Pengamat: Kampanye Blusukan ke Pasar Efektif Dulang Suara

EFEKTIF DULANG SUARA: Khofifah saat blusukan di Pasar Ngopak, Pasuruan. Pola kampanye blusukan di pasar tradisional efektif dulang suara tapi butuh energi besar. | Foto: Barometerjatim.com/MARIJAN AP
EFEKTIF DULANG SUARA: Khofifah saat blusukan di Pasar Ngopak, Pasuruan. Kampanye blusukan ke pasar efektif dulang suara tapi butuh energi besar. | Foto: Barometerjatim.com/MARIJAN AP

SURABAYA, Barometerjatim.com – Hampir setiap hari, di setiap daerah yang dikunjungi, pasar tradisional menjadi salah satu titik lokasi kampanye Khofifah Indar Parawansa. Efektifkah pola kampanye ini untuk mendulang suara?

Pengamat politik Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Surochim Abdussalam menilai tren kampanye blusukan ke pasar tradisional, sejak naiknya Joko Widodo (Jokowi) mulai jadi gubernur DKI Jakarta hingga presiden, terbukti efektif dan bisa memberi makna lebih.

“Menyapa langsung dan bertemu muka, biasanya akan lebih kuat karena pemilih mulai butuh keaslian, butuh disapa langsung. Apalagi pemilih saat ini lebih kritis terhadap pencitraan,” katanya saat dihubungi Barometerjatim.com, Rabu (22/5).

Lewat blusukan ke pasar, menurut Surochim, bisa menujukkan kekuatan komunikasi secara personal. Namun calon juga dituntut memiliki energi prima karena pola kampanye model blusukan — apalagi ke pasar tradisional yang becek dan beraroma khas — sangat melelahkan.

• Baca: Sahur Bareng Driver Ojek Online, Khofifah Disuguhi Kejutan

“Memang melelahkan dan butuh energi lebih besar, tetapi biasanya akan lebih kuat tersimpan dalam memori otak limbik (yang mempengaruhi emosi, perilaku, memori jangka panjang) pemilih,” tambahnya.

Di sisi lain, tandas peneliti Surabaya Survey Center (SSC) itu, kampanye blusukan tetap harus dikreasi dengan pola penyapaan untuk pemilih milenial yang menjadi titik undecided voters.

Mereka ini pengkonsumsi media sosial yang lumayan besar, sehingga bisa menjadi lumbung suara jika bisa menariknya. “Kalau blusukan dikemas dalam strategi yang out of box, tetap bisa diakses para pemilih milenial,” tuturnya.

Ada Semagat dan Doa

Sementara bagi Khofifah, penyapaan di pasar tradisional membuat dirinya merasakan mendapat banyak semangat dan doa dari orang-orang yang tidak dikenalnya secara pribadi.

“Semangat dan doa itu luar biasa, karena terucap dari mereka yang saya tidak mengenal secara pribadi. Mereka biasanya mengenal saya melalui media,  tapi rupanya saya bersapa dan hati itu langsung melekat,” paparnya saat kunjungan di Pasar Taman, Sidoarjo, beberapa waktu lalu.

“Memang melelahkan dan butuh energi lebih besar, tetapi biasanya akan lebih kuat tersimpan dalam memori otak limbik.”

Lewat blusukan ke pasar, Khofifah juga banyak menyerap aspirasi yang ternyata tidak berubah dari pasar  satu ke yang lainnya. Selain itu, banyak problem di pasar tradisional yang perlu diperbaiki.

Mulai dari sebatas becek, aroma tak sedap, suasana tak convenience hingga gempuran pasar modern. Hal ini sekaligus bagian dari navigasi program pasangan Khofifah-Emil Dardak.