangkan. “Istilah saya itu Silprot, silaturahim produktif.  Silaturahim itu wajib. Kita tak ingin silaturahim biasa, tetapi ada sesuatu yang produktif, sehingga pesantren tidak tertinggal dengan lembaga non pesantren,” pungkasnya.

» Baca Berita Terkait: Khofifah, JKSN, Prabowo, Pilpres 2019