Khofifah Sentil Basarah: Jangan Runtuhkan Wibawa Presiden!

PRESIDEN BAPAK BANGSA: Cagub Jatim, Khofifah Indar Parawansa dan Wasekjen PDIP, Ahmad Basarah. Jangan runtuhkan wibawa Presiden Jokowi. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
PRESIDEN BAPAK BANGSA: Cagub Jatim, Khofifah Indar Parawansa dan Wasekjen PDIP, Ahmad Basarah. Jangan runtuhkan wibawa Presiden Jokowi. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

SURABAYA, Barometerjatim.com – Cagub Jatim nomor 1, Khofifah Indar Parawansa tak ambil pusing dengan pernyataan Wasekjen DPP PDIP, Ahmad Basarah yang menyebut hubungannya dengan Presiden Jokowi selesai pasca mundur dari jabatan menteri.

Sambil tersenyum, Khofifah meminta semua pihak — termasuk Basarah — agar menjaga, bukan malah meruntuhkan wibawa presiden. “Itu tugas kita bersama. Pilkada tidak hanya di Jatim, tapi di 171 kabupaten/kota,” katanya usai kampanye blusukan di Pasar Kapasan, Surabaya, Selasa (6/3).

Menarik-narik presiden ke ranah Pilgub Jatim, menurut Khofifah, “Itu kurang elegan bagi saya. Jadi kasihan presiden. Jangan men-downgrade kewibawaan presiden dengan menarik-narik seperti itu,” tandasnya.

• Baca: Gus Hans Minta Wasekjen PDIP Tak Rongrong Wibawa Presiden

Khofifah juga tidak perlu banyak bicara untuk membuktikan dukungan Jokowi kepada dirinya. Secara eksplisit, hal itu bisa dilihat dari dukungan relawan Jokowi, di antaranya yang tergabung dalam Projo (Pro Jokowi) maupun Bara JP (Barisan Relawan Jokowi Presiden).

“Teman-teman Bara JP secara eksplisit sudah memberikan dukungan. What do you think? Projo sudah dulu, baru Bara JP. Pertanyaan saya: What do you think?” kata Khofifah, lagi-lagi sambil tersenyum.

“Tapi kan tidak harus dengan menarik-narik (presiden) begitu, gitu lho. Ini soal wibawa seorang presiden dan kelembagaan. Kecuali misalnya Pak Zulkifli Hasan, kehadiran beliau sebagai ketua umum PAN, bukan ketua MPR,” tambahnya.

• Baca: Kritik Emil-Arumi Hadir di CFD, Demokrat: PDIP Takut Kalah!

Ditanya seberapa dekat hubungannya dengan Jokowi sehingga membuat lawan politiknya seolah kelimpungan, Khofifah menceritakan bagaimana dulu mulai dipercaya menjadi juru bicara (jubir), kemudian masuk tim transisi hingga diberi amanat menjadi Menteri Sosial. “Di kementrian, alhamdulillah apresiasi beliau cukup tinggi,” katanya.

Karena itu, dalam situasi kontestasi di Pilkada yang cenderung memanas, kenegarawanan seseorang atau tokoh menjadi sangat menentukan untuk bisa menempatkan secara proporsional.

“Kita semua warga bangsa, ya beliau (Jokowi) bapak kita gitu. Ya (Basarah) nggak usah panik lah. Kita bismillah saja, kita berikhtiar maksimal, saling menghormati yang satu dengan yang lain,” tandasnya, sekali lagi, sambil tersenyum.