Gus Hans Minta Wasekjen PDIP Tak Rongrong Wibawa Presiden

JAGA WIBAWA JOKOWI: Gus Hans (dua dari kiri) saat mendampingi Khofifah silaturahim ke sejumlah pengasuh Ponpes Darul Ulum Jombang beberapa waktu lalu. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
JAGA WIBAWA JOKOWI: Gus Hans (dua dari kiri) saat mendampingi Khofifah silaturahim ke sejumlah pengasuh Ponpes Darul Ulum Jombang beberapa waktu lalu. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

SURABAYA, Barometerjatim.com – Juru Bicara (Jubir) Khofifah-Emil, KH Zahrul Azhar As’ad menanggapi enteng pernyataan ‘tendensius’ Wasekjen PDIP, Ahmad Basarah terkait dukungan Presiden Joko Widodo (Jokowi) terhadap paslon nomor 1 tersebut.

Kiai muda yang akrab disapa Gus Hans itu justru menyayangkan pernyataan Basarah,  yang seakan menyeret nama besar Jokowi untuk kepentingan parsial dalam Pilgub Jatim.

“Saya rasa statement tersebut tidak perlu ditanggapi berlebih. Lagi pula tidak ada hubungan antara presiden dengan proses politik yang lagi bergulir,” katanya kepada wartawan, Senin (6/3).

“Tidak hanya di Jawa Timur, tapi di seluruh wilayah Indonesia yang tahun ini menyelenggarakan Pilkada serentak,” tambah pengasuh Ponpes Queen Al Azhar Darul Ulum Jombang tersebut.

• Baca: Bawa Nama Jokowi, Pengamat: PDIP Tak Pede Gus Ipul-Puti

Sebelumnya, Basarah mengatakan sejak Khofifah tidak lagi menjabat menteri, maka hubungan politik dengan Jokowi sudah putus. Sementara di Pilgub Jatim 2018, kata Basarah, PDIP sudah meramu paket kampanye termasuk untuk Pilpres 2019: Saifullah Yusuf-Puti Guntur bersama dengan Jokowi.

Namun, menurut Gus Hans, satu-satunya kepentingan Jokowi dalam gelaran Pilkada serentak tidak lain bagaimana proses Pilkada berjalan sesuai jadwal, aman dan lancar. Sedangkan soal hasil, Jokowi menyerahkan seluruhnya kepada rakyat agar kualitas demokrasi terus meningkat.

“Ada baiknya kita semua tetap menjaga wibawa presiden. Jangan sebaliknya, merongrong dengan kepentingan parsial Pilkada. Saya sendiri sangat yakin Presiden Jokowi ada di posisi netral dan sangat menghormati proses demokrasi yang tengah berjalan, dan tidak berniat untuk cawe-cawe (ikut campur),” tuturnya.

Stop Catut Nama

Gus Hans menambahkan, saat ini Pilgub Jatim telah memasuki masa kampanye. Bukan lagi tentang siapa mendukung siapa maupun kendaraan apa yang dipakai untuk melaju dalam putaran Pilkada.

Karena itu, isu paling tepat dibicarakan adalah soal prestasi, rekam jejak, ide, gagasan, kapasitas, program, rencana-rencana k edepan untuk Jawa Timur oleh semua kandidat.

• Baca: Ketum PPP: Jatim Terlalu Besar Dipimpin Gubernur Cengengesan

“Ketergantungan kandidat terhadap dukungan presiden memperlihatkan lemahnya rasa percaya diri dari calon tersebut terhadap kekuatan, konsepsi dan kapasitas dari pasangan maupun tim untuk mandiri dalam merebut hati dan pikiran konstituen,” tuturnya.

“Mari berkompetisi dengan sama-sama percaya diri, tidak perlu mencatut nama-nama besar yang justru akan mendegradasi value seseorang, baik yang sudah almarhum maupun yang sedang aktif mengabdi untuk negeri ini. Rakyat sudah cerdas memilah mana yang berkualitas dan mana yang modal ‘garis ke atas'” tuntasnya.