Perangi ‘Predator Anak’, Khofifah Ajak Masyarakat Lebih Peka

LINDUNGI ANAK-ANAK: Cagub Khofifah Indar Parawansa bersama santriwati Ponpes Al Mimbar Jombang, beberapa waktu lalu. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
LINDUNGI ANAK-ANAK: Cagub Khofifah Indar Parawansa bersama santriwati Ponpes Al Mimbar Jombang, beberapa waktu lalu. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

SURABAYA, Barometerjatim.com – Maraknya kasus asusila di Jatim dengan korban anak-anak, terutama di lingkungan sekolah dengan pelaku oknum guru, menjadi perhatian serius Khofifah Indar Parawansa.

Karena itu, Cagub Jatim nomor 1 itu mengajak semua pihak untuk peduli dan peka terhadap lingkungan untuk mencegah serta memerangi ‘predator anak’ yang masih tinggi dan kian membahayakan.

“Semua pihak harus turun tangan dan berkewajiban dalam melindungi anak-anak dari kekerasan seksual,” katanya kepada wartawan di Surabaya, Rabu (7/3).

• Baca: KPAI: Anak Korban Kekerasan Seksual Potensial Jadi Pelaku

Dalam skala nasional, mengacu data Kementerian Sosial kasus kekerasan maupun pelecehan seksual terhadap anak tercatat 1.956 kasus selama 2016, dan meningkat menjadi 2.117 kasus selama 2017.

Di level Jatim, berdasarkan data Polda Jatim, kekerasan seksual terhadap anak di Jatim memang mengalami penurunan dalam dam dua tahun terakhir. Jika pada 2016 tercatat 719 korban anak dengan 179 pelaku, di 2017 menurun menjadi 393 korban anak dengan 6 pelaku.

Namun memasuki 2018 ada indikasi bakal terjadi kenaikan kembali. Catat! Hanya dalam tempo dua minggu selama Februari 2018, Polda Jatim menemukan 106 siswa menjadi korban pelecehan seksual di lingkungan sekolah dengan pelaku oknum guru.

• Baca: Kekerasan Perempuan dan Anak di Jatim Masih ‘Subur’

Di Kota Surabaya, oknum guru di sebuah SDIT berinisial MHS disangka mencabuli 65 siswanya. Lalu di Kabupaten Situbondo, oknum guru berinisial JM mencabuli sembilan siswa Kelas I dan II SD. Sementara di Kabupaten Jombang, oknum guru berinisial EA di SMP Negeri 6 diduga mencabuli 27 siswinya.

Belum lagi di luar lingkungan sekolah, seorang kakek berinisial ABD di Rungkut, Surabaya, mencabuli lima bocah tetangganya sendiri.

Tamparan Dunia Pendidikan

Menyoal kasus terbaru kasus asusila yang melibatkan 65 korban anak-anak, menurut Khofifah, hal itu menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan.

“Kasus predator dimana pelakunya seorang guru terhadap 65 anak-anak, ini merupakan tamparan keras bagi wajah pendidikan. Harus menjadi evaluasi guru dan orang tua mengapa hal ini bisa terjadi hingga kurun waktu yang panjang,” katanya.

Orang tua dan sekolah, lanjut Khofifah, harus saling bersinergi memerangi kekerasan anak demi memberi perlindungan terhadap anak-anak.

“Ini menurut saya karena kurangnya kepekaan terhadap lingkungan sekitar. Orang tua, guru, dan anak harus dilibatkan bersama-sama untuk memerangi kekerasan seksual terhadap anak,” tegasnya.

• Baca: Lindungi Perempuan-Anak, Tak Cukup dengan Penerbitan UU

Mantan Menteri Sosial itu menambahkan, orang tua juga memiliki andil besar untuk membentuk karakter seorang anak. Sebab, orang tua lah tempat utama anak-anak belajar yang dimulai sejak dini.

“Sehingga ketika anak sudah mulai bergaul di luar termasuk di lingkungan sekolah, mereka sudah punya upaya preventif sendiri saat menghadapi serangan tindakan asusila,” katanya.

Begitu pula lembaga pendidik, perlu memberi pengawasan terhadap guru baik perilaku terhadap rekan seprofesi maupun anak didik. “Maka apabila kejahatan itu terjadi di dalam lingkungan sekolah, sekolah itu harus dievaluasi,” ujarnya.

• Baca: Predator Anak di Sorong, Mensos: Pelaku Layak Dihukum Mati

“Dari sisi seleksi guru, pengawasan terhadap guru, dan keamanan siswa. Apalagi sebagian lokasi kejadian adalah di ruang kelas. Ini sungguh kenyataan yang membuat orang tua manapun pasti sangat sedih.”

Ke depan, ketua umum PP Muslimat NU tersebut berharap kejadian semacam ini jangan sampai terulang lagi. Harus dibangun sistem dimana orang tua, guru, dan anak-anak dan masyarakat sekitar untuk pencegahan.

“Saya mengajak seluruh pihak mengambil peran dalam upaya memerangi kekerasan seksual anak, karena pada dasarnya setiap orang adalah orang tua bagi anak-anak kita. Maka semua pihak harus turun tangan dan berkewajiban melindungi anak-anak dari kekerasan seksual,” tandasnya.