Libur Kampanye, Emil Ziarah ke Makam Leluhur di Nganjuk

ZIARAH: Para remaja mengerubuti Emil Dardak saat ziarah ke makam leluhurnya di Nganjuk, Sabtu (14/4). | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
ZIARAH: Para remaja mengerubuti Emil Dardak saat ziarah ke makam leluhurnya di Nganjuk, Sabtu (14/4). | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

NGANJUK, Barometerjatim.com – Libur nasional peringatan Isra’ Mi’raj, Sabtu (14/4) dimanfaatkan Cawagub Jatim nomor urut satu, Emil Elestianto Dardak untuk bersilaturahmi ke Desa Petak, Kecamatan Bagor, Kabupaten Nganjuk.

Di tempat ini, selain bersilaturahim bersama kerabat dan warga setempat, Emil juga menyempatkan berziarah ke makam leluhurnya, yaitu Mbah Karimun yang dalam sejarahnya merupakan salah satu penyebar agama Islam di Petak.

Sabdo Utomo, kepala Desa Petak yang masih memiliki hubungan darah dengan Emil menuturkan, Mbah Karimun adalah seorang pengikut Pangeran Diponegoro yang menyebarkan agama Islam kali pertama di Desa Petak.

• Baca: Berkat Emil, 80 Persen Kondisi Jalan di Trenggalek Kian Baik

Mbah Karimun memiliki banyak pengikut dan gugur ketika terjadi Perang Diponegoro pada 1825-1830. Pasca perang, sisa-sisa pasukan Mbah Karimun banyak yang menjadi penyebar agama Islam dan naib.

“Naib pertama di Desa Petak ini adalah leluhurnya Mas Emil, yaitu Mbah Karimun yang menjadi tokoh agama di Desa ini,” kata Sabdo.

“Sedangkan untuk H Dardak, nama mudanya adalah Mochammad Darmawan yang berada di Pondok Pesantren Mojosari dan ketika shalat Jumat sering datang ke mushala Petak ini,” imbuhnya.

Keluarga Kiai-Pejuang

SAMBUTAN HANGAT: Emil Dardak disambut hangat warga Nganjuk usai ziarah ke makam leluhurnya, Sabtu (14/4). | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
SAMBUTAN HANGAT: Emil Dardak disambut hangat warga Nganjuk usai ziarah ke makam leluhurnya, Sabtu (14/4). | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

Sementara Emil mengaku sangat senang bisa bertemu dengan saudara-saudaranya di Nganjuk. Menurut Emil, kakeknya Mochammad Darmawan atau biasa dipanggil Mbah Dardak menikah dengan wanita Trenggalek bernama Siti Mardiyah. Di Trenggalek Mbah Dardak menjadi naib dan guru agama.

Sedangkan Siti Mardiyah merupakan cicit dari Mbah Mesir, putra Syekh Yahudo Nogosari, Pacitan, penyebar agama Islam yang terkenal di Trenggalek.

“Kalau memang dirunut ada Mbah Tohir di Wates, kemudian Mbah Karimun dan Mbah Faturrohman yang masih sangat erat terkait. Semoga ini menjadi awal silaturahim dan bisa mempererat hubungan ke depannya,” pungkasnya.