Perempuan di Jatim Masih Dihantam Badai Kekerasan

Ilustrasi (Ist)

SURABAYA, Barometerjatim.com – Survei Komisi Nasional (Komnas) Perempuan mencatat, angka kekerasan terhadap perempuan sepanjang 2017 meningkat hingga 25 persen sebanyak 348.446 dari 259.150 kasus di 2016.

Dalam survei tersebut, Jawa Timur menempati urutan kedua di bawah DKI Jakarta. Jumlah kekerasan terhadap perempuan di provinsi yang dipimpin Gubernur Soekarwo ini sebanyak 1.536 kasus, DKI Jakarta 1.999 kasus dan Jawa Barat 1.460 kasus.

Karena itu bagi Cagub Jatim, Khofifah Indar Parawansa, Hari Perempuan Internasional menjadi moment untuk meneguhkan kembali komitmen bangsa, khususnya Jawa Timur untuk memaksimalkan perlindungan perempuan terhadap kekerasan.

• Baca: Hari Perempuan Internasional dalam 12 Kisah Google Doodle

“Saya rasa semua pihak harus turun tangan dalam mengangani persoalan kekerasan terhadap perempuan,” kata Khofifah usai menghadiri penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa kepada Dato Sri Tahir di Universitas Airlangga (Unair), Surabaya, Kamis (8/3).

Dari sisi pemerintah, lanjut Khofifah, harus diperkuat regulasi yang melindungi perempuan. “Aparat harus menindak tegas pelaku dan hukuman yang berat sebagai efek jera, serta membangun keberanian perempuan untuk bersuara apabila mengalami kekerasan,” paparnya.

Khofifah menuturkan, sejarah Internationl Women’s Day berawal dari cerita kakak beradik di New York yang teralienasi dari pekerjaanya. Bahkan keduanya nyaris bunuh diri sebelum terselamatkan.

• Baca: Kekerasan Perempuan dan Anak di Jatim Masih ‘Subur’

“Rupanya mereka teralienasi dari produk yang dihasilkannya, dari lingkungan dan seterusnya. Artinya ada kooptasi dari industri terhadap tenaga kerjanya saat itu,” terang Khofifah.

Maka, sesungguhnya, Hari Perempuan Internasional sangat punya kedekatan dengan upaya memberikan perlindungan terhadap tenaga kerja wanita. “Kita masih punya PR, bagaimana kesehatan reproduksi perempuan bagi perempuan yang bekerja di perkebunan maupun pertanian,” katanya.

Mereka yang bekerja di kebun sawit atau karet, misalnya, tengah malam sudah harus ke kebun untuk menyelesaikan satu hektare pekerjaan tanpa pengawalan dan pengamanan yang baik. “Kita bisa membayangkan kalau itu pada usia produktif,” katanya.

• Baca: Dari Surabaya, Yohana Ajak Putus Mata Rantai Kekerasan

Atau di sektor pertanian, beberapa pupuk tak cukup kondusif bagi reproduksi kesehatan perempuan karena ada yang sampai menyebabkan impotensi bagi perempaun. “Hal-hal seperti ini sering tidak terinformasikan dengan baik kepada para pekerja perempuan,” katanya.

Karena itu, bagi Indonesia dan khususnya Jatim, peringatan Hari Perempuan Internasional menjadi saat yang tepat untuk mendorong semua pihak memaksimalkan perlindungan terhadap perempuan, “Agar terhindar dari kekerasan, terutama kekerasan seksual,” tegas Khofifah.