Kiai Mustamar Lebih Dibutuhkan sebagai ‘Benteng Aswaja’

BENTENG ASWAJA: KH Marzuki Mustamar, perannya lebih dibutuhkan sebagai 'benteng Aswaja' ketimbang menjadi ketua PWNU Jatim. | Foto: IST
BENTENG ASWAJA: KH Marzuki Mustamar, perannya lebih dibutuhkan sebagai ‘benteng Aswaja’ ketimbang menjadi ketua PWNU Jatim. Minggu besok, peserta Konferwil akan memilih ketua tanfidziyah. | Foto: IST

SURABAYA, Barometerjatim.com – Selain Wakil Pengasuh Ponpes Tebuireng Jombang, KH Abdul Hakim Mahfudz alias Gus Kikin. Wakil Rais Syuriyah PWNU Jatim yang juga mantan ketua PCNU Kota Malang, KH Marzuki Mustamar juga disebut-sebut kandidat kuat ketua tanfidziyah PWNU Jatim.

Namun Pengasuh Ponpes Queen Al Azhar Darul Ulum, Rejoso, Peterongan, KH Zahrul Azhar As’ad (Gus Hans) menilai Kiai Mustamar lebih dibutuhkan di bidang dakwah sebagai ‘benteng’ penguatan Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

Eman, umat masih membutuhkan ceramah-ceramah beliau. Kehadiran Kiai Mustamar untuk menjelaskan kepada umat tentang Aswaja. Kalau beliau sampai fokus di manajerial (tanfidziyah), justru malah mengecilkan kiprah dakwah beliau,” papar Gus Hans.

• Baca: Sinyal Gus Hans: Duet Kiai Anwar-Gus Kikin Pimpin PWNU Jatim

Selama ini, Kiai Mustamar menjadi garda terdepan dalam mengawal Aswaja, termasuk menjadi benteng Nahdlatul Ulama (NU) dari gempuran-gempuran aliran lain. Gaya ceramahnya yang ‘membumi’ membuat materi yang disampaikan mudah dipahami kalangan Nahdliyin, terutama di level bawah.

“Kalau ada yang mau mengangkat Kiai Mustamar menjadi ketua PWNU, maka saya minta pertanggungjawaban dari mereka. Harus menunjukkan pengganti sekelas beliau, kan enggak ada. Jadi biarlah Kiai Mustamar tetap di tempat yang tepat,” jelas Gus Hans.

• Baca: ‘Debu’ Rivalitas Pilgub Jatim Bisa Berdesir di Konferwil PWNU

Minggu (29/7) besok, peserta Konferensi Wilayah (Konferwil) yang memiliki hak suara akan memilih ketua tanfidziyah. PWNU Jatim dipastikan akan memiliki ketua baru, karena KH Hasan Mutawakkil Alallah memutuskan tidak maju lagi.

Sementara untuk posisi rais syuriyah ditentukan lewat ahlul halli wal aqdi (Ahwa). Kandidat Ahwa diisi kiai sepuh dan kharismatik, di antaranya KH Nurul Huda Jazuli (Ploso), KH Nawawai Abdul Jalil (Pasuruan), KH Salahuddin Wahid (Jombang) KH Asep Saifuddin Chalim (Mojokerto) serta KH Machfud Maksum (Gresik).