Ngabuburit, Mendadak Emil Jadi Koki Martabak di Pasar Kaget

EMIL NGABUBURIT: Cawagub Emil Dardak ngabuburit di pasar kaget Karang Menjangan, Surabaya, Rabu (23/5) sore. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
EMIL NGABUBURIT: Cawagub Emil Dardak ngabuburit di pasar kaget Karang Menjangan, Surabaya, Rabu (23/5) sore. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

SURABAYA, Barometerjatim.com – Menunggu waktu buka puasa, Selasa (22/5) sore, Emil Elestianto Dardak memilih ngabuburit di pasar kaget Karang Menjangan, Surabaya, yang menyediakan beraneka macam takjil.

Di tempat ini, rupanya Emil tak kuasa menahan diri dari kebiasaan lamanya, yakni makan di kuliner PKL dengan mengambil menu sendiri bahkan menjadi chef dadakan dengan mencoba membuat martabak mie kas Madura.

Sambil dipandu Afidah, pedagang martabak, layaknya koki profesional Emil langsung membuat adonan dan menggoreng martabak. “Sulit ya Pak, soalnya bapak biasa pegang bolpoin,” selorohnya.

• Baca: Emil: Wajah Baru Dolly Butuh Sentuhan Kreatif Pemuda

“Membuat martabak mie memang tidak mudah, saya saja belajar sepuluh tahun. Itupun tidak langsung bagus,” kelakar Afidah yang ditanggapi senyum bupati non aktif Trenggalek itu.

Emil merasa senang bisa ngabuburit bersama pedagang takjil, karena momen seperti ini mampu mendekatkannya dengan masyarakat. Kedekatan dengan masyarakat adalah cara untuk menyerap aspirasi secara langsung, sehingga dia banyak mendapatkan masukan untuk menyempurnakan kepemimpinannya.

“Ramadhan ini merupakan moment setahun sekali, dan saya punya sahabat yang tinggal di Karang Menjangan ini. Tentunya sangat seru sekali, karena di sini juga banyak mahasiswa maupun komunitas, seperti komunitas pendaki gunung,” papar Emil.

• Baca: Blusukan di Pasar Waru, Emil Sahur Bareng Pedagang

Tak hanya itu, dia menilai suasana ngabuburit menjadi sesuatu yang khas terutama bagi anak muda di Tanah Air.  Kesempatan seperti ini, kata tokoh yang dijuluki pemimpin milenial tersebut,  tidak datang dua kali.

Semua orang kumpul mencari menu khas untuk buka puasa. Hanya saja, lanjut Emil, kesemarakan ngabuburit jangan sampai mengurangi makna ibadah di bulan puasa.

Hal lain yang tak kalah penting dari fenomena ngabuburit, tambahnya, yakni bertemunya begitu banyak kreasi dan inovasi baru terutama bagi PKL dalam menjajakan menu-menu baru pilihan konsumen. “Ngabuburit ini sangat positif dan ada sharing ekonomi di sini,” tandasnya.