PPSDS Temukan Daging Sapi Impor Beredar Luas di Surabaya

Daging sapi impor diturunkan dari kontainer, beredar luas di Surabaya. | Foto: Ist/Ppsds
Daging sapi impor diturunkan dari kontainer, puluhan ton tiap hari beredar luas di Surabaya. | Foto: Ist

SURABAYA, Barometerjatim.com – Daging sapi impor beredar luas di sejumlah pasar tradisional di Surabaya. Hal itu diungkap Ketua Paguyuban Pedagang Sapi dan Daging Segar (PPSDS) Jatim, Muthowif.

Tak tanggung-tanggung, menurut Muthowif, memasuki masa Natal dan Tahun Baru, suplainya bertambah sangat banyak, mencapai satu kontainer (isi 20 ton) per hari.

“Itu sudah lama, cuma dua bulan belakangan ini suplainya tambah banyak. Kalau dulu dua kontainer satu minggu, belakangan satu hari satu kontener yang masuk,” katanya kepada Barometerjatim.com, Senin (24/12).

Awalnya, PPSDS menemukan kardus daging beku asal India dan Australia di sejumlah pasar. Setelah ditelusuri, peredaran daging impor itu benar adanya. Padahal, sesuai surat edaran gubernur Jatim ada larangan impor daging.

Menurut Muthowif, peredaran daging impor ini juga diperkuat dengan jumlah pemotongan sapi di Rumah Potong Hewan (RPH) yang menurun drastis.

Jika sepanjang 2010-2013 jumlah sapi yang dipotong rata-rata 300 ekor per hari, tahun ini jumlahnya menjadi 150 ekor per hari. Padahal konsumsi daging di Jatim masih sama dan jumlah penduduk terus bertambah.

“Berarti kan ada yang menyuplai kebutuhan daging segar selama ini. Pertanyaannya dari siapa?” katanya.

Minta Klarifikasi Disnak

Daging sapi impor diangkut terbuka dengan becak, beredar luas di pasar tradisional di Surabaya. | Foto: Ist
Daging sapi impor diangkut terbuka dengan becak, beredar luas di pasar tradisional di Surabaya. | Foto: Ist

Muthowif dan paguyubannya mengaku resah dengan kondisi ini. Sebab, daging beku asal India harganya jauh lebih murah dibanding daging segar lokal.

Dia mencontohkan harga karkas (daging yang belum dipisahkan dari tulang) yang baru dipotong antara Rp 86 ribu-87 ribu per kilogram. Itu pun butuh tambahan biaya untuk proses lepas tulang.

Bandingkan dengan daging beku asal India yang langsung siap jual dan dihargai lebih murah Rp 70 ribu per kilogram. “Jelas kami tidak bisa bersaing,” ujarnya.

Terkait temuan ini, PPSDS sudah menyurati Dinas Peternakan (Disnak) Jatim agar bisa mengklarifikasi. Berkaca dari pengalaman 2013, sempat ada bantahan terkait beredarnya daging sapi impor, namun setelah diselidiki akhirnya terbukti.

Muthowif berharap pekan depan pihaknya bisa berdialog dengan Disnak. “Kalau tidak ada klarifikasi, ya bisa saja kami turun ke jalan,” ujarnya. Sementara Kepala Disnak Jatim, Wemmi Niamawati belum bisa dikonfirmasi. •

» Baca Berita Terkait Pemprov Jatim, Disnak Jatim